Strategika!

Kiat Menyelesaikan Pendidikan Doktor Manajemen Bisnis di IPB

Posted in Pencerahan by efendi arianto on April 22, 2011


Sumber gambar: eurojournals.com

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Apr 22, 2011. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

Tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya menempuh pendidikan doktoral di program Doktor Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor (DMB IPB). Saya tercatat sebagai mahasiswa DMB IPB angkatan ke-2, memulai perkuliahan pada awal tahun 2007 dan dinyatakan lulus ujian akhir disertasi dalam ujian terbuka pada akhir tahun 2010. Saya memilih DMB IPB (dan bukan program serupa di universitas lainnya) karena dua alasan: (1) bisa saya lakukan secara paruh waktu tanpa meninggalkan kewajiban bekerja saya sebagai praktisi manajemen di salah satu perusahaan di Jakarta, dan (2) kegiatan pendidikan DMB IPB dilaksanakan pada hari Sabtu, di Bogor, yang hanya berjarak tempuh satu jam berkendara dari Jakarta. Ketika saya memutuskan untuk mengikuti pendidikan doktoral di DMB IPB, saya telah bekerja sebagai praktisi manajemen pada beberapa perusahaan selama lebih dari 15 tahun. Selama itu pula saya berada jauh dari dunia ilmiah akademik. Kondisi ini membuat saya memerlukan upaya tambahan untuk “kembali” kepada kehidupan ilmiah akademik, dan konsekuensinya adalah tidak mempunyai kesiapan yang memadai untuk dapat menyelesaikan studi tepat waktu (Program DMB IPB dirancang untuk dapat diselesaikan dalam enam semester).

Saya perhatikan banyak peserta program doktoral di DMB IPB yang berlatar belakang bisnis praktis, yang juga jauh dari dunia ilmiah akademik. Saya harap, tulisan saya ini dapat menginspirasi mereka yang berniat menempuh pendidikan doktoral (di DMB IPB) agar dapat menjalaninya dengan lebih efektif. Diperlukan ketekunan, kesabaran dan keuletan luar biasa untuk menempuh pendidikan doktoral, apalagi yang melakukannya secara paruh waktu seperti saya. Gagal dalam pendidikan doktoral berarti menyia-nyiakan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Sayangnya tidak ada resep manjur yang dapat diberikan, karena setiap mahasiswa doktoral akan menghadapi rintangannya masing-masing yang bersifat unik.

Sebenarnya pendidikan doktoral dirancang untuk mereka yang berkecimpung dalam dunia akademik, penelitian, konsultansi dan penentu kebijakan, bukan dimaksudkan untuk mendidik para manajer dan eksekutif di bidang manajemen dan bisnis. Belum ada kajian yang menunjukkan apakah mereka yang berlatarbelakang pendidikan doktoral lebih mumpuni dalam bidang praktis manajemen dan bisnis. Namun demikian berbagai universitas menawarkan program doktoral dalam bidang manajemen dan bisnis yang diperuntukkan bagi para praktisi manajemen dan bisnis.

Di Indonesia, program pendidikan doktor dalam bidang manajemen dan bisnis (DMB) setidaknya ditawarkan oleh Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Program DMB sebenarnya merupakan elevasi dari program Magister Manajemen (MM) yang banyak ditawarkan oleh berbagai universitas. Sebagaimana pada program MM, program DMB juga dimaksudkan untuk membekali para praktisi manajemen dan bisnis dengan pendidikan manajemen dan bisnis. Di UNPAD dan IPB, program ini merupakan program “akhir pekan” karena kegiatan perkuliahan dilakukan pada akhir pekan. Program “akhir pekan” serupa juga ditawarkan oleh Universitas Indonesia (UI) untuk program Doktor Manajemen yang dilaksanakan di kampus Salemba (perkuliahan dilaksanakan pada hari Jumat dan Sabtu).

Karena dilakukan pada akhir pekan, jelas bahwa program ini disediakan bagi para profesional yang sehari-hari berkecimpung dalam dunia manajemen dan bisnis. Itu sebabnya, kebanyakan peserta program doktoral manajemen dan bisnis adalah pelaku manajemen dan bisnis yang sehari-hari sibuk sebagai eksekutif di berbagai perusahaan dan organisasi. Namun demikian, sekalipun dilaksanakan secara paruh waktu, ternyata program DMB IPB tetap harus memenuhi semua persyaratan pendidikan doktoral reguler yang dikeluarkan oleh Sekolah Pascasarjana IPB. Termasuk dalam hal ini adalah batas maksimum masa tempuh pendidikan yaitu selama 5 tahun.

Pendidikan doktoral di DMB IPB dirancang dengan kegiatan kuliah pendalaman untuk berbagai mata kuliah yang (diharapkan) nantinya dapat membantu mahasiswa untuk mampu melakukan penelitian dan penulisan disertasi secara mandiri. Kuliah pendalaman ini dilakukan selama tiga semester, terdiri atas mata kuliah kelompok manajemen dan bisnis, serta mata kuliah kelompok penelitian manajemen (Referensi berharga mengenai pendidikan pascasarjana dan pendidikan doktor yang ditulis oleh Prof. Sitanala Arsyad dapat dibaca di sini.).

Selama kegiatan perkuliahan, bagi sebagian mahasiswa, kegiatan perkuliahan di kelas dengan berbagai penugasan akademik bisa dirasakan sebagai refreshing di akhir pekan yang menyenangkan, setelah sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan rutin di kantor dari hari Senin hingga Jumat. Tetapi, rupanya, kegiatan perkuliahan yang berlangsung selama tiga semester itu sebenarnya hanya merupakan “kegiatan penyegaran dan pendalaman” saja. Mungkin tidak sampai 25% mendukung langsung pada esensi kegiatan penelitian yang perlu dilakukan sebagai dasar untuk menulis disertasi.

Euforia perkuliahan ini bisa menjebak, karena tidak akan ada artinya jika memperoleh nilai kuliah “A” untuk semua mata kuliah, tetapi tidak berhasil menjalankan penelitian dan penulisan disertasi dengan efektif. (Catatan: ketika sudah lulus pendidikan doktoral, tidak akan ada yang menanyakan kepada kita berapa indeks prestasi akademik doktoral kita.)

Masa perkuliahan yang tiga semester itu seharusnya juga dipergunakan untuk mempersiapkan proposal disertasi. Itu tidak berhasil saya lakukan dengan baik. Saya memerlukan waktu tambahan untuk menyiapkan proposal disertasi, melakukan studi literatur, mengembangkan model, serta mempelajari metode, alat dan teknik penelitian. Akibatnya, saya baru bisa melakukan ujian proposal disertasi satu tahun setelah masa perkuliahan selesai.

Seharusnya, ketika masa perkuliahan selesai, proposal disertasi sudah siap diujikan. Idealnya, secara total, kegiatan penelitian dan penulisan disertasi dapat diselesaikan dalam waktu tiga semester, sehingga total dengan masa perkuliahan, pendidikan doktoral dapat diselesaikan dalam waktu enam semester. Beberapa mahasiswa yang berlatarbelakang dunia riset dan akademik (sehingga terbiasa dengan aktivitas penulisan ilmiah) mampu melakukannya dan berhasil lulus dalam enam semester.

Jangan mengharapkan adanya pembimbingan intensif dari para pembimbing, karena penelitian doktoral dianggap sebagai penelitian mandiri. Tugas pembimbing memang untuk menjaga dan memastikan kita berada dalam koridor yang disyaratkan. Itu sebabnya, menginformasikan perkembangan penelitian secara rutin kepada pembimbing menjadi aktivitas krusial. Sepanjang kita bisa meyakinkan pembimbing terhadap apa yang kita kejakan, maka mereka akan mendorong kita untuk meneruskan tahapan penelitian. Jika tidak, mereka akan memberikan alternatif dan pandangan lain. Kegiatan Sidang Komisi harus dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan ini.

Selama empat tahun masa perkuliahan dan penelitian, waktu akhir pekan hampir sepenuhnya saya manfaatkan untuk aktivitas akademik yang terkait dengan penelitian dan penulisan naskah disertasi. Saya ingat salah satu Profesor menyampaikan dalam salah satu sesi perkuliahan, bahwa ketika melakukan penelitian doktoral, bahkan pada saat tidurpun, mimpi yang muncul haruslah mengenai topik penelitian disertasi kita … :-D.

“Kegiatan Penelitian” adalah aktivitas yang relatif asing bagi kebanyakan praktisi manajemen dan bisnis. Ketika perkuliahan selesai, banyak mahasiswa yang “merasa sudah lulus” dan tidak tahu harus melakukan apa, karena sudah tidak ada lagi jadwal kuliah dan tugas yang harus dikumpulkan pada tanggal tertentu. Semuanya terserah pada mahasiswa masing-masing. Karenanya tidak heran jika ada beberapa mahasiswa yang hingga dua tahun setelah masa perkuliahan selesai belum juga mengajukan proposal disertasi. Fenomena ini persis sama seperti yang diamati oleh Profesor Matt Might dari Universitas Utah, yang mengatakan:

“To escape with a Ph.D., you must meaningfully extend the boundary of human knowledge. More exactly, you must convince a panel of experts guarding the boundary that you have done so. You can take classes and read papers to figure out where the boundary lies. That’s easy. But, when it comes time to actually extend that boundary, you have to get into your bunker and prepare for the onslaught of failure. A lot of Ph.D. students get depressed when they reach the boundary, because there’s no longer a test to cram for or a procedure to follow. This is the point (2-3 years in) where attrition peaks.”

Saya belum pernah menemukan hasil penelitian yang memberikan gambaran mengenai tingkat kegagalan mahasiswa yang menempuh pendidikan doktoral di Indonesia. Profesor Might menyebutkan bahwa tingkat kegagalan pendidikan doktoral di berbagai universitas adalah tinggi, berkisar antara 30-50 persen. Beberapa hasil survey di Amerika Serikat menyebut angka sekitar 40-50 persen. Angka attrition rate tersebut jelas berbeda dengan pendidikan pada tingkat sarjana dan master yang tingkat kegagalannya relatif sangat kecil. Data dan informasi lain mengenai tingginya tingkat kegagalan pada program doktoral dapat dibaca pada tautan berikut:

Doctor Dropout, High attrition from Ph.D. programs is sucking away time, talent, and money and breaking some hearts, too.

Gleaning the Chaff: New Studies Report High Attrition Rates in Graduate History Programs

Hope on Ph.D. Attrition Rates — Except in Humanities

Challenges for History Doctoral Programs and Students: Rising Admissions and High Attrition

Ketika dinyatakan lulus ujian akhir disertasi dalam sidang terbuka (final dissertation defense), saya berada di semester ke delapan sejak terdaftar masuk di program DMB IPB. Dalam catatan saya, saya termasuk salah satu dari 14 mahasiswa DMB IPB angkatan 1 dan 2 yang berhasil lulus dalam delapan semester. Jumlah mahasiswa DMB IPB angkatan 1 dan 2 adalah 54 mahasiswa, dengan demikian, hanya sekitar 26% dari mahasiswa yang berhasil lulus dalam kurun waktu 4 tahun sejak memulai perkuliahan. Sebenarnya DMB-1 memulai perkuliahan beberapa bulan lebih cepat dari DMB-2, jika ini diperhitungkan, tentu persentasenya menjadi lebih kecil dari 26%. (Catatan: hingga batas akhir waktu pendidikan 5 tahun, attrition rate (tingkat kegagalan) dari mahasiswa DMB IPB untuk 3 angkatan pertama secara total adalah sekitar 35%; kegagalan ini disebabkan oleh berbagai alasan, baik yang bersifat akademik maupun non-akademik).

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan mahasiswa doktoral gagal menyelesaikan pendidikannya. Ada banyak tulisan yang dapat dibaca di internet yang membahas masalah ini. Dari berbagai tulisan yang saya temui, saya paling menyukai paparan yang disampaikan oleh Profesor Might, karena gaya bahasanya yang serius tapi santai, dan juga karena paling sesuai untuk menggambarkan kondisi dan pengalaman yang saya miliki.

Pendapat Profesor Might (yang saya amini) mengenai faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan menempuh pendidikan doktoral, ada pada link berikut:

http://matt.might.net/articles/ways-to-fail-a-phd/

Dengan kata lain, diperlukan kunci sukses keberhasilan untuk dapat menyelesaikan pendidikan doktoral. Saya juga menyetujui apa yang disampaikan oleh Profesor Might pada link berikut:

http://matt.might.net/articles/successful-phd-students/

Pertanyaan yang sering diajukan oleh mahasiswa baru program doktor adalah, “Sebenarnya Doktor itu apa sih?”, dan sekali lagi saya setuju dengan pendapat Profesor Might yang dideskripsikan secara visual pada link berikut:

http://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/

Jika saya bisa kembali kepada masa-masa awal saya menjalani pendidikan doktoral, maka saya akan mencermati semua hal yang disampaikan oleh Profesor Might di atas. Setidaknya, saya yakin akan dapat melalui tahapan pendidikan doktoral saya dengan lebih efektif.

Beberapa nasehat bijak yang pernah saya terima dan saya ikuti selama menyelesaikan pendidikan doktoral, antara lain adalah:

Setidaknya pada satu tahun pertama sudah harus melakukan hal-hal berikut:

1. Menentukan bidang minat penelitian, pilihlah bidang yang memang diminati dan dikuasai. Cari tahu teknik analisis yang diperlukan, kuasai metode riset-nya, pelajari dan kuasai alat bantu (software) yang diperlukan untuk analisis. Dan jangan lupa: pastikan data penelitian tersedia, apakah bersifat primer dan/atau skunder.

2. Kaitkan semua penugasan perkuliahan dengan bidang minat. Banyak penugasan yang bersifat “paper review”, pilihlah berbagai paper yang terkait dengan minat penelitian, ini akan sekaligus merupakan bagian dari persiapan atau penyempurnaan penyusunan proposal disertasi. Beberapa pembimbing mensyaratkan dilakukannya paper review terhadap setidaknya 100 paper terkait dengan bidang penelitian, untuk keperluan penyusunan proposal penelitian.

3. Carilah satu disertasi yang dapat ditiru metode dan teknik penulisannya. Gunakan sebagai referensi dasar untuk kemudian dikembangkan dan diperkaya sebagai proposal disertasi dan naskah disertasi sesuai topik penelitian. Akses terhadap database karya ilmiah di berbagai universitas di luar negeri disediakan oleh DMB IPB, antara lain melalui Pro-Quest. Atau bisa juga melihat berbagai disertasi yang tersedia di perpustakaan digital beberapa universitas ternama di Indonesia, yang link-nya ada di sini.

4. Jangan lupa untuk juga mempelajari tata cara penulisan ilmiah yang berlaku di IPB. Salinan elektronis Pedoman Penulisan Karya Ilmiah IPB dapat diunduh dari laman berikut http://ppki.ipb.ac.id/

Selama proses penelitian dan penulisan disertasi:

1. Sekalipun topik penelitiannya sederhana, usahakan bahasan disertasi dilakukan secara mendalam dan komprehensif. Satu naskah disertasi itu setara dengan tiga buah tulisan layak muat di jurnal akademik. Kata salah satu dosen saya, jika Skripsi S-1 itu bisa diibaratkan menghitung “1 + 1 = 2”, Tesis S-2 diibaratkan menjelaskan mengapa “1 + 1 = 2”, maka Disertasi S-3 dapat diibaratkan sebagai melakukan analisis dan sintesis untuk menjelaskan dan menarik kesimpulan, seandainya “1 + 1 = 11”.

2. “Apakah topik penelitian saya layak dijadikan sebagai penelitian disertasi?” adalah pertanyaan yang sering membuat ragu mahasiswa doktoral. Pada dasarnya, sepanjang komisi pembimbing menyatakan itu layak, maka ya- “layak”. Dalam perjalanan, terutama pada saat melakukan seminar hasil, kadang muncul pertanyaan dan komentar yang agak konyol dari beberapa “mahasiswa yunior”, “Kok topiknya sederhana sekali?”, “Kok novelty-nya hanya seperti itu?”. Abaikan saja. Baca lagi tulisan dan ilustrasi Prof. Matt Might mengenai “phd-school-in-pictures” di atas. Penelitian disertasi doktoral memang tidak dimaksudkan untuk mendapatkan hadiah nobel.

3. Ikuti dan patuhi semua arahan pembimbing. Merekalah yang akan menentukan apakah kita layak untuk dinyatakan lulus menjadi Doktor atau tidak. Jaga hubungan baik dengan para pembimbing. Perlu dipahami bahwa mereka adalah juga orang-orang dengan jadwal yang sangat sibuk, karenanya dibutuhkan strategi dan perjuangan tersendiri untuk bisa selalu berkomunikasi dengan para pembimbing. FYI, terkadang, para pembimbing juga suka menguji kita mengenai hal-hal yang bersifat non teknis :-). Mungkin karena penelitian doktoral dan penulisan disertasi tidak semata-mata “menyusun laporan penelitian”, tetapi juga merupakan ajang pelatihan kegiatan penelitian sains yang memerlukan teamworking yang baik (ref: Frank Gannon’s What is a PhD?)

4. Perhatikan dan cermati semua persyaratan yang diperlukan pada setiap tahapan pendidikan. Jangan meremehkan sesuatu, hal-hal kecil bisa berakibat penyia-nyiaan waktu (dan dana tentunya …).

5. Akan ada banyak rintangan, tantangan dan hambatan, baik yang bersifat teknis maupun non teknis, yang bisa membuat frustrasi. Untuk itu teruslah jaga motivasi, dan jangan pernah patah semangat.

Semoga mencerahkan.

Favorite quote:

“Whenever I felt depressed in grad school–when I worried I wasn’t going to finish my Ph.D.–I looked at the people dumber than me finishing theirs, and I would think to myself, if that idiot can get a Ph.D., dammit, so can I.” – Matt Might

Ilustrasi di bawah ini hanya untuk intermezzo saja … :-D


Sumber gambar: http://www.cs.nyu.edu

59 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Riswan E Tarigan said, on May 7, 2011 at 11:17 am

    Great information. Terima kasih, Mas Efendi.

  2. koko said, on September 16, 2011 at 12:59 am

    Dr. Efendi, nampaknya saya perlu mendapat penjelasan langsung mengenai gambar intermezo di atas.

    Thanks

  3. Jesaya Pinem said, on December 3, 2011 at 6:35 pm

    Sharing pengalaman dan informasi yang luar biasa. Terima kasih banyak, Dr. Efendi

  4. Achmad Hattaachmad said, on December 15, 2011 at 9:31 am

    Informasi yang semakin meningkatkan motivasi saya untuk menempuh program Doktor Manajemen di IPB, UI atau Unpad….(semoga tercapai)…

    • efendi arianto said, on May 28, 2013 at 2:08 am

      Terimakasih Pak Achmad. Semoga cita-cita anda untuk menempuh pendidikan doktoral dapat segera terwujud …

  5. alex ginting said, on March 15, 2012 at 10:00 am

    saat memberikan referensi apakah memang dari praktisi juga ato dari akademisi yah ?

  6. Donny Oktavian Syah said, on March 28, 2012 at 4:04 am

    Ulasan yang menarik…semoga bisa menular kepada saya Pak…salam kenal Pak :)

    Donny Oktavian Syah
    http://www.manuverbisnis.wordpress.com

  7. ricky alfanda said, on July 19, 2012 at 2:34 pm

    Terima kasih atas reviewnya pak. Bisa memberi motivasi dan inspirasi bagi kita semua untuk menempuh program doktor manajemen bisnis

    • efendi arianto said, on May 28, 2013 at 2:07 am

      Terimakasih kembali. Semoga cita-cita anda untuk menempuh pendidikan doktoral dapat terwujud …

  8. Sasongko said, on January 7, 2013 at 12:12 pm

    Saya tahun 1999 kuliah S3 di PPIM FEUI sembari bekerja, akhirnya kena DO. Tahun 2007 saya test dan kuliah lagi di S3 PPIM FEUI. Karena hanya kuliah saja tanpa ada aktivitas lain, gelar doktor di bidang Manajemen Keuangan saya peroleh tahun 2010. Teman seangkatan dan senior yang kuliah sembari bekerja, semuanya kena DO….Pengalaman Kuiiah di FEUI tidak mungkin dapat gelar doktor jika kuliah sembari bekerja.

    • efendi arianto said, on February 20, 2013 at 6:19 am

      Anda salah. Saya kenal beberapa teman yang berhasil menyelesaikan program doktoral mereka di FE-UI secara paruh waktu sambil tetap bekerja. Setahu saya orang-orang ternama semacam Ibu Mooryati Soedibyo (Owner Mustika Ratu) maupun Pak Handry Satriago (PresDir GE Indonesia) juga menyelesaikan program doktoral mereka di FE-UI sambil tetap sibuk dengan pekerjaan profesional mereka. Demikian pula Rizal Edwin Manangsang, penyanyi personil Trio Libels yang lebih dikenal sebagai Edwin Libels, juga menyelesaikan pendidikan doktor di FE-UI sambil tetap aktif bekerja di Departemen Keuangan, bahkan dia mengakui bahwa tidak gampang bisa menyelesaikan kuliah doktoral sambil bekerja. Saya kira persoalannya bukan masalah kuliah sambil bekerja (dilakukan secara part-time) atau tidak sambil bekerja (dilakukan secara full-time). Tetapi lebih pada apakah kita memang memiliki kemampuan, kemauan dan komitmen yang memadai untuk secara serius melakukan dan menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasi.

  9. thomas said, on February 27, 2013 at 8:54 am

    Pak Efendi, ulasan bapak sangat menginspirasi dan melecut semangat saya untuk lanjut S.3. Sebenarnya tepat/tidaknya waktu penyelesaian kerja tergantung komitmen pribadi. Saya terseok-seok menyelesaikan S.2 selama 3 tahun (sembari aktif sbg karyawan)
    Mohon sharingnya, berapa biaya yang diperlukan untuk program doktor di IPB? Bagaimana pula dng beasiswa? karena mayoritas beasiswa dikhususkan u/ calon dosen or dosen. Terima kasih

  10. jerry said, on March 20, 2013 at 8:18 am

    kuliah S3 menurut saya sangat menyenagkan, karena kita ketemu dengan teman-teman yang sudah “mapan” dalam hal berpikir (rata-rata diatas 30 tahun), meski seharian dari pagi sampai malam di kampus….setiap pertemuan harus mempresentasikan tugas…..tapi tetap saja menyenagkan. Namun, sayang seribu sayang….gara-gara gw tugas kantor ke luar negeri berbulan-bulan akhirnya gw mundur. tapi, gw tetap berharap bisa kembali ke kampus menempuh pendidikan doktoral…..

    • efendi arianto said, on May 28, 2013 at 2:04 am

      Anda benar Pak Jerry. Terutama jika kita memang menyukai aktivitas ilimiah akademik. Semoga anda bisa segera kembali ke kampus dan menuntaskan “unfinished duty” tersebut … :-D

  11. akhmadfarhan said, on June 7, 2013 at 12:24 am

    Terima kasih untuk sharingnya Pak, Alhamdulillah bisa menambah informasi dan motivasi buat saya. Insya Allah saya akan kuliah di S3 manajemen bisnis IPB tahun ini. Mungkin nanti bisa minta saran dan konsultasi dengan Bapak.

  12. efendi arianto said, on June 8, 2013 at 4:25 pm

    Terimakasih kembali Pak. Semoga perjalanan Bapak dalam menempuh pendidikan S3 di MB IPB dapat berjalan lancar …

  13. riandan said, on July 8, 2013 at 2:30 am

    Reblogged this on Riandan.

  14. Jaka T. said, on December 18, 2013 at 7:10 am

    Pak, tulisannya bagus, terutama untuk referensi bagi para mahasiswa S3 di IPB maupun di universitas lainnya

    Saya ingin menambahkan hal “non teknis” yang mungkin juga perlu menjadi perhatian para mahasiswa maupun pihak IPB.

    Saya punya pengalaman menjalani ujian disertasi dalam sidang terbuka yang dilaksanakan di Ruang Sidang Lantai 6, Gedung Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Darmaga.

    Ketika saya menjalani ujian terbuka di sana, saya merasa, para karyawan IPB yang bertanggungjawab terhadap kesiapan ruang sidang (ada 5-6 orang) sepertinya berharap memperoleh “uang lelah” karena sudah membantu menyiapkan ruang sidang. Menurut saya, sudah menjadi tugas mereka untuk menyiapkan sound-system dan perangkat presentasi. Sebuah pekerjaan biasa-biasa saja, dan menurut saya tidak perlu dilakukan oleh 5-6 orang.

    Kesan ini saya dapat karena mereka menyampaikan langsung kepada saya sebelum sidang “Pak, kami semua di sini stand-by untuk menyiapkan ruang ujian ini …”, ataupun secara tidak langsung, yang kebetulan saya mendengarnya setelah acara sidang selesai, “Eh- tadi ada bagi-bagi nggak?” kata seorang karyawan, yang kemudian dijawab oleh karyawan lainnya: “Enggak, boro-boro, cuma dapat ini”, sambil menunjukkan kotak snack yang dibawanya.

    Mungkin mereka berharap mahasiswa akan berbagi suka cita ketika dinyatakan lulus dengan membagi-bagikan “uang lelah”. Apalagi pada banyak kasus, sidang terbuka memang dilakukan layaknya sebuah hajatan besar. Sementara dalam kasus saya, ketika menjalani sidang terbuka, saya hanya didampingi istri saya. Undangan lainnya yang hadir adalah para mahasiswa S3 di IPB, yang memang diwajibkan menghadiri sidang terbuka dalam jumlah tertentu.

    Mungkin sebaiknya IPB membuat aturan yang jelas mengenai hal ini.

    Jika memang diperlukan adanya “biaya hajatan” untuk menjalani sidang terbuka, ya ditentukan saja besaran biayanya. Kalau perlu diatur “kelas hajatan”-nya. Dan diumumkan secara terbuka, supaya semua mahasiswa yang akan melakukan ujian terbuka mengerti dan menyiapkan.

    Tetapi jika memang tidak ada “biaya hajatan” tersebut, maka IPB juga harus tegas mengatur para karyawan yang bertugas di ruang sidang agar “tidak mengharapkan sesuatu” dari mahasiswa yang menjalani ujian terbuka.

    • efendi arianto said, on December 24, 2013 at 8:06 am

      Kalau di universitas lain, Ujian Terbuka memang bersifat promotif, sebuah deklarasi bahwa ybs akan menjadi seorang doktor. Karenanya, biasanya dilakukan selayaknya sebuah hajatan. Sedangkan di IPB, Ujian Terbuka sifatnya tidak promotif, sekedar sebuah ujian yang kebetulan boleh dihadiri oleh siapa saja. Kalau tidak ada yang menghadiri, sepanjang team penguji dan mahasiswa yang diuji hadir, ya tetap sah ujiannya. Sebagaimana sifat sebuah ujian, hasilnya ya- bisa lulus, bisa tidak. Karenanya, menurut saya, kalau seorang mahasiswa IPB melakukan Ujian Terbuka dengan gaya hajatan, kok resikonya tinggi ya … Malu kan kalau tidak lulus … He-he-he …:-D.

      Kebetulan saya juga menjalani sidang ujian akhir disertasi dalam ujian terbuka di tempat yang sama; Mungkin karena saya terlalu stress saat menghadapi ujian, sehingga tidak sempat memperhatikan dan mempedulikan hal-hal non teknis yang terjadi … :-D.

  15. Sukemi Kadiman said, on January 13, 2014 at 9:18 am

    Pak Efendi Arianto, terima kasih sharing Anda mengenai Kiat Menyelesaikan Pendidikan Doktor Manajemen Bisnis di IPB. Hal ini menjadi inspirasi dan masukan bagi saya yang pada saat ini juga bekerja sebagai profesional di Jakarta sambil menyelesaikan kuliah Program Doktor Manajemen SDM di Universitas Negeri Jakarta. Saat ini sedang menyusun proposal disertasi. Diperlukan motivasi yang kuat dari diri mahasiswa untuk lebih mandiri dan proaktif untuk menyelesaikan tugas disertasi. Salah satu misalnya untuk bisa berjumpa dengan dosen pembimbing yang sangat sibuk memerlukan perjuangan dan kesabaran tersendiri.

    Rekan-rekan saya pada program doktoral di UNJ ada yang berlatar belakang bisnis praktis, tenaga kependidikan, politik praktis, militer, dan pemerintahan yang jauh dari dunia ilmiah akademik. Hal yang sangat menyenangkan bisa bergaul dengan rekan-rekan dari berbagai latar belakang akan memperkaya wawasan. Saya harap, tulisan saya ini dapat menginspirasi mereka yang berniat menempuh pendidikan doktoral dimanapun agar dapat menjalaninya dengan lebih efektif. Diperlukan ketekunan, kesabaran dan keuletan luar biasa untuk menempuh pendidikan doktoral, apalagi yang melakukannya secara paruh waktu seperti saya juga. Gagal dalam pendidikan doktoral benar berarti menyia-nyiakan biaya dan waktu yang tidak sedikit.

    Wassalam, Sukemi Kadiman

    • efendi arianto said, on January 14, 2014 at 7:32 am

      Pak Sukemi, terimakasih kembali.

      Semoga upaya Bapak untuk menyelesaikan pendidikan doktoral yang sedang Bapak tempuh dapat berjalan lancar …

      • Sukemi Kadiman said, on January 15, 2014 at 2:12 am

        Senang bisa berkomunkasi dengan pak Efendi Arianto.

        Salam

        Sukemi Kadiman

  16. Asrini M (@asrieni) said, on January 14, 2014 at 10:30 am

    kalau di S3 MB Ipb berapa kali harus menempuh sidang doktor pak?
    dan kira2 dosen2nya kooperatif atau tidak saat membimbing disertasi? karena menurut pengalaman saya di s2 ugm dulu, dosen2nya sangat sulit ditemui, sampai ada mahasiswa yang tidak berjalan satu semester tesisnya karena sulit sekali bimbingan/ ketemu dosennya. dan apakah ijazah akhirnya itu tertulis manajemen bisnis, atau hanya manajemen saja?karena di sini saya liat ada konsentrasi msdm juga. terimakasih

    • efendi arianto said, on January 26, 2014 at 7:10 am

      Bu Asrini, di IPB, mahasiswa doktoral harus melalui tahapan-tahapan berikut: ujian prelim tulis dan lisan, seminar proposal, seminar hasil, sidang tertutup dan sidang terbuka. Di antara tahapan tersebut ada sedikitnya tiga kali sidang komisi dengan para pembimbing. Soal dosen yg sulit ditemui mestinya bisa terjadi di mana saja, karena mereka memang orang-orang yg sibuk dengan jadwal yg padat. Jadi pintar-pintar kita untuk berkomunikasi. Di jaman sekarang komunikasi juga bisa dilakukan dengan internet, termasuk melakukan video call kan juga bisa. Ijazah doktoral di IPB hanya tertulis “lulus program doktor” saja, tanpa menyebut disiplin ilmu yang dipelajari.

  17. widya fatriasari said, on April 8, 2014 at 8:44 am

    inspiratif sekali pak, meskipun saat ini saya tidak mengambil doktoral bisnis ipb melainkan doktoral kehutanan juga di ipb, yang bapak nyatakan memeng benar adanya. perlu perjuangan dan komitmen untuk tetap pada jalur yang benar . semoga saya segera mengikuti jejak bapak untuk lulus s3 dr ipb

  18. yustin pravitasmara said, on April 25, 2014 at 5:17 am

    Terima kasih telah menuliskan pengalaman pribadi yang berguna ini. Saya tersenyum pada bagian “100 buah paper” memang tulisan akan segera memberikan gambaran kepada otak setelah terbaca, dan kesan saya pada buah-buahan daripada jurnal ilmiah. 100 paper jurnal dan sekian judul karya ilmiah internasional sepertinya menjadi menu wajib siapapun yang menempuh program doktoral. Dan jujur, setelah membaca tulisan ini, saya makin mantap untuk mulai mendaftarkan diri, meski saya hanya pegawai biasa dan ibu rumah tangga tapi ilmu harus tetap didapat kapanpun saat punya kesempatan.

    • efendi arianto said, on May 2, 2014 at 2:49 am

      “100 buah paper” … :-), saya juga baru sadar …,
      baik Bu, segera saya koreksi. Yang benar “100 paper” ya …, tidak pakai buah-buahan … :-D

  19. Agus Rauzan said, on July 8, 2014 at 8:36 am

    Saya sekarang sdg menjalani seperti yg sudah bpk alami, saya bertemu dengan beberapa praktisi dan akademisi, di tahap awal sy agak minder dgn yg backgroundnya akademisi mereka begitu lincah menggarap tugas2 yg seabreg tetapi seiring berjalannya waktu akhirnya terjadi penyesuaian dan kerja sama yang baik , semoga akhirnya sy bisa mencapai apa yg sy cita-citakan lulus S3 , succes dan thanks sharenya pak.

    • efendi arianto said, on August 2, 2014 at 3:47 pm

      Pak Agus, terimakasih sudah mampir. Semoga Bapak segera dapat mencapai cita-cita untuk lulus S3 …

  20. miswanto said, on August 13, 2014 at 5:21 am

    terima kasih atas informasinya pak Efendi

    • efendi arianto said, on September 3, 2014 at 1:46 am

      Terimakasih juga kepada Pak Miswanto karena sudah mampir ke sini … :-)

  21. gena said, on September 23, 2014 at 7:39 am

    Wah berguna sekali, terima kasih banyak tips2 mantapnya

    Pak effendi

  22. aidil said, on October 5, 2014 at 1:47 pm

    Terima kasih pak efendi,
    Penjelasan bapak membantu sekali untuk menyiapkan diri secara mental maupun teknis. Sekaligus mau tanya pak , dari observasi pak efendi, apakah dengan pendidikan sampai jenjang doktoral akan memberikan financial return yg lebih baik dibanding rekan2 yg S2, karena tak jarang untuk menempuh s3 ini kita menggunakan tabungan keluarga, sebagai karyawan tentu konsep “balik modal dan peningkatan jenjang karir” menjadi pertimbangan, terima kasih atas input nya pak

    • efendi arianto said, on January 1, 2015 at 6:58 am

      Pak Aidil, mungkin saya juga termasuk yang harus “menguras tabungan” untuk membiayai pendidikan doktoral yang saya lakukan. Tapi motivasi saya memang untuk aktualisasi pribadi. Saya bekerja di perusahaan swasta yang tidak mengenal penjenjangan karir berdasarkan tingkat pendidikan. Untuk sektor pekerjaan bisnis, jenjang S2 Manajemen rasanya sudah lebih dari cukup, tidak perlu S3.

      Mungkin kalau di pemerintahan, ada kriteria tertentu yang mendasarkan pada jenjang pendidikan doktoral. Misalnya kalau di lembaga pelelitian atau universitas. Untuk naik ke jabatan tertentu, syaratnya harus S3. Jadi financial return-nya jelas.

  23. Heru Siswoyo said, on November 11, 2014 at 4:41 pm

    Assalamualaikum pa efendy terima kasih. info nya sangat berguna sekali saya sekarang sedang mengambil s2 di unj tahun 2014 ini baru masuk jurusan manajemen marketing sebenarnya saya sudah mengambil dan menyelesailakn s2 msdm di kampus swasta…sebenarnya saya pengen banget ambil doktoral manajemen bisnis cuman kurang pd karena taku saya tidak menyelesaikan….jadi saya ambil s2 di unj aga bisa langsung melanjutkan s3 dmb renacana nya kalau di terima pengen di unpad atau ipb…syukron

    • efendi arianto said, on January 1, 2015 at 6:59 am

      Wa’alaikumussalam Pak Heru, terimakasih sudah mampir. Semoga keinginan Bapak untuk menempuh pendidikan doktoral dapat terlaksana.

  24. imanudin suwardi said, on February 10, 2015 at 2:48 pm

    Assalamualaikum, pak Efendi. Terima kasih atas sharing yang sudah disampaikan. Saya baru menyelesaikan program S2 dan berniat akan melanjutkan S3. Sehari-hari saya praktisi bisnis dan mengelola perusahaan pribadi dengan ratusan karyawan. Cukup repot, sibuk, dan menghabiskan waktu. Dosen2 S2 saya menasehati bahwa S3 harus lebih serius, tekun, sabar, dan seterusnya, sebagaimana bapak sampaikan tadi. Saya tidak mengharapkan financial return dari S3 yang akan saya tempuh. Motivasi saya ilmu. Melihat dosen2/guru2 yang cerdas, penuh wawasan keilmuan, serta penuh solusi, tanpa emosi, saya jadi sangat tertarik pada bidang penelitian akademis dan sangat berharap sisa umur ini bisa memberi manfaat bagi diri saya, keluarga, masyarakat. Semoga Allah SWT mudahkan jalan saya menempuh “perjalanan” S3 ini. Salam hormat #imanudin

    • efendi arianto said, on September 2, 2015 at 3:07 am

      Wa-alaikumussalam Pak Imanudin, semoga perjalanan Bapak untuk menempuh pendidikan S3 dapat berjalan lancar …

  25. Budi Yasri said, on February 23, 2015 at 11:58 am

    Terima kasih atas tulisannya yang sangat inspiratif pak, perkenalkan saya Budi, mahasiswa Doktor Manajemen Pendidikan Uninus Bandung, bila berkenan saya akan add Bapak di FB untuk berkomunikasi. Terima kasih.

    • efendi arianto said, on September 2, 2015 at 3:06 am

      Terimakasih kembali Pak Budi.
      Kebetulan saya tidak aktif di FB … :-)

  26. Rira Nuradhawati Effendi said, on February 26, 2015 at 1:48 pm

    Betul pa apa yang bapak tulis, S3 itu gak mudah, karena benar2 dituntut fisik dan terutama mental,sy juga kuliah s3 dalam waktu 4 tahun,sambil hamil terus lahiran,2 minggu setelah lahiran ujian prelium,kemudian lanjut bimbingan sy gak cuti,smpe hampir tiap bimbingan sy nyetir motor smbil gendong anak sy yang masih kecil,pas umurnya 8 bln waktu msh bayi sy titip ke ibu/mertua,Alhamdulillah meskipun terasa berat tetapi karena saya tdk mau tersiksa karena jujur aja gak enak makan,gak enak tidur saya jalanin terus,pas lulusnya itu plong rasanya. Yang penting semangat dan jangan ditunda klu ada revisi dari dosen karena akan sulit untuk memulai kembali.

  27. Pinpin Bhaktiar said, on March 29, 2015 at 5:55 pm

    Pak efendi.. Sharingnya fun dan menyemangati saya…

    Saya lagi galau ni pak antara ambil IPB atau UI 😊🎓🎉

    Mungkin Bapak bisa berbagi kekhasan IPB dan kenyamanan bapak study dsana… Apakah yg Bapak harapakan, Bapak dapatkan.. Hehhee..

    Salam kenal dari pinpin bhaktiar pebisnis developer dan magister manajemen kandidat dari ppm.. Saya juga sudah selesaikan s2 dari untar bidang real estate.. Saya ingin ambil jenjang s3 bisnis agar expert di bidang real estate.. Semacam aligning bidang real estate dan bisnis lah pak, hehehe…

    Salam Sukses pak efendi 😊

    • efendi arianto said, on September 2, 2015 at 3:03 am

      Sebagaimana namanya, IPB tentunya sangat khas pada bidang pertanian …, dalam hal ini Agribisnis. Namun demikian penelitian dalam bidang lain juga sangat dimungkinkan untuk dilakukan.

  28. Abu Fatih said, on June 1, 2015 at 2:44 am

    Assalamu’alaikum Pak Efendi.Terima kasih informasinya yang sangat bermanfaat pak. Saya memiliki background pekerjaan serupa, bekerja di perusahaan swasta dan tertarik untuk mengambil program Doktor manajemen bisnis. Bolehkah saya kontak secara pribadi melalui email abu.fatihhh@gmail.com untuk beberapa hal detail sehubungan dengan pengalamanya di IPB? terimakasih dan semoga bapak semakin sukses.

    Abu Fatih

  29. Aristo said, on July 26, 2015 at 4:47 pm

    Pak Efendi, boleh minta no Hp atau alamat email?

  30. akmal said, on November 24, 2015 at 4:57 am

    Assalamu’alaikum Pak Efendi.
    Membaca tulisan Bapak memang sangat menginspirasi, dan jadi bersemangat untuk sekolah lagi. Saya ada rencana mengambil Doktor di bidang Manajemen Keuangan.

    Namun, terkadang yang sering menjadi pertanyaan meraih gelar Doktor apakah harus menemukan sesuatu?
    Apakah dalam menyusun disertasi itu harus dipenuhi dengan model2 ekonometrika tingkat tinggi yang rumit? tapi tidak jarang juga saya melihat ada beberapa teman saya yang mendapatkan gelar Doktor dengan disertasi pada literature research/konseptual, atau itu sangat bergantung pada jurusan yang dipilih?

    Bagi saya yang tidak memiliki background akademisi mungkin membuat model2 ekonometrik tingkat tinggi apalagi kalau mengikuti model2 terkini bukan menjadi salah satu kendala yang harus diatasi. Apakah di kuliah S3 itu nanti ada mata kuliah atau matrikulasi yang dapat membantu kita memahami model2 ekonometrik? atau pembimbing kita bisa membantu kita? Apakah kita memang sangat2 harus mandiri dalam perkuliahan S3?

    Demikian, mudahan2 kalo Bapak berkenan, ketika saya butuh diskusi lebih lanjut ttg pendidikan S3 dapat menghubungi bapak via email.

    Salam

    • efendi arianto said, on May 2, 2016 at 2:07 am

      Wa alaikumus salam Pak Akmal,
      Sebenarnya pemodelan ekonometrik itu menarik untuk dipelajari. Apalagi jika Bapak ingin mendalami penelitian dalam bidang manajemen keuangan, banyak aplikasi ekonometrik yang dapat diterapkan. Saya sarankan untuk melihat-lihat berbagai disertasi yang banyak terdapat pada e-library pada berbagai universitas. Sepemahaman saya, pendidikan doktoral memang dituntut kemandirian dalam melakukan penulisan disertasi. Salam.

  31. Efrizon said, on January 10, 2016 at 3:05 am

    Assalamualaikum pak efendi,
    Blog yang mencerahkan.
    Saya usia 49 tahun, pekerjaan di perusahaan kontraktor teman (bukan pegawai tetap, hanya diajak ikut bekerja) saya berencana melanjut ke S3 IPB, tapi bukan di program Manajemen Bisnis IPB, saya melihat minat saya ke Ilmu Perencanaan Pembanguan Wilayah dan Perdesaan (PWD). Nah apakah biaya semsternya berbeda dengan DMBI ? Fakultasnya Ekonomi dan Manajemen. Bisa bapak bantu jelaskan? Perbedaan DMBI dan PWD ini? Terima kasih

    • efendi arianto said, on May 2, 2016 at 2:09 am

      Wa-alaikumussalam Pak,

      Sepemahaman saya, biaya pendidikan S3 di IPB untuk kelas reguler memang lebih murah. Untuk detilnya Bapak bisa kontak langsung ke Sekolah Pascasarjana IPB.

  32. prita said, on February 26, 2016 at 3:04 pm

    Assalamu’alaikum Pak Efendi,

    saya sudah mendaftar DMB IPB tahun ini, sekarang menunggu jadwal untuk wawancara proposal disertasi.
    saya juga bekerja di swasta, jauh dari bidang penelitian akademik…

    saya masih deg-degan ini, kira-kira apa ya pak yang akan ditanyakan saat wawancara dan faktor apa yang paling menentukan diterima atau tidaknya….

    semoga jalan saya dimudahkan bisa lolos masuk IPB, Aamiin…

    wassalam,

    Prita

    • efendi arianto said, on May 2, 2016 at 2:10 am

      Wa-alaikumussalam Ibu, semoga diterima dan lancar dalam menempuh pendidikan S3 di DMB-IPB.

  33. 07011988 said, on March 30, 2016 at 7:34 am

    terimakasih pak utk kiat-kiatnya. sangat bermanfaat

  34. NASFI said, on September 7, 2016 at 7:44 am

    Assalammualaikum Pak Effendi, Saya Nasfi dari Sumbar, setelah membaca dari awal sangat menarik dan memberi motivasi saya untui melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi Doktoral, kebetulan saya di Daerah saya ingin nanya apa benar untuk ambil S3 khsus Ekonomi, Manajemen kita diperlukan Bahasa Inggris untu masuk dan Tamat. Apakah kalau kita ambil di Swasta yang terkakretasi B atau C Doktor kita ada klasnya dengan Perguruan tinggi Negeri. Makasi Pak

  35. Kang Masduki said, on November 22, 2016 at 7:27 am

    Aslmkm Pak Effendi, terimakasih atas sharingnya. Kisah yang menginspirasi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: