Strategika!

Harga Saham dan Kinerja Perusahaan Sawit di Bursa Efek Indonesia

Posted in Ekonomi, Kelapa Sawit, Manajemen by efendi arianto on January 16, 2011


Sumber foto: antarafoto.com

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Jan 16, 2011. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

Industri kelapa sawit Indonesia telah tumbuh secara signifikan dalam dua puluh tahun terakhir. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, mengungguli Malaysia yang pada periode sebelumnya merupakan produsen terbesar. Pada tahun 2008, total produksi minyak sawit (CPO) Indonesia dan Malaysia mencapai sekitar 85% dari total produksi CPO dunia. Seiring dengan perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia, maka tumbuh pula perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri kelapa sawit. Sebagian dari perusahaan-perusahaan tersebut telah mendaftarkan sahamnya di pasar saham Indonesia. Hingga tahun 2008, terdapat tujuh perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit dan produk turunannya terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kinerja pasar saham merupakan refleksi dari kondisi perekonomian dan industri secara umum. Demikian pula dengan kinerja perusahaan-perusahaan berbasis minyak sawit Indonesia, seharusnya juga terefleksi dalam harga saham dari perusahaan-perusahaan berbasis minyak sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

PERUSAHAAN SAWIT DI BURSA EFEK INDONESIA

Perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit dan produk turunannya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia hingga tahun 2008 adalah sebagai berikut:
1. PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk.
2. PT Tunas Baru Lampung Tbk.
3. PT Astra Agro Lestari Tbk.
4. PT London Sumatera Plantation Tbk.
5. PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk.
6. PT Sampoerna Agro Tbk.
7. PT Gozko Plantations Tbk.

Berdasarkan informasi yang diperoleh pada publikasi perusahaan, baik dalam bentuk Laporan Tahunan, Laporan Keuangan, dan informasi yang tersedia di situs resmi dari setiap perusahaan, profil singkat dari masing-masing perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:

PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART)

SMART adalah salah satu perusahaan berbasis kelapa sawit yang terintegarsi di Indonesia. SMART juga mendistribusikan, memasarkan dan mengekspor produk berbasis minyak sawit seperti minyak goreng, margarin dan shortening. SMART merupakan anak perusahaan dari Golden Agri Resources, Ltd. yang terdaftar di Bursa Saham Singapura, dan termasuk dalam Grup Sinar Mas.

PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk didirikan berdasarkan Akta No. 67 tanggal 18 Juni 1962 yang dibuat oleh Raden Kadiman, S.H., notaris di Jakarta. Ruang lingkup kegiatan usaha meliputi pengembangan perkebunan, pertanian, perdagangan, pengolahan hasil perkebunan, serta bidang jasa pengelolaan dan penelitian yang berhubungan dengan usaha. Hasil produksi meliputi hasil olahan kelapa sawit antara lain minyak goreng, lemak nabati dan margarin serta minyak kelapa sawit (CPO), inti sawit (PK), minyak inti sawit (PKO), cocoa butter substitute (CBS), fatty acids, glycerine, sabun dan produk kemasan seperti botol dan tutup botol.

SMART berkedudukan di Plaza BII Menara II, Lt. 30, JI. M.H. Thamrin No. 51, Jakarta. Pabrik dan kebun divisi perkebunan Grup berlokasi di Sumatera Utara, Jambi, Pekanbaru, Bangka, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan, sedangkan pabrik pengolahannya berlokasi di Surabaya, Medan dan Tarjun. Luas area perkebunan Grup yang sudah ditanam sampai dengan tanggal 31 Desember 2008 sekitar 103.415 hektar.

PT Tunas Baru Lampung Tbk

PT Tunas Baru Lampung Tbk merupakan anak perusahaan kelompok usaha Sungai Budi. Saat ini Sungai Budi Grup merupakan salah satu pelaku utama dalam manufakur dan distribusi produk olahan berbasis agrikultur. Perusahaan publik lainnya yang masuk dalam Sungai Budi adalah PT Budi Acid Jaya Tbk yang bergerak pada bidang produksi tepung tapioka. PT Tunas Baru Lampung Tbk dikenal sebagai produsen minyak goreng dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak 14 Februari 2000.

PT Tunas Baru Lampung Tbk didirikan berdasarkan Akta No. 23 tanggal 22 Desember 1973 dari Halim Kurniawan, S.H., notaris di Teluk Betung. Ruang lingkup kegiatan PT Tunas Baru Lampung Tbk terutama meliputi bidang perkebunan, pertanian dan perindustrian, termasuk bertindak sebagai pedagang eksportir dan importir. Saat ini, Perusahaan terutama bergerak dalam bidang produksi minyak goreng sawit, minyak goreng kelapa, minyak kelapa, minyak sawit (Crude Palm Oil atau CPO) dan sabun, serta bidang perkebunan kelapa sawit dan hibrida.

PT Tunas Baru Lampung Tbk berdomisili di Jakarta, berkantor pusat di Wisma Budi, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-6, Jakarta. Pabrik Perusahaan berlokasi di Lampung, Surabaya, Tangerang, Palembang dan Kuala Enok, dengan perkebunan yang terletak di Terbanggi Besar – Lampung Tengah, Banyuasin – Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat, sedangkan perkebunan anak perusahaan terletak di Lampung Tengah, Lampung Utara, Palembang dan Jambi dengan jumlah lahan perkebunan kurang lebih seluas 130,86 ribu hektar. Adapun jumlah luas lahan yang ditanami kurang lebih seluas 40,15 ribu hektar. Perusahaan mulai menjalankan kegiatan produksi CPO pada bulan September 1995 dan minyak goreng pada bulan Oktober 1996. Hasil produksi dipasarkan di dalam dan ke luar negeri.

PT Astra Agro Lestari Tbk

PT Astra Agro Lestari Tbk adalah divisi agribisnis dari kelompok usaha Astra. Aktivitas utama dari perusahaan adalah pada perkebunan dan pengolahan kelapa sawit menjadi CPO. Saat ini perusahaan mempunyai luas lahan yang telah ditanami seluas 163 ribu hektar. Pabrik minyak goreng yang dimilikinya terdapat di Sumatera Utara. Sedangkan perkebunan tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

PT Astra Agro Lestari Tbk didirikan dengan nama PT Suryaraya Cakrawala berdasarkan Akta Notaris Ny. Rukmasanti Hardjasatya, S.H., No. 12 tanggal 3 Oktober 1988, yang kemudian berubah menjadi PT Astra Agro Niaga berdasarkan Akta perubahan No. 9 tanggal 4 Agustus 1989 dari notaris yang sama. Ruang lingkup kegiatan Perusahaan adalah perkebunan, perdagangan umum, perindustrian, pengangkutan, jasa dan konsultan. PT Astra Agro Lestari Tbk mempunyai investasi pada anak perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan dan industri kelapa sawit dan karet. Kantor pusat Perusahaan dan anak perusahaan berlokasi di Jalan Pulo Ayang Raya Blok OR no. 1, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta.

Perkebunan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari Tbk berlokasi di Kalimantan Selatan dan pabrik minyak goreng berlokasi di Sumatra Utara. Perkebunan dan pabrik pengolahan anak perusahaan berlokasi di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Perusahaan mulai beroperasi komersial pada tahun 1995. Luas areal ‘Hak Guna Usaha’ yang dimiliki Perusahaan dan anak perusahaan adalah seluas 228.772 hektar (2007: 231.508 hektar) dengan luas areal tertanam seluas 194.217 hektar (2007: 182.470 hektar).

PT London Sumatera Plantation Tbk

PT London Sumatera Indonesia Tbk, berawal dari hampir satu abad yang lalu di tahun 1906 dengan kiprah Harrisons & Crossfield Plc (H&C), perusahaan perkebunan dan perdagangan yang berbasis di London. Perusahaan mengelola perkebunan karet, kopi, kakao dan teh di era sebelum perang dunia. Dari tahun 50-an sampai 70-an, perusahaan memfokuskan pada tanaman karet sebagai komoditas utama, yang selanjutnya memasuki pertengahan tahun 80-an diversifikasi ke tanaman kelapa sawit mulai dilakukan yang menggantikan tanaman karet sebagai komoditas utama. Pada tahun 1994, Harrisons & Crossfield menjual seluruh saham perusahaan kepada PT Pan London Sumatra Plantation (PPLS), yang membawa perusahaan go public melalui pencatatan saham di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya pada tahun 1996. Saat ini, perusahaan mengoperasikan 38 perkebunan di empat pulau di Indonesia: Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

PT London Sumatera Indonesia Tbk didirikan berdasarkan Akta Notaris Raden Kadiman No. 93 tanggal 18 Desember 1962 yang diubah dengan Akta No. 20 tanggal 9 September 1963. Perusahaan bergerak di bidang industri perkebunan dengan menanam dan memelihara tanaman kelapa sawit, karet, kako, kelapa dan teh, serta mengolah hasil perkebunan tersebut dan menjual hasilnya di dalam maupun luar negeri.

PT London Sumatera Indonesia Tbk berdomisili di Jakarta dengan kantor cabang operasional di Medan, Palembang, Makassar, Surabaya dan Samarinda. Perusahaan pada saat ini mengelola perkebunan di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Produk utama adalah minyak kelapa sawit dan karet, serta sebagian kecil kakao, teh dan bibit.

PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk

Aktivitas utama PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk adalah pada perkebunan dan pengolahan hasil kebun karet dan kelapa sawit. Pada tahun 2008, 80% dari total area tertanam merupakan perkebunan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jambi. Sedangkan perkebunan karet terdapat di Sumatera Utara dan Lampung. UNSP merupakan salah satu unit usaha di bawah kelompok usaha Bakrie.

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk berdiri di Republik Indonesia pada tahun 1911 dengan nama “NV Hollandsch Amerikanse Plantage Maatschappij”. Nama Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan nama PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. Perusahaan bergerak dalam bidang perkebunan, pengolahan dan perdagangan hasil tanaman dan produk industri. PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk berdomisili di Kisaran dengan kantor pusat berlokasi di Jl. H. Juanda, Kisaran 21202, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, sedangkan perkebunan serta pabriknya berlokasi di Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Usaha perkebunan telah beroperasi komersil sejak tahun 1911.

PT Sampoerna Agro Tbk

PT Sampoerna Agro Tbk memiliki lebih dari 70 ribu hektar perkebunan kelapa sawit dan mengoperasikan lima buah pabrik CPO dengan total kapasitas olah 330 ton buah sawit per jam. Salah satu anak perusahaan PT Sampoerna Agro Tbk adalah PT Binasawit Makmur yang mempunyai otorisasi untuk memproduksi bibit kelapa sawit di Indonesia.

PT Gozko Plantations Tbk

PT Gozko Plantations Tbk adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terakhir mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia. PT Gozko Plantations Tbk merupakan salah satu anak perusahaan kelompok usaha Barito Pacific. Hingga tanggal 31 Desember 2007, perusahaan memiliki total lahan 59.282 hektar, dengan total lahan tertanam seluas 13.050 hektar. Secara keseluruhan, Perseroan memiliki hingga 46.232 hektar lahan belum tanam yang telah memiliki HGU maupun atau ijin lokasi untuk pengembangan perkebunan inti dan plasma di masa depan.

PERGERAKAN HARGA SAHAM SAWIT

Pergerakan harga saham perusahaan berbasis industri sawit, sebagaimana harga saham perusahaan lainnya, ditentukan oleh berbagai faktor baik yang bersifat fundamental maupun yang bersifat teknikal. Pengaruh dari berbagai faktor ekonomi, faktor pasar, industri maupun faktor internal perusahaan menyebabkan harga saham bergerak sejalan dengan transaksi perdagangan saham yang dilakukan sepanjang waktu.

Harga saham suatu perusahaan dipengaruhi baik oleh internal perusahaan berupa kondisi dan kinerja perusahaan, maupun kondisi eksternal perusahaan. Faktor yang berasal dari kondisi internal perusahaan biasanya didasarkan pada informasi keuangan perusahaan antara lain adalah laba per lembar saham, tingkat resiko dari proyeksi laba, proporsi utang perusahaan terhadap ekuitas, serta kebijakan pembagian dividen. Berbagai faktor eksternal perusahaan yang dapat mempengaruhi pergerakan harga saham adalah kegiatan perekonomian pada umumnya dan kondisi dari bursa saham. Dalam investasi saham, investor sering dihadapkan pada beberapa pertanyaan yang terkait dengan harga saham, misalnya faktor apa saja yang mempengaruhi harga saham dan berapa harga yang wajar bagi suatu saham. Banyak faktor yang mempengaruhi harga saham dan semua yang terkait dengan pasar saham dapat berpengaruh pada harga saham. Adanya berbagai faktor tersebut menyebabkan analisis harga saham menjadi tidak mudah untuk dilakukan.

Kesulitan dalam memprediksi harga saham menuntut dilakukannya analisis tentang saham oleh para investor saham. Analisis saham diperlukan karena dalam investasi saham investor selalu berhadapan dengan pasar. Dalam perdagangan saham, ketika ekspektasi pasar dalam jangka panjang naik, ekspektasi atas suatu saham dapat saja justru menurun. Hal ini perlu dipahami oleh investor saham karena investasi saham merupakan investasi jangka panjang, sedangkan penciptaan harga saham yang dibuat pasar adalah harga yang terjadi pada saat selama pasar berlangsung.

Analisa saham dimaksudkan untuk memprediksi tren perkembangan harga saham. Investor dapat mengkaji aspek fundamental dari saham tersebut, yang di antaranya terkait dengan kinerja finansial perusahaan, termasuk di dalamnya struktur pendapatan dan penjualan perusahaan. Di samping melakukan pendekatan secara fundamental, investor juga bisa melakukan pendekatan secara teknikal. Melakukan analisa harga saham berdasarkan pendekatan fundamental dan teknikal ini merupakan teknik analisa yang banyak dilakukan oleh investor untuk memprediksi harga saham, termasuk di Bursa Efek Indonesia.

Menurut Hartono (2005) investor di pasar saham adalah penerima harga (price takers), yang berarti bahwa sebagai pelaku pasar, investor seorang diri tidak dapat mempengaruhi harga suatu saham. Harga suatu saham ditentukan oleh banyak investor yang menentukan demand dan supply. Hal seperti ini dapat terjadi karena pelaku-pelaku pasar terdiri dari sejumlah besar institusi dan individu rasional yang mampu mengartikan dan menginterpretasikan informasi dengan baik untuk menganalisis, menilai, dan melakukan transaksi penjualan atau pembelian saham. Kekuatan penawaran dan permintaan saham di pasar, serta kemampuan investor dalam melakukan analisis investasi saham merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pembentukan harga saham. Persepsi yang berbeda dari masing-masing investor dapat mempengaruhi harga saham karena setiap investor akan mengambil keputusan sesuai dengan informasi yang didapat (Bodie et al. 2008).

Akibat dari faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut, harga saham berfluktuasi sepanjang waktu. Sebagaimana terlihat dalam Gambar 1, IHSG yang mencerminkan kondisi perekonomian secara umum bergerak dari tingkat di bawah 1000 pada tahun 2004 hingga mencapai di atas 2500 pada tahun 2007. IHSG kemudian menurun kembali ke tingkat di bawah 1500 pada tahun 2008. Harga saham dari kelima saham perusahaan sawit yang terdaftar di BEI juga menunjukkan pola yang serupa. Harga saham bergerak naik sejak tahun 2004 hingga mencapai tingkat tertinggi di tahun 2007 dan kemudian kembali menurun di tahun 2008.

Pada Gambar 1 ditampilkan pergerakan bulanan tahun 2004 hingga tahun 2009 dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga dari lima saham perusahaan berbasis industri minyak sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2008. Kelima saham tersebut adalah:

SMAR = Harga saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk.
AALI = Harga saham PT Astra Agro Lestari Tbk.
TBLA = Harga saham PT Tunas Baru Lampung Tbk.
UNSP = Harga saham PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk.
LSIP = Harga saham PT London Sumatera Plantation Tbk.


Gambar 1 Pergerakan IHSG dan Harga Saham Sawit 2004-2009

Kelima saham tersebut pada tahun 2004 telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sehingga data pergerakan harganya dapat ditampilkan secara penuh pada periode 2004-2009.

KINERJA PERUSAHAAN SAWIT

Perbandingan kinerja dari kelima perusahaan sawit yang terdaftar di BEI ditampilkan dalam Tabel 1.

Sebagaimana ditampilkan dalam Tabel 1, saham-saham perusahaan berbasis minyak sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mempunyai porsi usaha pada sektor kelapa sawit antara 75,3% (PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk) hingga 100% (PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk). Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun beberapa perusahaan tersebut juga bergerak pada bidang perkebunan lainnya, seperti karet dan hortikultura, tetapi mayoritas usaha masih pada sektor minyak sawit.

Dari sisi penjualan, pada tahun 2008 PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk membukukan nilai penjualan tertinggi, yaitu sebesar Rp16 triliun, namun demikian dari sisi laba bersih masih kalah dari PT Astra Agro Lestari Tbk yang memperoleh laba bersih sebesar Rp2,6 trilun di tahun 2008. Hasil ini menyebabkan marjin bersih PT Astra Agro Lestari Tbk berada pada tingkat paling tinggi yaitu sebesar 32,2% .

Jumlah saham beredar bervariasi dari 1,36 milyar lembar (PT London Sumatera Plantaion Tbk) hingga 2,87 milyar lembar (PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk). Berdasarkan laba bersih yang diperoleh setiap perusahaan, maka dapat dilihat pencapaian rasio laba bersih per saham bervariasi dari Rp15/lembar (PT Tunas Baru Lampung Tbk) hingga Rp1.670/lembar (PT Astra Agro Lestari Tbk).

PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk juga mencatatkan pertumbuhan peenjualan yang tinggi selama tahun 2008 dengan 99,2%, yang terutama diperoleh dari peningkatan produksi dan peningkatan harga minyak sawit pada tahun 2008. Namun demikian, angka pertumbuhan tertinggi dicapai oleh PT Tunas Baru Lampung Tbk yang mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 114,5%.

Dari sisi kepemilikan saham oleh publik, angka tertinggi dimiliki oleh PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk dengan kepemilikan saham oleh publik sebesar 72,9%, sedangkan kepemilikan saham oleh publik paling rendah adalah pada PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk yang hanya mencapai 4,8%. Variasi kepemilikan saham oleh publik ini seharusnya akan memberikan pengaruh pada kegiatan transaksi saham di pasar.

Sebagai perusahaan perkebunan penghasil komoditas minyak sawit mentah (CPO), maka sebagian besar penjualan perusahaan akan berupa penjualan dalam bentuk minyak sawit mentah. Sebagai misal, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk membukukan penjualan hingga 87% dalam bentuk penjualan CPO. Hal ini dapat dipahami karena pada tahun 2008, harga CPO mencapai titik tertinggi di atas US$1000 per MT, sehingga perusahaan akan lebih cenderung menjual CPO secara langsung dibanding dengan mengolahnya lebih lanjut menjadi berbagai produk turunan. Tingkat harga CPO yang tinggi menyebabkan fasilitas pengolahan produk turunan minyak sawit menjadi dinomorduakan karena alasan ekonomis. Dengan menjual langsung CPO pada tingkat harga yang tinggi, perusahaan akan memperoleh arus kas dengan cepat. Marjin usaha tertinggi pada rantai pasok produksi minyak sawit memang pada sektor perkebunan. Sementara itu, mengolah CPO menjadi produk turunan mempunyai keterbatasan pada tingkat marjin yang rendah.

Rujukan:
Bodie Z, Kane A dan Marcus AJ. 2008. Essentials of Investment. Seventh Edition. McGraw-Hill International Edition. Singapore.
Hartono J. 2005. Pasar Efisien Secara Keputusan. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] 16, 2011. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya. Industri kelapa sawit Indonesia … Download Harga Saham dan Kinerja Perusahaan Sawit di Bursa Efek … | […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: