Strategika!

Pergerakan Harga Minyak Sawit

Posted in Ekonomi, Kelapa Sawit, Manajemen by efendi arianto on January 16, 2011


Sumber foto: thejakartaglobe.com

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Jan 16, 2011. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

Periode tahun 2004-2008 merupakan periode kenaikan harga komoditas yang ditandai dengan dimulainya peningkatan harga minyak bumi (PCRO) di atas US$40 per barrel pada pertengahan tahun 2004. Harga minyak bumi mencapai puncaknya pada pertengahan tahun 2008 yang mencapai tingkat harga di atas US$120 per barrel. Pada akhir tahun 2008 harga minyak bumi kembali menurun hingga tingkat sekitar US$40 per barrel. Minyak bumi merupakan salah satu determinan perekonomian dunia, oleh karenanya pergerakan harga minyak bumi menjadi perhatian para pengambil kebijakan maupun keputusan bisnis.

Minyak sawit merupakan produk komoditas, dan perilaku industri minyak sawit dapat digambarkan sesuai dengan pola perilaku permintaan, penawaran dan harga komoditas. Harga dan jumlah suatu komoditas yang diperjualbelikan ditentukan oleh permintaan dan penawaran komoditas tersebut. Oleh karena itu, untuk menganalisis mekanisme penentuan harga dan jumlah komoditas yang diperjualbelikan perlu dilakukan analisis terhadap faktor-faktor penentu pada sisi permintaan dan faktor-faktor penentu pada sisi penawaran terhadap komoditas di pasar. Harga merupakan titik keseimbangan ketika para pembeli (mewakili permintaan) dan para penjual (mewakili penawaran) bertemu di pasar.

Pada periode 2005-2008, terjadi turbulensi dari harga berbagai komoditas, industri minyak sawit juga terimbas pada perilaku pasar komoditas dunia. Pertumbuhan penduduk dan perekonomian China dan India telah merubah perilaku ekonomi global. Hal ini diduga telah memberikan pengaruh terhadap meningkatnya harga minyak sawit sejalan dengan peningkatan harga komoditas dunia pada periode 2005-2007. Sementara itu, kejatuhan ekonomi dunia di semester kedua tahun 2008 juga berimbas pada kejatuhan harga komoditas dan telah menyebabkan harga minyak sawit jatuh dari tingkat US$1200 per metric-ton pada bulan September 2008 ke tingkat US$400 per metric-ton pada akhir tahun 2008 (Helbling et al. 2008).

Turbulensi harga minyak bumi ini juga terjadi pada harga-harga minyak nabati utama yang diperdagangkan di dunia, yaitu Minyak Sawit, Minyak Kedelai dan Minyak Rapa. Ketiga jenis minyak nabati tersebut diproduksi sekitar 74% dari total produksi minyak nabati dunia di tahun 2008. Sebagaimana terlihat dalam Gambar 1, harga minyak nabati juga bergerak meningkat sejak tahun 2004 hingga mencapai puncak di akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008 untuk kemudian kembali menurun di akhir tahun 2008. Peningkatan harga komoditas pada periode 2004-2008 telah berperan penting dalam pertumbuhan negara-negara pengekspor komoditas karena pendapatan ekspor yang meningkat.

PCPO = harga minyak sawit; PSOY = harga minyak kedelai;
PRAP = harga minyak rapa; PCRO = harga minyak bumi
Sumber: diolah dari data statistik komoditas IMF yang tersedia di http://www.imf.org

Gambar 1 Pergerakan Harga Minyak Nabati dan Minyak Bumi 2004-2008

Helbling et al. (2008) mengemukakan bahwa selain diakibatkan oleh faktor spesifik dari setiap komoditas, yaitu resiko geopolitik, kondisi iklim dan cuaca serta kegagalan panen, peningkatan harga juga diakibatkan oleh berbagai faktor pada sisi penawaran dan permintaan yang saling mempengaruhi. Faktor-faktor yang memberikan pengaruh pada peningkatan harga komoditas antara lain adalah sebagai berikut:

1. Pertumbuhan ekonomi telah mendorong permintaan akan berbagai komoditas.
2. Biofuel telah mendorong permintaan akan berbagai tanaman pangan yang dapat dikonversi menjadi biofuel
3. Respon penawaran yang lambat
4. Keterkaitan di antara berbagai komoditas
5. Tingkat suku bunga yang rendah dan depresiasi nilai US Dollar

Permintaan komoditas terutama terjadi karena adanya kombinasi dari pertumbuhan pendapatan per kapita, industrialisasi dan pertumbuhan penduduk yang tinggi di China dan India. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan konsumsi makanan yang meningkat, tetapi juga pergeseran akan pola makan pada jenis makanan dengan protein tinggi, termasuk minyak nabati. Saat ini China merupakan importir utama minyak nabati dunia, terutama untuk minyak kedelai dan minyak sawit (Trostle 2008).

Salah satu faktor yang berperan dalam peningkatan harga komoditas adalah biofuel. Tingkat harga minyak bumi yang tinggi disertai dengan kebijakan pemanfaatan biofuel di Amerika Serikat dan Uni Eropa sebagai suplemen bahan bakar kendaraan bermotor, merupakan faktor yang menyebabkan peningkatan produksi biofuel. Amerika Serikat merupakan produsen terbesar biofuel di dunia, sedangkan Uni Eropa merupakan produsen terbesar biodiesel di dunia.

Produksi biofuel memang berpengaruh pada pasar makanan, karena 20-50 persen dari cadangan bahan pangan, terutama jagung dan rapeseed, telah dikonversi menjadi biofuel. Konversi ini tidak memberikan pengaruh besar pada pasar bahan bakar karena hanya berperan kurang dari 1,5 persen terhadap pemakaian bahan bakar transportasi. Hal ini mengakibatkan terjadinya asimetri harga, karena harga bahan bakar minyak bumi menentukan harga biofuel dan pertumbuhan biofuel, dan sebagai akibatnya memberikan dampak yang besar kepada harga bahan pangan. Di Amerika Serikat, sesuai dengan Energy Bill 2007, ditargetkan pemanfaatan biofuel sebesar 35 milyar galon pada tahun 2022, dan di Uni Eropa telah memberikan mandat pencapaian pemanfaatan biofuel untuk transportasi mencapai 10 persen pada tahun 2020. Hal ini mengindikasikan tekanan pada harga komoditas minyak nabati akan terus ada (Helbling et al. 2008).

Pertumbuhan permintaan saja tidak dapat menjelaskan peningkatan harga komoditas yang demikian tinggi. Faktor pada sisi penawaran juga berperan. Karena permintaan akan komoditas bersifat price-inelastic, maka perubahan harga komoditas yang besar hanya akan berakibat sedikit perubahan pada permintaan, terutama dalam jangka pendek.

Conceicao dan Marone (2008) mengemukakan bahwa faktor lain yang memberikan dampak adalah karena respon yang lambat dari peningkatan jumlah pasokan komoditas terhadap peningkatan permintaan. Misalnya yang terjadi pada pasar minyak bumi, dimana peningkatan kapasitas tidak sebanding dengan peningkatan harganya. Berbagai jenis komoditas juga memperlihatkan penurunan tingkat inventori sebagai akibat peningkatan permintaan, yang menyebabkan harga menjadi sangat sensitif terhadap sinyal dan informasi menyangkut terbatasnya jumlah pasokan yang dapat diserap pasar.

Menurut Trostle (2008) menurunnya kegiatan riset dan pengembangan oleh pemerintah dan lembaga internasional telah berperan dalam perlambatan pertumbuhan produksi tanaman pangan. Perubahan iklim juga menjadi perhatian, sekalipun dampaknya pada produksi tanaman pangan masih tidak jelas. Perhatian terhadap faktor iklim, tidak lagi hanya melihat kondisi iklim basah atau kering di suatu negara. Namun, lebih spesifik dengan melihat iklim ekstrem itu terjadi di mana dan komoditas apa yang terkena dampaknya. Komoditas minyak sawit, misalnya, selama ini selalu dikaitkan dengan dampak dari El Nino.

Keterkaitan di antara berbagai pasar jenis komoditas juga memberikan pengaruh terhadap peningkatan harga komoditas. Sebagai misal, biofuel tidak hanya berpengaruh terhadap harga dari jagung, tetapi juga terhadap harga berbagai jenis pangan lainnya. Sebagaimana diketahui, jagung dipergunakan sebagai faktor input dari makanan ternak, atau juga sebagai close-substitute. Di Amerika Serikat misalnya, hal tersebut telah menyebabkan peningkatan harga dari minyak kedelai dan bungkil kedelai, karena jagung dan kedelai bersaing untuk menggunakan luasan lahan yang sama. Kondisi ini telah mengakibatkan peningkatan harga pada jenis minyak nabati lainnya melalui efek substitusi. Sebagai tambahan, permintaan akan biodiesel juga berdampak terhadap harga minyak nabati, karena minyak kedelai dan berbagai minyak nabati lainnya seperti minyak sawit dan minyak rapa digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Harga minyak bumi yang tinggi memberikan pengaruh pada harga komoditas lainnya, karena minyak bumi tidak hanya merupakan faktor input pada bidang pertanian dan produksi, tetapi juga karena adanya efek substitusi yang berlaku pada biofuel dan minyak bumi (Conceicao dan Marone 2008).

Perkembangan pasar uang pada sektor komoditas telah tumbuh pesat dan berbagai harga komoditas terkait langsung dengan perubahan pada berbagai kondisi keuangan makro. Mekanisme ini terjadi karena harga spot dari berbagai komoditas ditentukan di pasar perdagangan berjangka. Harga komoditas juga didukung oleh kondisi makro ekonomi secara umum, terutama tingkat suku bunga yang rendah dan depresiasi mata uang US Dollar. Tingkat bunga yang rendah dapat mendorong permintaan agregat, yang berimbas pada meningkatnya permintaan akan komoditas (Conceicao dan Marone 2008).

Nilai tukar US Dollar memberikan pengaruh terhadap harga komoditas dikarenakan berbagai harga komoditas mengacu pada harga dalam US Dollar. Depresiasi mata uang US Dollar mengakibatkan komoditas menjadi lebih murah bagi konsumen di luar mata uang US Dollar, yang mengakibatkan meningkatnya permintaan terhadap komoditas. Pada sisi penawaran, penurunan profit dalam mata uang lokal untuk produsen di luar mata uang US Dollar mengakibatkan tekanan terhadap harga komoditas. Penurunan nilai mata uang US Dollar juga menyebabkan penerimaan dalam penurunan return aset keuangan berdenominasi US Dollar yang menyebabkan komoditas menjadi alternatif aset yang menarik bagi investor asing.

Menurut ITF (2008) permintaan minyak bumi dalam jangka pendek secara relatif bersifat price-inelastic, yang berarti jumlah yang diminta tidak banyak berubah terhadap perubahan harga. Dengan kata lain, memerlukan peningkatan harga yang tinggi untuk dapat mengurangi jumlah permintaan secara signifikan. Dalam jangka pendek, pasokan dari minyak bumi juga inelastis, yaitu jumlah yang dipasok tidak responsif terhadap perubahan harga di pasar, dikarenakan kapasitas cadangan yang rendah, kendala untuk menyediakan pasokan baru secara cepat, dan keterbatasan kapasitas penyimpanan. Seandainya baik pasokan maupun permintaan tidak responsif terhadap harga, maka akan diperlukan peningkatan harga yang tinggi untuk dapat mendorong kembali ke titik keseimbangan.

Rujukan:

Conceicao P, Marone H. 2008. Characterizing the 21st Century First Commodity Boom: Drivers and Impact. Office of Development Studies Report. UNDP. New York.

Helbling T, Mercer-Blackman V, Cheng K. 2008. “Riding a Wave.” Finance and Development March.

ITF (Interagency Task Force on Commodity Markets). 2008. Interim Report on Crude Oil. Washington, D.C.

Trostle R. 2008. Global Agricultural Supply and Demand: Factors Contributing to the Recent Increase in Food Commodity Prices. USDA Report (WRS-0801)

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. endi said, on March 24, 2011 at 3:17 am

    Salam kenal Pak Efendi Arianto.
    Tulisannya bagus-bagus.

  2. yogi said, on March 24, 2011 at 4:28 pm

    Salam kenal Pak Efendi Arianto.
    mau nanya dimana bisa mendapatkan data harga tandan buah segar Kelapa sawit dari 2008 – sekarang?

    terima kasih.

  3. Efendi Arianto said, on March 27, 2011 at 3:29 am

    @Endi: Terimakasih.
    @Yogi: coba cek di http://www.smart-tbk.com pada bagian investor relations, sub bag international price; di situ ada data harga TBS bulanan.

  4. sartika pertiwi said, on March 24, 2012 at 9:10 am

    Kak, tulisannya bagus banget. Kalau mau nanya-nanya boleh ga kak? terimakasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: