Strategika!

Ekonomika Medali Olimpiade Beijing

Posted in Ekonomi by efendi arianto on August 28, 2008


Sumber gambar: http://www.olympic.org

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Aug 28, 2008. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

Data: Ekonomika_Medali_Olimpiade_Beijing.pdf [~ 90Kb]

Olimpiade Beijing yang disebut-sebut sebagai Olimpiade terbesar dan termegah yang pernah dilakukan di muka bumi telah usai. Di ajang Olimpiade, setiap empat tahun sekali negara-negara berkompetisi untuk memperebutkan medali. Ketika ajang selesai, jumlah medali yang dikumpulkan menjadi indikator keberhasilan suatu negara dalam mengikuti kegiatan Olimpiade. Tentunya menarik untuk mengetahui mengapa satu negara demikian konsisten selalu memperoleh medali di Olimpiade, sementara banyak negara lain sama sekali tidak pernah memperolehnya.

Ekonom Andrew Bernard (Tuck School of Business at Dartmouth) dan Meghan Busse (The University of California – Berkeley), telah meneliti penentu keberhasilan suatu negara memperoleh medali di Olimpiade (Mankiw 2004). Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bernard dan Busse, total perolehan medali Olimpiade oleh suatu negara terutama dipengaruhi oleh: populasi penduduk, produk domestik bruto (PDB) dan pendapatan per kapita, perolehan medali di Olimpiade sebelumnya, serta pengaruh sebagai tuan rumah.

Penentu paling jelas adalah populasi. Dalam keadaan di mana hal-hal lain tetap, negara-negara yang penduduknya lebih banyak mempunyai kesempatan memiliki lebih banyak atlet yang berprestasi dan memperoleh medali di Olimpiade. AS, China, Rusia dan Jepang adalah wakil dari negara dengan populasi di atas 100 juta orang yang menduduki peringkat atas perolehan medali di Olimpiade Beijing.

Tetapi tentu persoalannya tidak sesederhana itu. China, India, Indonesia, dan Brazil yang memberikan kontribusi lebih dari 56 % populasi negara-negara yang mendapatkan medali di Olimpiade Beijing, secara total hanya memenangkan 13 % dari seluruh medali yang diperebutkan. Jika China dikeluarkan dari data tersebut, maka India, Indonesia dan Brazil mempunyai populasi sebanyak 31% dari total populasi penduduk negara-negara yang memperoleh medali di Olimpiade Beijing, namun hanya mampu memperoleh 3% dari seluruh medali yang diperebutkan. Alasannya adalah, sekalipun negara-negara tersebut mempunyai populasi tinggi, negara-negara dengan populasi besar tersebut pada umumnya memiliki pendapatan per kapita yang relatif rendah. Walaupun memiliki populasi besar, India, Indonesia, Brazil, dan Nigeria hanya menyumbang 6% dari total PDB dunia. Tingkat kemakmuran yang rendah menjadi kendala bagi banyak atlet berbakat untuk mengembangkan potensi mereka.

Bernard dan Busse menemukan bahwa ukuran terbaik lainnya dari kemampuan bangsa untuk menghasilkan atlet kelas dunia adalah nilai PDB total. PDB total yang lebih besar berarti medali yang lebih banyak tanpa mempedulikan apakah jumlah tersebut berasal dari PDB per kapita yang tinggi atau jumlah orang yang banyak. Total PDB dari sepuluh negara teratas yang memperoleh medali di Olimpiade Beijing menyumbang 60 % total PDB dunia.

Dengan kata lain, jika dua negara memiliki PDB total yang setingkat, dapat diperkirakan mereka memenangkan jumlah medali yang sama, misalnya prestasi Spanyol (PDB 2007 US$1.429 milyar) dan Kanada (PDB 2007 US$1.326 milyar) di Olimpiade Beijing yang sama-sama secara total memperoleh 18 medali. Spanyol memiliki populasi lebih tinggi (46 juta orang) dengan pendapatan per kapita yang lebih rendah dibandingkan Kanada yang memiliki lebih sedikit populasi (33 juta orang).

Sementara itu, faktor populasi dan pendapatan per kapita bisa saling melengkapi kemampuan negara untuk memperoleh medali di Olimpiade. Di Olimpiade Beijing, perolehan medali Belanda lebih rendah dari Jepang sekalipun Belanda mempunyai tingkat pendapatan per kapita yang lebih tinggi (US$45.800 dibanding US$34.200). Hal ini dikarenakan Jepang mempunyai jumlah penduduk yang lebih banyak (127 juta orang dibanding 16,5 juta) sehingga mengkompensir tingkat pendapatan per kapita yang lebih rendah. Sementara itu Indonesia dan Swedia memperoleh total jumlah medali yang sama di Beijing (sejumlah total 5 medali) karena Indonesia memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak (231 juta dibanding 9 juta), sedangkan Swedia memiliki tingkat pendapatan per kapita yang lebih tinggi (US$48.200 dibanding US$1.800). Pendapatan per kapita berpengaruh karena negara yang lebih makmur akan mempunyai kemampuan keuangan yang lebih tinggi untuk melatih dan menyediakan fasilitas bagi atlet-atletnya.

Negara-negara yang berprestasi di Olimpiade cenderung mempertahankan prestasi tersebut, termasuk Indonesia yang selalu memperoleh medali sejak Olimpiade Seoul (perak) dan Olimpiade Barcelona (emas). Demikian pula negara-negara langganan medali Olimpiade lainnya seperti AS, Rusia, Australia, Jerman, dan Perancis.

Faktor berikutnya adalah peran sebagai tuan rumah. Negara tuan rumah Olimpiade biasanya memperoleh medali lebih banyak dibanding ketika negara tersebut mengikuti Olimpiade sebagai tamu. Hal ini mencerminkan manfaat yang diperoleh para atlet yang bertanding di rumah sendiri. Merupakan hal yang telah diketahui luas dalam cabang olahraga apapun, dengan dukungan penonton di negeri mereka sendiri, tuan rumah selalu memiliki kesempatan menang yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang datang bertanding sebagai tamu. Keberhasilan China di Olimpiade Beijing, selain karena faktor populasi dan PDB, juga diuntungkan karena menjadi tuan rumah.

Selain keempat faktor di atas, negara-negara eks Uni Soviet dan Eropa Timur seperti Rusia, Belarus, Ukrainia, Republik Czech, Slovakia dan sebagainya, dapat memperoleh lebih banyak medali dari pada negara lain yang mempunyai PDB yang sama. Hal ini dapat dijelaskan karena negara yang mengatur perekonomian dari pusat mencurahkan lebih banyak sumber daya dalam melatih atlet Olimpiade daripada negara yang menganut perekonomian pasar bebas. Pada negara-negara dengan ekonomi pasar bebas, penduduk memiliki lebih banyak kendali atas hidup mereka. Faktor inilah yang dapat menjelaskan mengapa Kuba yang hanya berpenduduk kurang dari 12 juta jiwa berhasil memperoleh total 24 medali di Olimpiade Beijing, serta mengapa Korea Utara, di Olimpiade Beijing, dapat berprestasi lebih baik dari Indonesia.

Referensi:

Andrew B. Bernard and Meghan R. Busse. 2004. “Who Wins the Olympic Games: Economic Resources and Medal Totals”, Review of Economics and Statistics, Vol. 86, no.1. [pdf ~137Kb]

Mankiw, N.G. 2004. Principles of Economics. 3rd ed. South-Western of Thomson Learning. Mason. Ohio.

Tagged with: ,

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. sjafri mangkuprawira said, on September 1, 2008 at 10:57 pm

    Artikel menarik bung Efendi……ada satu faktor yang sulit diukur yakni spirit juang para atlet yang juga menggambarkan spirit suatu bangsa……ada baiknya juga dianalisis kaitannya dengan ideologi suatu bangsa…..apakah negara-negara eks pemerintahan sosialis cenderung berspirit tinggi perlu ditelaah lebih dalam……begitu pula sangatlah menarik mengkaji prestasi kaitannya dengan human development index suatu negara…….tentang indonesia?…ada baiknya KONI memiliki road map pengembangan keolahragaan yang berorientasi pada masa depan dengan prestasi global…….prioritas pada keunggulan hanya pada satu dua cabang olahraga perlu diperluas….karena itu berkerjasama dengan dunia usaha, KONI perlu melakukan kompetiisi yang reguler mulai dari daerah sampai nasional….insentif bagai para atlet dalam bentuk beasiswa sekolah atau lapangan kerja juga bisa menjadi motivasi……selamat bersiap mengikuti prelim….sukses…..

  2. Efendi Arianto said, on September 2, 2008 at 1:34 pm

    Prof. Sjafri, terimakasih telah mampir dan memberikan tambahan pencerahan …

  3. Yari NK said, on September 3, 2008 at 7:51 am

    Yang dihitung sebaiknya medali emas saja…. jadinya lebih representatif. Atau dihitung menggunakan weighted average. Emas diberi bobot 100, perak 10 dan perunggu 1, jadi sesuai tingkat kesulitan pencapaiannya.

    Jikalau dilihat weighted average per capita-nya kita jauh lebih unggul daripada Malaysia dan Brunei ya?? Walaupun tetap saja kalah dari Thailand. Huehehe……

  4. Efendi Arianto said, on September 3, 2008 at 11:30 am

    Pak Yari,

    Paparan lanjutan dari yang dikembangkan oleh Andrew B. Bernard and Meghan R. Busse, memang mencoba menghitung pencapaian medali emas, misalnya bisa dilihat di link berikut:

    http://mba.tuck.dartmouth.edu/pages/faculty/andrew.bernard/olympicmedals.htm

    Atau yang dihitung oleh John Hawksworth, dari PwC pada link berikut:

    http://www.ukmediacentre.pwc.com/Content/Detail.asp?ReleaseID=2799&NewsAreaID=2

    Serba menarik, karena mengkaitkan prestasi olahraga dari sudut pandang ekonomi dan ekonometrika.

    Salam,
    Efendi Arianto


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: