Strategika!

Hipotesa Schumpeterian tentang Inovasi

Posted in Ekonomi, Strategi by efendi arianto on May 17, 2008

Ditulis oleh Efendi Arianto pada May 17, 2008. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

Hipotesa Schumpeterian mengacu pada pemikiran Joseph Alois Schumpeter, yang dikenal kepakarannya untuk bidang: Business cycles, Economic development, Entrepreneurship dan Evolutionary economics. Dia adalah salah satu ekonom yang berpengaruh pada abad ke 20.

Sekalipun analisa Joseph Schumpeter tentang innovation–market power dynamic muncul karena terjadinya evolusi tahun 20-an pada struktur industri di Amerika, kajian ini kurang begitu memperoleh perhatian pada berbagai literatur. Hal ini dapat dimaklumi karena peneliti baru dapat melakukan kajian empiris dari hipotesa ini pada tahun-tahun belakangan karena alasan ketersediaan data. Kebanyakan kajian empiris menekankan pada kompetisi, dan bukan pada kekuatan pasar, yang berperan pada tumbuhnya inovasi di perusahaan.

Joseph Alois Schumpeter, lahir pada tanggal 8 Februari 8, 1883 di Triesch, Moravia, Austria-Hungary; Meninggal pada tanggal 8 Januari 8, 1950 (pada umur 66), di Taconic, Connecticut, U.S.

Selama hidupnya, Joseph Schumpeter mengajar di berbagai universitas dengan bidang ekonomi, yaitu:
1. Harvard University 1932-50
2. University of Bonn 1925-32
3. Biedermann Bank 1921-24
4. University of Graz 1912-14
5. University of Czernowitz 1909-11

Joseph Schumpeter lulus pendidikan doktoral dari University of Vienna di bawah bimbingan Prof. Eugen von Böhm-Bawerk. Beberapa anak didik Joseph Schumpeter yang terkenal antara lain adalah: Abram Bergson, Nicholas Georgescu-Roegen dan Robert Heilbroner.

Ketertarikan Schumpeter pada inovasi dapat tergambar pada Neo-Schumpeterian economics, yang dikembangkan oleh peneliti seperti Christopher Freeman dan Giovanni Dosi (source: Wikipedia).

Dalam buku berjudul “Theory of Economics”, Schumpeter (1934) memandang penting peran dari entrepenur yang memainkan peran utama dalam analisa evolusi kapital. Joseph Schumpeter mendefinisikan ekonomi inovasi sebagai:

1. The introduction of a new good —that is one with which consumers are not yet familiar—or of a new quality of a good.

2. The introduction of a new method of production, which need by no means be founded upon a discovery scientifically new, and can also exist in a new way of handling a commodity commercially.

3. The opening of a new market, that is a market into which the particular branch of manufacture of the country in question has not previously entered, whether or not this market has existed before.

4. The conquest of a new source of supply of raw materials or half-manufactured goods, again irrespective of whether this source already exists or whether it has first to be created.

5. The carrying out of the new organization of any industry, like the creation of a monopoly position (for example through trustification) or the breaking up of a monopoly position

Dalam buku “Capitalism, Socialism and Democracy”, Schumpeter (1942) menekankan pentingnya perusahaan besar (monopoli) sebagai faktor penting pada perkembangan ekonomi: “The monopolist firm will generate a larger supply of innovation because there are advantages which, though not strictly unattainable on the competitive level of enterprise, are as a matter of fact secured only on the monopoly level”. Dalam kasus ini, inovasi bukanlah hasil dari hal-hal di luar perusahaan, tapi merupakan faktor endogen (Acs dan Audretsch. 1988).

Pengukuran inovasi selama ini mengalami keterbatasan data. Biasanya pengukuran inovasi dikaitkan dengan ukuran lain, misalnya ukuran input terhadap aktivitas inovasi (Scherer, 1965), atau menggunakan proxy dari output inovasi seperti jumlah temuan yang dipatenkan (Mansfield, 1968). Pengukuran lain dengan menggunakan ukuran R&D hanya mengindikasikan budget yang dialokasikan untuk melakukan aktivitas inovasi, tetapi bukan aktual dari aktivitas inovasi itu sendiri.

Acs dan Audretsch (1987) mencoba mengatasi kelemahan pengukuran inovasi ini dengan mengadopsi data jumlah inovasi yang dihasilkan yang ada pada setiap four-digit SIC industry yang dicatat pada tahun 1982, oleh U.S. Small Business Administration. Data SIC ini mengacu pada lebih dari 100 jurnal teknologi, engineering, perdagangan, yang membahas setiap industri manufaktur. Jurnal-jurnal ini disumbangkan oleh Acs dan Audretsch sendiri.

Argumen Schumpeterian yang secara umum dipahami adalah bahwa perusahaan besar lebih inovatif dibandingkan perusahaan yang lebih kecil. Namun hal ini belum pernah divalidasi, terutama terhadap industri manufaktur.

Oleh karena itu Acs dan Audretsch mengajukan hipotesis Schumpeterian yang dimodifikasi, yaitu perusahaan besar memiliki keunggulan relatif dalam inovasi pada pasar yang terkonsentrasi dengan entry barrier yang signifikan, sementara perusahaan kecil memiliki keunggulan relatif dalam inovasi pada pasar yang kompetitif.

Literatur menyebutkan ada tiga aspek pada struktur pasar yang mempengaruhi inovasi pada perusahaan besar dan kecil:
1. Distribusi ukuran dari perusahaan
2. Keberadaan barrier to entry
3. Tahapan industry pada product life cycle

Acs dan Audretsch (1987) menyimpulkan bahwa keunggulan inovasi relatif dari perusahaan besar dan kecil ditentukan oleh karakteristik dari imperfect competition.

Industri dengan capital intensive, terkonsentrasi dan advertising-intensive cenderung mendorong terjadinya aktivitas inovasi di perusahaan-perusahaan besar. Sementara itu keunggulan inovasi dari perusahaan kecil cenderung muncul pada tahapan awal dari life cycle, dimana total innovation dan penggunaan skilled labor berperan penting, dan dimana perusahaan-perusahaan besar memiliki pangsa pasar yang tinggi.

Acs dan Audretsch memberikan masukan agar debat tentang teori Schumpeterian diarahkan lebih tepat. Ketimbang menanyakan “Which firm size is most conducive to innovation?”, pertanyaan yang lebih tepat barangkali adalah “Under which circumstances do large firms have the relative innovative advantages?”

Hubungan antara inovasi dengan konsentrasi pasar memang tidak dapat ditampilkan dalam suatu hubungan sederhana; Hal ini dikarenakan konsentrasi pasar dan aktivitas inovasi keduanya dipengaruhi oleh berbagai hubungan ekonomi yang berbeda-beda pada berbagai lingkungan pasar.

Pengujian peran inovasi perusahaan dan pengaruhnya pada industri telah menjadi perhatian sejak mulai bergesernya paradigma ekonomi industri “structure-conduct-performance” kepada peran kekuatan sumber daya internal perusahaan, yang dikenal sebagai teori Resource Based View (RBV). Kemampuan melakukan dan mengimplementasikan inovasi dapat dipandang sebagai kekuatan internal perusahaan untuk bersaing dalam industrinya.

DAFTAR PUSTAKA

Acs, Z.J. and Audretsch, D.B. 1987. Innovation, Market Structure, and Firm Size. The Review of Economics and Statistics, Volume 69, Issue 4 (Nov., 1987).

___________.1988. Testing the Schumpeterian Hypothesis. Eastern Economic Journal, Vol. XIV, No. 2, April-June 1988.

Nicholas, T. 2003. Why Schumpeter was Right: Innovation, Market Power, and Creative Destruction in 1920s America. The Journal of Economic History, Vol. 63, No. 4 (December 2003).

O Hara, Phillip Anthony. 1994. An Institutionalist Review of Long Wave Theories: Schumpeterian Innovation, Modes of Regulation, and Social Structures of Accumulation. Journal of Economic Issues; Jun 1994; 28, 2; ABI/INFORM Global pg. 489

http://www.wikipedia.com

Tagged with: ,

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. danzzz said, on May 20, 2008 at 2:50 am

    Schumpeter udah riset hipotesis nya ttg inovasi ini di negara2 dunia ketiga macam Indonesia apa belum ya, pak? Kalo belum mungkin bisa dicoba diteliti (barangkali sama sampeyan), soalnya problem di Indo ttg Difusi Inovasi bener2 parah banget. Disuruh nyobain kompor gas aja susah banget kan?
    Hehe, akhirnya aku ketemu website sampeyan, pak. Cool piosan euy!!

  2. Yodhia - Blog Strategi + Manajemen said, on June 4, 2008 at 1:57 am

    A brilliant post. Di post berikutnya, mungkin bisa juga dieksplorasi mengenai “Creative Destruction”.

    Baru saja tersandung ke blog ini….and I must say, this is one of the best blogs di tanah air. Isinya bermutu dan ekspansif. Keep blogging, sir.

  3. RIRI SATRIA said, on August 1, 2008 at 8:04 am

    Halo Pak Efendi … teman seperjuangan di DMB IPB …

    Wah, hebat Pak ulasan mengenai teri Schumpter … kalau gak salah, teori analisis industri dan generic strategy dari Michael Porter juga mereferensi ke teori Schumpter …

    Salam sukses selalu Pak ..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: