Strategika!

Klasifikasi dan Konsentrasi Industri Minyak Sawit Indonesia

Posted in Ekonomi, Kelapa Sawit by efendi arianto on February 3, 2008

pom.jpg
Gambar: southern.com.my

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Feb 3, 2008. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

PENDAHULUAN

Klasifikasi industri adalah suatu hal penting dalam struktur pasar mengingat semakin besar jumlah penjual (produsen) maka akan semakin kompetitif industri tersebut.

Klasifikasi industri dapat dikelompokkan dalam empat kategori berdasarkan karakteristiknya masing-masing sebagai berikut.

Perfect Competition
- banyak penjual
- produk yang homogen
- tidak ada hambatan untuk masuk

Monopolistic Competition
- banyak penjual
- produk terdiferensiasi
- tidak ada hambatan untuk masuk

Oligopoly
- sedikit penjual
- produk homogen atau terdiferensiasi
- hambatan untuk masuk tinggi

Monopoly
- hanya ada satu penjual
- produk yang unik
- hambatan untuk masuk sangat tinggi

Monopoly adalah bentuk konsentrasi industri yang paling tinggi. Semakin terkonsentrasi suatu industri, kekuatan pasar (market power; kemampuan untuk menentukan harga) dari suatu perusahaan dalam suatu industri juga akan meningkat. Umumnya, margin laba akan suatu perusahaan meningkat ketika kekuatan pasar yang dimilikinya meningkat.

Hal lain yang juga penting dalam pengklasifikasian industri terhadap struktur pasar adalah bahwa jumlah perusahaan dalam suatu industri memainkan peran dalam menentukan apakah perusahaan-perusahaan secara eksplisit mempertimbangkan tindakan yang dilakukan perusahaan pesaingnya dalam industri tersebut.

1. Dalam monopolistic competition, arah yang dibuat oleh perusahaan nampaknya tidak mempertimbangkan tindakan yang dilakukan perusahaan pesaing

2. Dalam oligopoly, dengan jumlah perusahaan lebih kecil, setiap perusahaan secara eksplisit melakukan pengambilan keputusan strategis dengan mempertimbangkan tindakan yang akan diambil oleh perusahaan pesaing.

KLASIFIKASI INDUSTRI BERDASARKAN KONSENTRASI INDUSTRI

Konsentrasi industri adalah alat ukur yang mengacu kepada jumlah penjual yang ada dalam industri. Alat ukur yang umum dipergunakan adalah Concentration Ratio (CR) dan Herfindhal-Hirschman Iindex (HHI).

RASIO KONSENTRASI

Rasio konsentrasi (concentration ratio, CR) adalah persentase dari output industri yang dimiliki oleh beberapa perusahaan besar. Rasio konsentrasi untuk “n” perusahaan besar dalam suatu industri dapat dihitung dengan menjumlahkan total pangsa pasar dari perusahaan-perusahaan besar ini. Hal ini dapat diformulasikan dalam sebuah persamaan di bawah.

CRk = S1 + S2 + S3 + … + Sk

Dimana:
Si adalah pangsa pasar dari perusahaan “i”

Rasio konsentrasi yang umum dipergunakan adalah four-firm concentration ratio atau CR4. CR4 merefleksikan total pangsa pasar yang dimiliki oleh empat perusahaan terbesar dalam suatu industri.

CR4 = S1 + S2 + S3 + S4

Jika data pangsa pasar tidak tersedia, maka dapat dilakukan perhitungan dengan cara lain untuk memperoleh gambaran tentang “porsi” kontribusi suatu perusahaan dalam suatu industri. Misalnya, pangsa pasar dihitung dengan membandingkan pendapatan individual suatu perusahaan dibandingkan dengan pendapatan total industri.

Pangsa pasar = pendapatan individu perusahaan / total pendapatan industri

Kelemahan dari rasio konsentrasi adalah ketidakmampuan untuk menunjukkan tingkat dominansi dari suatu perusahaan di dalam pasar.

HERFINDHAL-HIRSCHMAN INDEX (HHI)

HHI dihitung dengan menjumlahkan kuadrat pangsa pasar setiap perusahaan dalam suatu industri. Hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

HHI = S1^2 + S2^2 + S3^2 + …+ Sn^2

Kelebihan HHI dibandingkan CR4 adalah;

1. HHI merefleksikan distribusi dari pangsa pasar dari keempat perusahaan teratas dan komposisi dari pasar diluar keempat perusahaan tersebut.

2. HHI memberikan bobot yang lebih besar secara proporsional kepada pangsa pasar untuk perusahaan-perusahaan yang lebih besar. Hal ini mencerminkan peran yang lebih dominan bagi perusahaan yang lebih besar di dalam interaksi kompetisi.

KETERBATASAN PENGUKURAN KONSENTRASI

Pengukuran konsentrasi memiliki keterbatasan menyangkut bagaimana kita mendefinisikan pasar yang relevan. Sebagai contoh, pengukuran konsentrasi dapat disalahartikan jika:

- Kompetisi impor adalah penting; dalam hal ini kepentingan relatif perusahaan domestik dinilai lebih tinggi.

- Lingkup pasar adalah penting; seringkali ukuran hanya merefleksikan kondisi nasional, sementara kekuatan pasar di tingkat lokal kurang dipertimbangkan.

- Pesaing (competitor) dapat memasuki pasar; karena pengukuran konsentrasi memang hanya mengukur berdasarkan data yang tersedia pada periode pengukuran.

- Tingkatan kompetisi yang lebih dari satu dimensi; karena seringkali, kompetisi inter-industri (substitusi tidak langsung) juga sama pentingnya sebagaimana kompetisis intra-industri (substitusi langsung).

KLASIFIKASI INDUSTRI DENGAN CR4

Salah satu acuan yang dapat dipergunakan untuk mengklasifikasi industri dengan CR4 adalah sebagai berikut:

CR4 = 0, perfect competition

0 < CR4 < 40, effective competition atau monopolistic competition

40 <= CR4 < 60, loose oligopoly atau mono[polistic competition

60 <= CR4, tight oligopoly atau dominant firm with a competitive fringe

90 <= CR1, effective monopoly (mendekati monopoly) atau dominant firm with a competitive fringe

KLASIFIKASI INDUSTRI DENGAN HHI

Salah satu acuan untuk menggunakan HHI dalam penentuan klasifikasi industri adalah yang dikeluarkan oleh Department of Justice (DOJ) dan Federal Trade Commission (FTC) negara Amerika Serikat, dalam “Horizontal Merger Guidelines” yang tersedia di http://www.usdoj.gov/atr atau di http://www.ftc.gov yang menyatakan: “the Agency devide the spectrum of market concentration as measured by the HHI into three regions that can be broadly characterized as unconcentrated (HHI below 1000), moderately concentrated (HHI between 1000 and 1800), and highly concentrated (HHI above 1800).”

Interpretasi dari acuan ini adalah sebagai berikut:

HHI < 1000, effective competition atau monopolistic competition

1000 < HHI < 1800, monopolistic competition atau oligopoly

1800 < HHI, oligopoly, dominant firm with a competitive fringe atau monopoly

PENGUKURAN KONSENTRASI INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA

Industri minyak sawit di sini dimaksudkan sebagai rantai industri yang menghasilkan minyak sawit mentah (CPO, crude palm oil). Atau dengan kata lain merupakan sektor hulu dari rantai industri minyak sawit secara keseluruhan.

Kendala dalam penentuan konsentrasi industri minyak sawit ini tentu saja adalah ketersediaan data produksi CPO yang dipasok oleh setiap perusahaan. Untuk mengatasi kendala ini, maka penulis mempergunakan data kapasitas produksi CPO yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan pengolah buah kelapa sawit menjadi CPO sebagai acuan.

Data kapasitas olah CPO ini kemudian dijumlahkan untuk keseluruhan kelompok usaha (grup) berdasarkan pertimbangan kepemilikan usaha. Berdasarkan kerangka ini, maka didapatkan “pangsa pasar” dalam industri minyak sawit Indonesia sebagai berikut:

PTPN = 15.1%
Sinar Mas = 8.4%
Wilmar = 4.3%
Lonsum (+ Salim) = 4.2%

CR4 = 32%
HHI = 459

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa industri minyak sawit Indonesia untuk sektor hulu adalah tidak terkonsentrasi (unconcentrated) dalam bentuk effective competition atau monopolistic competition.

PENUTUP

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, konsentrasi hanyalah merupakan salah satu faktor obyektif yang dipergunakan dalam pengklasifikasian struktur pasar. yaitu dengan mengamati struktur penjual (produsen) yang terdapat dalam industri. tentunya Masih terdapat berbagai faktor, baik obyektif maupun subyektif, yang dapat dipertimbangkan dalam penentuan struktur pasar yang dapat menggambarkan struktur industri dari sudut pandang yang lain.

Hasil perhitungan konsentrasi industri untuk sektor hulu industri minyak sawit Indonesia menunjukkan tingkat konsentrasi yang rendah. Perhitungan tersebut bahkan setelah mempertimbangkan penggabungan beberapa kelompok perusahaan, seperti PTPN digabungkan dalam satu kelompok, dan Lonsum serta Salim dalam satu kelompok kepemilikan.

Jika pengelompokan kepemilikan tersebut dipecah ke dalam kelompok kepemilikan yang lebih kecil (misalnya untuk PTPN tidak digabungkan menjadi satu) tentunya akan menjadikan tingkat konsentrasi yang akan semakin rendah.

REFERENSI:

Besanko, D., Dranove, D., Shanley, M., and Schaefe, S. (2004). Economics od Strategy, 3rd Edition, John Wiley and Sonns. Inc.

Church, J. and Ware, R. (2000). Industrial Organization: A Strategic Approach, McGraw Hill, Boston.

Pepall, L., Richards, D.J., and Norman, G. (2002). Industrial Organization. Contemporary Theory and Practice, 2nd Edition. South-Western. Thompson Learning.

About these ads

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. pratolo said, on March 24, 2009 at 4:42 am

    blog yang bagus Pak.
    salam kenal.

  2. YoGienFathKei said, on December 7, 2009 at 9:17 am

    Nice place to learn..Thanks n Sukses Selalu..

  3. jumatri said, on October 17, 2012 at 4:11 pm

    thank you…
    ini pejelasan nya sangat detail


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers

%d bloggers like this: