Strategika!

Tinjauan Korelasi Harga Minyak Sawit (Crude Palm Oil) dan Harga Minyak Bumi (Crude Oil) serta Kelayakan Konversi Palm-Biodiesel

Posted in Ekonomi, Kelapa Sawit by efendi arianto on December 25, 2007

gbr0.jpg

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Dec 25, 2007. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

Sentimen pemanfaatan minyak sawit (crude palm oil, CPO) sebagai bahan baku biodiesel telah menyebabkan permintaan terhadap CPO semakin meningkat. Hal ini terkait dengan sentimen pengunaan bahan bakar nabati sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak bumi (crude oil), terutama di tahun 2007.

Harga CPO akan terus meningkat karena selain sentimen tentang pencarian bahan bakar alternatif termasuk biofuel berbahan baku CPO, juga karena peningkatan permintaan dari dua konsumen terbesar dunia, yakni India dan China, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di kedua negara tersebut yang saat ini mencapai 8-10 persen per tahun.

Sentimen tentang pemanfaatan minyak sawit menjadi bahan bakar nabati muncul ketika harga minyak bumi (crude oil) naik secara tajam di tahun 2007, dari sekitar US$50 menjadi US$90 per barrel. Pada saat yang sama harga CPO naik dari US$600 menjadi US$900 per metric-ton. Pergerakan harga CPO dan harga minyak bumi pada periode 1999-2007 nampak pada Gambar 1 di bawah.

gbr1.jpg

Gambar 1. Pergerakan Harga CPO dan Crude Oil 1999-2007 (harga CPO dikalikan faktor 0.1)

Pengujian statistik korelasi harga minyak sawit dengan harga minyak bumi pada periode 1999-2007 menunjukkan bahwa minyak sawit dan minyak bumi memang berkorelasi positif sebesar 0.68. Pada periode 2006-2007, korelasi pergerakan harga minyak sawit dan minyak bumi adalah 0.73. Sementara jika dilihat pergerakan pada periode 1999-2005 korelasinya hanyalah 0.14. Korelasi sangat positif sebesar 0.97 terjadi di tahun 2007 sejalan dengan meningkatnya sentimen penggunaan minyak sawit untuk bio-diesel.

Hasil pengujian korelasi dan regresi harga minyak sawit dan minyak bumi pada berbagai periode (1999-2007, 1999-2005, 2006-2007 dan 2007) terdapat pada Tabel 1. Pengujian ini dilakukan berdasarkan data bulanan harga minyak sawit (Rotterdam) yang penulis dapatkan dari web PT SMART Tbk . Sedangkan harga minyak bumi penulis peroleh dan olah dari data historis minyak bumi yang disediakan oleh Energy Information Administration, official energy statistics from the U.S. Government.

tabel1.jpg

Tabel 1. Uji Regresi Harga Minyak Sawit dan Minyak Bumi

Dari hasil uji regresi pada Tabel 1 di atas, maka dengan menggunakan data pada periode 2007, hubungan antara minyak sawit (CPO) dengan minyak bumi (CO) dapat dituliskan sebagai:

CPO = 82.82 + 10.05*CO

Dengan demikian dapat disimpulkan, sentimen pemanfaatan minyak sawit menjadi bahan bakar telah mengakibatkan bergesernya peran minyak sawit sebagai komoditas bahan makanan menjadi komoditas energi.

Sejak tahun 2003, negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa telah bersepakat mencanangkan target penggunaan biofuel sebesar 2% hingga tahun 2005, kemudian meningkat menjadi 5,75% hingga tahun 2010, dan akan terus meningkat sebesar 10% hingga tahun 2020. Pada awal tahun ini Pemerintah Kerajaan Inggris juga telah mengumumkan suatu kebijakan, yaitu Kewajiban Transportasi Untuk menggunakan bahan bakar terbarukan (Renewable Transport Fuel Obligation – RTFO). Hal ini mengharuskan perusahaan menambah 5% biofuel kedalam semua bensin dan solar yang dijual di wilayah kerja mereka sebelum 2010.

Biodiesel adalah senyawa mono alkil ester yang diproduksi melalui reaksi tranesterifikasi antara trigliserida (minyak nabati, seperti minyak sawit, minyak jarak dll) dengan metanol menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis basa. Biodiesel mempunyai rantai karbon antara 12 sampai 20 serta mengandung oksigen. Adanya oksigen pada biodiesel membedakannya dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya hanya terdiri dari hidro karbon. Jadi komposisi biodiesel dan petroleum diesel sangat berbeda.

Biodiesel terdiri dari metil ester asam lemak nabati, sedangkan petroleum diesel adalah hidrokarbon. Biodiesel mempunyai sifat kimia dan fisika yang serupa dengan petroleum diesel sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau dicampur dengan petroleum diesel. Pencampuran 20 % biodiesel ke dalam petroleum diesel menghasilkan produk bahan bakar tanpa mengubah sifat fisik secara nyata. Produk ini di Amerika dikenal sebagai Diesel B-20 yang banyak digunakan untuk bahan bakar bus.

Penggunaan biodiesel juga dapat mengurangi emisi karbon monoksida, hidrokarbon total, partikel, dan sulfur dioksida. Emisi nitrous oxide juga dapat dikurangi dengan penambahan konverter katalitik. Kelebihan lain dari segi lingkungan adalah tingkat toksisitasnya yang 10 kali lebih rendah dibandingkan dengan garam dapur dan tingkat biodegradabilitinya sama dengan glukosa, sehingga sangat cocok digunakan di perairan untuk bahan bakar kapal/motor. Biodiesel tidak menambah efek rumah kaca seperti halnya petroleum diesel karena karbon yang dihasilkan masih dalam siklus karbon.

Dengan demikian, sejalan dengan semangan energi hijau, permintaan akan minyak sawit juga akan tumbuh tidak saja untuk memenuhi kebutuhan minyak makan, tetapi juga untuk memenuhi permintaan akan minyak bakar.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan bakar alternatif memang layak dan ekonomis untuk dilakukan?

Kajian yang pernah dilakukan (lihat: Yahaya, Ahmad dan Kennedy. 2006. Impact on Biodiesel Development on Palm Oil Industry. Malaysian Journal of Economic Studies Vol. XXXXIII Nos. 1 & 2) menunjukkan keterkaitan antara profitabilitas biodiesel berbahan baku minyak sawit terhadap tingkat harga minyak bumi. Dalam kajian tersebut menyatakan bahwa biaya produksi palm biodiesel dapat dituliskan sebagai:

PPD = 1.04 * (PCPO + 0.112PM + PC – 0.1PG)

Dimana:
PPD = Biaya produksi palm biodiesel
PCPO = Harga CPO
PM = Harga methanol
PC = Biaya konversi CPO per ton
PG = Harga glicerol

Perhitungan profitabilitas palm biodiesel dilakukan dengan membandingkan biaya produksi palm biodiesel dengan biaya produksi petro diesel. Berdasarkan kajian tersebut, penulis mengolahnya menjadi sebuah persamaan berikut:

LPCPO = 7.5723*PCO – 79.545

Dimana:
LPCPO = Limit harga minyak sawit dalam US$/MT
PCO = Harga minyak bumi dalam US$/bbl

Persamaan di atas menyatakan bahwa sepanjang harga minyak sawit di pasar tidak lebih tinggi dari limit harga minyak sawit (LPCPO) dalam persamaan tersebut, maka melakukan konversi minyak sawit menjadi palm biodiesel akan menguntungkan.

Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam gambar 2 di bawah.

gbr2.jpg

Gambar 2. Limit Harga Maksimal CPO untuk Konversi Bio Diesel

Pada Gambar 2 tersebut terlihat, jika harga minyak bumi berada pada tingkat US$70/bbl, maka mengkonversi minyak sawit menjadi minyak diesel akan menguntungkan selama harga minyak sawit di pasar tidak lebih dari US$451/MT.

Jika kita melihat harga minyak sawit saat ini (Desember 2007) pada tingkat US$900/MT dan harga minyak bumi pada tingkat US$90/bbl, maka dapat disimpulkan melakukan konversi minyak sawit untuk diolah menjadi minyak diesel secara ekonomis tidak akan menguntungkan.

Namun demikian, pengolahan minyak sawit menjadi minyak diesel akan tetap dilakukan di berbagai tempat dan wilayah, misalnya saja yang terjadi kawasan Eropa karena adanya regulasi yang mewajibkan penggunaan biofuel, ataupun karena faktor lainnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan biodiesel antara lain adalah:

1. Kyoto Protocol, yang mengatur emisi karbon.
2. Regulasi, misalnya kewajiban penggunaan energi hijau, pengurangan pajak untuk menggunaan energi hijau sebagaimana yang diberlakukan di Eropa.
3. Masalah keamanan, misalnya yang terkait dengan ketidakstabilan di wilayah Timur Tengah sebagai pemasok utama minyak bumi.
4. Proteksi pemerintah, berupa dukungan untuk petani dan perkebunan di suatu negara.
5. Meningkatnya kebutuhan energi dunia, seperti yang terjadi di China dan India akhir-akhir ini.

Oleh karenanya patut disadari bahwa keterkaitan harga minyak sawit dengan minyak bumi sebenarnya sangat bervariasi tergantung dari kekuatan faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut dan juga pada berbagai kurun waktu di mana faktor-faktor tersebut berpengaruh.

15 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Zulle said, on January 16, 2008 at 8:12 am

    Salam,
    Akan lebih baik jika digunakan bahan baku yang non edible atau agriculture waste, seperti neem oil, minyak jarak, minyak sisa penggorengan, grease dari restaurant restaurant, dedak padi yang nilai FFAnya dah tinggi yang menyebabkan ternakpun gak akan memakannya, atau bahkan sisa pengolahan air yang biasa disebut dengan activated sludge. Karena secara ekonomis akan menguntungkan, karena hampir 70% dari production cost untuk biodiesel production dihabiskan untuk bahan baku.

    Wassalam
    Zulle

  2. Dr. soekartawi said, on March 7, 2008 at 10:59 pm

    Komoditi kelapa sawit memang ibarat gadis cantik yang diperebutkan. Karena cantiknya itu maka kelapa sawit memang berprospek bagus di masa depan. Karena prospek yang bagus itulah maka ia diperebutkan dengan berbagai cara. Areal tanam dan jumlah pertumbuhan perkebunan kelapa sawit meningkat tajam, bahkan kadang-kadang tanpa diimbangi dengan kaidah-kaidah koservasi pembukaan lahan baru. Sekarang yang mendesak adalah bagaimana kita membangun kelapa sawit dengan konsep keberlanjutan (sustainability) dengan meminimumkan dampak negatif yg ditimbulkan oleh adanya pembangunan kelapa sawit baru tsb.

    Dr. Soekartawi/Unibraw Malang

  3. Efendi Arianto said, on March 8, 2008 at 2:02 pm

    Prof. Soekartawi,

    Terimakasih atas kunjungan dan komentar Profesor. Sebuah kehormatan bagi saya.

    Salam,
    Efendi Arianto

  4. Mukhlis, A.Md.,SP said, on March 12, 2008 at 4:39 am

    saya adalah salah seorang anggota group kelapa sawit indonesia. kelapa sawit memang komoditas primadona, karena bisa tumbuh dan produksi dengan baik pada lahan marjinal, namun kenyataan di sumatera spesifiknya di Riau, kurang ramah lingkungan. sangat komersial tapi kurang bersahabat dengan lingkungannya. bagaimana kalau pengembangan sawit ke depan isu back to nature atau organic farming lebih diperhitungkan…

    Trims….

  5. Triyanto said, on March 21, 2008 at 1:11 pm

    Tahun lalu saya menulis tesis tentang analisis pengembangan biodiesel dari minyak kelapa sawit dan pengaruhnya terhadap pasokan minyak goreng di Indonesia. Mahalnya harga minyak goreng saat ini (sampai akhir 2009) telah diprediksi sejak akhir 2006. Korelasi positif antara harga minyak bumi dengan harga minyak sawit telah diketahui sejak lama (trend harga dari tahun 1974).

    Lalu apa keuntungannya dengan kita di Indonesia? Ternyata keuntungan terbesar dengan adanya program BBN dari minyak sawit adalah di sektor hulu (perkebunan kelapa sawit), disusul oleh sektor pengecer BBN dan logistik. Sedangkan pabrik BBN nya sendiri untungnya tidak seberapa dan ada peluang rugi. Dengan demikian, agar program BBN dari minyak kelapa sawit dapat sukses, maka harus dikelola secara integrated dari hulu, hilir hingga pemasaran. Kalau tidak, maka pabrik BBN akan timbul tenggelam.

    Beberapa perusahaan besar kelapa sawit telah membangun industri biodiesel dengan konsep multipurpose, artinya pabrik tersebut fleksibel dapat memproduksi metil ester (biodiesel), bisa memproduksi minyak goreng dan produk2 lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk jaga-jaga kalau harga CPO anjlok (di bawah US$ 700/ton), maka pabrik biodiesel dioperasikan untuk menyerap surplus CPO.

    Kesimpulan dari tesis saya pada saat itu adalah apa yang terpenting kita lakukan saat ini adalah mengembangkan sektor hulu semaksimal mungkin (karena memiliki value added tertinggi). Kita masih memiliki lahan yg cukup luas (24 juta ha) untuk dikembangkan. tetapi dalam implementasinya sulit memperoleh lahan itu, kenapa? banyak masalah… tumpang tindih kepemilikan, banyak spekulan tanah, resistensi dari LSM, dll. Dari sini disarankan dilakukan penelitian secara sosial ekonomi budaya guna mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang masih luas itu.

    Saat ini saya bersama-sama dengan beberapa teman sedang menggalakkan masyarakat di beberapa desa di kalimantan untuk berkebun kelapa sawit, sehingga masyarakat banyak dapat memetik keuntungan dari sawit, bukan hanya perusahaan besar. Kemakmuran petani sawit di kalimantan sudah mulai terasa, terutama mulai akhir tahun 2007. Banyak petani sawit yang sukses, meskipun pada awalnya dulu saya sangat susah mengajak mereka bertani sawit (alasan mau dijual ke mana, nggak bisa dimakan, masa panennya lama, dsb., diperparah oleh beberapa oknum LSM agar menolak sawit). Petani plasma pun sekarang sedang berpesta; untuk yg sudah lunas kreditnya, pendapatan mereka rata-rata 7 juta/kapling/bulan. Harga 1 kapling (2 ha) yg tahun lalu hanya 15 jt, saat ini sudah 50 jt. Inilah… mungkin salah satu cara kita untuk menolong petani Indonesia.

    Pada saat kesulitan ekonomi yang begitu dirasakan oleh masyarakat dan petani di pulau Jawa saat ini, petani-petani sawit di Kalimantan dan Sumatra tenang-tenang saja. Pembangunan pertanian harus tetap mengaplikasikan sistem Pertanian yang Berkelanjutan, dengan menghindari adanya nasib Petani miskin yang Berkelanjutan.

    Semoga,

  6. restiadi said, on July 31, 2008 at 3:24 am

    Pak Efendi boleh-kah tulisan anda saya publikasikan di blog saya?

    regards

  7. Efendi Arianto said, on July 31, 2008 at 8:16 am

    Silahkan Pak Restiadi, dan mohon menyebutkan alamat sumber asli tulisan tersebut.

    Salam,
    Efendi Arianto

  8. Felicia said, on November 4, 2008 at 7:23 am

    Pak Efendi, saya sedang menulis report mengenai cpo. Bagaimana cara Bapak untuk mendapatkan rumus Limit Harga Maksimal CPO untuk Konversi Bio Diesel? Data apakah yang Bapak gunakan? Terima kasih.

    Regards,

  9. Efendi Arianto said, on November 4, 2008 at 12:33 pm

    Felicia,

    Perumusan LPCPO = 7.5723*PCO – 79.545

    Saya bangun berdasarkan informasi grafis yang ada pada paper rujukan:
    Yahaya, Ahmad dan Kennedy. 2006. Impact on Biodiesel Development on Palm Oil Industry. Malaysian Journal of Economic Studies Vol. XXXXIII Nos. 1 & 2

    Dalam paper tersebut, perhitungan yang dilakukan mendasarkan pada data empiris industri minyak sawit yang ada di Malaysia. Penulis paper menyebutkan bahwa hasil kajian yang dilakukan adalah untuk penelitian akademis, dan tidak dimaksudkan untuk dipergunakan sebagai rujukan komersial.

  10. adie said, on November 4, 2008 at 3:16 pm

    dengan kondisi saat ini harga cpo yang kian anjlok, imbasnya bukan ke perkebunan besar tetapi yang paling terasa kepada pekebun skala kecil / petani sawit, dengan harga jual sampai dilevel terendah rp. 150/kg….mau diapakan nih harga sawit ? saya setuju dgn thesis mas trianto ttg tehnologi pengolahan cpo yg multi purpose, tidak lg pusing disaat cpo anjlok, sudah ada proses pengolahan yg terpadu hingga ke biodiesel….INDONESIA MAJU RAKYAT MAKMUR

  11. Bodong said, on January 23, 2009 at 6:03 am

    Di harian Kompas dalam beberapa minggu terakhir ini sering muncul artikel tentang dampak krisis finansial terhadap para pelaku agribisnis kelapa sawit di tanah air. Di sana sini dimunculkan potret suram wajah-wajah lesu petani kelapa sawit, rasa kecewa, putus asa, penderitaan dan seterusnya akibat harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit anjlok dari Rp. 2.000,- menjadi Rp. 600,- per kg. Sebagai respon atas artikel di Kompas tersebut, sebagai praktisi di bidang perkelapasawitan, hampir setiap hari saya dihubungi para petani kelapa sawit dari berbagai daerah untuk menjelaskan duduk perkaranya dan prospek agribisnis kelapa sawit ke depan. Maklum, saat ini usaha berkebun kelapa sawit sedang “booming” di beberapa daerah, yang tentu saja banyak pendatang baru yang menggeluti usaha ini, dan masih awam mengenai dinamika pahit-manisnya agribisnis kelapa sawit. Saya sendiri kuatir, kalau para pekebun tersebut tidak memperoleh informasi yang lengkap maka akan kontraproduktif terhadap perkelapasawitan di Indonesia. Paling tidak di sini perlu diberikan gambaran mengenai prospek agribisnis kelapa sawit di Indonesia.
    Sebelum mengulas mengenai prospek perkelapasawitan ke depannya, perlu direview beberapa hal berikut ini; pertama, krisis finansial tahun 2008 sekarang ini berbeda dengan krisis pada tahun 1997. Kalau pada krismon tahun 1997, para petani yang mengusahakan tanaman ekspor (kelapa sawit, karet, lada, dsb.) mendapat berkah akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, sehingga pada saat sebagian besar masyarakat di perkotaan menderita akibat krisis karena harga-harga kebutuhan pokok termasuk minyak goreng cenderung melambung dan bahkan langka, kondisi para petani perkebunan sangat makmur. Bahkan karena kenaikan harga minyak goreng dalam negeri yang sangat mengkhawatirkan secara potitik, maka dalam rangka stabilitas harga minyak goreng dalam negeri pemerintah menaikkan pajak ekspor CPO hingga 60%. Sedangkan pada krisis 2008 ini nilai tukar rupiah relatif stabil terhadap dollar, sehingga komoditi pertanian yang diekspor tidak memperoleh keuntungan dari selisih kurs. Krisis 2008 juga diiringi oleh penurunan harga minyak mentah hampir 50%, dimana harga minyak mentah memiliki korelasi yang positif terhadap harga CPO. CPO merupakan bahan baku utama untuk pembuatan biodiesel.
    Kedua, bahwa yang terimbas oleh krisis tahun 2008 ini tidak hanya komoditi kelapa sawit; semua komoditi perkebunan yang berorientasi ekspor terkena dampaknya. Sebagai contoh, harga karet di tingkat petani di beberapa daerah juga anjlok dari Rp. 9.000,- menjadi Rp. 4.500,-. Ini berarti kalimat kelapa sawit bukan lagi menjadi primadona adalah hanya reaksi sesaat, sehingga saat harga mulai naik reaksinya akan berubah lagi.
    Ketiga, bahwa investasi pada bisnis perkebunan kelapa sawit perlu dibedakan antara bisnis di sektor riil, yakni berinvestasi membangun/mengoperasikan kebun kelapa sawit kemudian memetik hasilnya selama satu siklus ekonomi, umumnya selama 25 tahun. Dan jenis investasi yang kedua adalah bisnis portofolio, yaitu berinvestasi dengan cara membeli saham-saham di bursa seperti UNSP, LSPI, AALI dan SAGRO. Dalam kenyataannya sebenarnya yang paling menderita kerugian akibat krisis sekarang ini adalah investor yang bermain dalam bisnis portofolio jangka pendek. Sebagai contoh; harga per lembar saham UNSP anjlok dari Rp. 2.400,- menjadi Rp. 460,- dalam hitungan minggu.
    Selanjutnya yang terpenting menurut saya saat ini adalah bagaimana menciptakan jiwa entrepreunership di kalangan para petani (sektor riil), sehingga mereka lebih ulet dan percaya diri akan prospek usahanya. Saya optimistis bahwa prospek agribisnis di Indonesia masih sangat cerah. Hal ini didasari oleh:

    Saya optimis bahwa harga CPO akan membaik dalam waktu yang tidak terlalu lama, hal ini didasari oleh:

    Pertama, pengalaman menunjukkan bahwa harga CPO selalu berfluktuasi. Harga CPO pernah anjlok hingga US$ 180 per ton (FOB Belawan) pada tahun 1986, dimana harga sebelumnya pada tahun 1984 mencapai US$ 950 per ton. Fluktuasi harga terus berlanjut hingga saat ini, dan sangat terasa karena sebelumnya harga melambung hingga US$ 1.200 yang akhirnya anjlok menjadi US$ 550. Fluktuasi harga tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

    (Sumber: Annual Report PT Lonsum, 2006)

    Kedua, komoditi pesaing CPO (ada 17 jenis: minyak kedelai, biji matahari, canola, kelapa, kacang tanah, dsb) relatif memiliki elastisitas supply dan demand yang cukup tingggi, karena umumnya komoditi pesaing CPO tersebut merupakan tanaman semusim (umur 3 – 5 bulan), sehingga pada saat harga minyak nabati turun maka para petani mengurangi supply dengan cara tidak menanam tanaman tsb. Kendala musim/cuaca juga tidak memungkinkan para petani terutama yang berada di daerah sub-tropik untuk terus menanam tanaman semusim. Dengan kondisi yang demikian maka supply minyak nabati pada semester berikutnya akan menurun, yang pada akhirnya akan memacu kenaikan harga minyak nabati di tingkat internasional.

    Ketiga, biaya produksi CPO adalah yang paling murah dibandingkan dengan biaya produksi minyak nabati lainnya; sehingga secara teoritis dalam pasar persaingan sempurna, otomatis produsen CPO lebih tahan terhadap fluktuasi harga. Sebagai ilustrasi, estimasi biaya produksi beberapa minyak nabati tahun 2001 dapat dilihat pada table berikut:

    Biaya Produksi Beberapa Minyak Nabati Dunia
    No. Negara Jenis Minyak Biaya
    Produsen Nabati US$/ton
    1. Indonesia kelapa sawit 165.2
    2. PNG kelapa sawit 215.8
    3. Australia rape seed 222.6
    4. Argentina kedelai 227.6
    5. Brazil kedelai 228.3
    6. Malaysia kelapa sawit 239.4
    7. Kanada rape seed 249.4
    8. Argentina bunga matahari 285.0
    9. Ukraina bunga matahari 292.2
    10. Colombia kelapa sawit 292.8
    Sumber: LMC, 2001

    Keempat, juga berdasarkan tabel di atas, biaya produksi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil) di Indonesia adalah yang paling murah dibandingkan biaya produksi CPO di negara-negara produsen CPO lainnya, sehingga secara teoritis seharusnya produsen CPO di Indonesia relatif lebih tahan terhadap teror fluktuasi harga.

    Mengenai kepanikan dan emosi sesaat para petani kelapa sawit di Indonesia pada saat krisis sekarang ini adalah salah satu bentuk ketidaktahuan dan keterbatasan wawasan mereka terhadap agribisnis kelapa sawit secara menyeluruh. Kesempatan ini jangan diperkeruh oleh beberapa pihak yang memunculkan opini yang kontraproduktif terhadap pengembangan agribisnis kelapa sawit dan kesejahteraan para petani. Awas! Beberapa investor asing saat ini siap-siap “menerkam” perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang akan diobral.
    Harapan agar pemerintah turun tangan mengatasi dampak krisis yang dialami oleh para petani kelapa sawit mungkin agak sulit dilakukan dalam jangka pendek ini. Kita tidak terlalu berharap pemerintah akan melaksanakan program seperti perlakukan terhadap para petani kedelai di AS maupun petani Canola di Eropa, dimana petani memperoleh subsidi mulai dari hulu hingga hilir, tetapi meninjau ulang besarnya pajak ekspor CPO adalah sesuatu yang sangat dihargai oleh para petani di Indonesia.

  12. risa said, on April 1, 2009 at 8:52 am

    pak efendi,saya sedang menyusun skripsi tentang CPO dan biodiesel. Artikel bapak benar-benar membantu dalam membuka wawasan saya.
    saya sudah coba membuka paper rujukan bapak di
    Yahaya, Ahmad dan Kennedy. 2006. Impact on Biodiesel Development on Palm Oil Industry. Malaysian Journal of Economic Studies Vol. XXXXIII Nos. 1 & 2

    tetapi tidak dapat di download karena keterbatasan akses,,bagaimana agar saya dapat mendownload keseluruhan paper tsb pak?
    kalau boleh tolong kirimkan paper tsb ke email saya pak

    mohon bantuannya pak, terimakasih.

  13. solvapotter said, on February 10, 2010 at 4:05 am

    salam..
    saat ini saya menjual CD cara berkebun kelapa sawit yang benar, hanya dengan harga 50 ribu/CD. jika ada yang berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.

    terima kasih

  14. h0404055 said, on April 5, 2010 at 5:14 pm

    Makasih Informasinya
    Silahkan kunjungi BLOG kami http://h0404055.wordpress.com
    Terdapat artikel yang menarik dan bermanfaat, apabila berkenan tolong silahkan beri komentar
    Salam Kenal dan Terima Kasih

  15. wawan said, on November 11, 2011 at 6:47 am

    maaf, mau tnya, tulisan ini apakah hanya artikel biasa atau sudah jd karya ilmiah sprti jurnal atau skripsi?, kalau iya, boleh minta link jurnalnya buat referensi…
    terima kasih..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: