Strategika!

Kritik Terhadap Implementasi Terkini dari Balanced Scorecard

Posted in Manajemen by efendi arianto on July 6, 2007

bsc-book2.jpg

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Jul 6, 2007. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

Balanced Scorecard telah menjadi pakem baru dalam dunia manajemen, khususnya pada bidang pengukuran kinerja dan penyelarasan strategi. Hal ini dapat dilihat dari kepopuleran Balanced Scorecard yang dicoba untuk diimplementasikan di berbagai perusahaan di dunia.

Konsep awal yang dibawa oleh Kaplan dan Norton adalah mengenalkan konsepsi baru dalam penyelarasan strategi perusahaan menggunakan empat perspektif: Customer, Finansial, Internal Process dan Learning and Growth. Konsepsi yang sangat logis, apalagi ketika kemudian diangkat pada konsepsi penyelarasan strategi yang lebih tinggi dengan Strategy Map. Sebuah terobosan yang esensial tentang bagaimana mengendalikan organisasi secara efektif.

Namun demikian, saya melihat adanya euforia yang berlebihan dalam implementasi konsep Balanced Scorecard ke dalam tatanan praktis. Sama seperti euforia mengenai konsep manajemen populer seperti Business Process Re-engineering atau Six Sigma.

Saya termasuk yang paling tidak setuju ketika Balanced Scorecard di bawa ke ranah pengukuran kinerja. Karena menurut saya, pengukuran kinerja tetaplah pengukuran kinerja, dan bukan Balanced Scorecard. Balanced Scorecard adalah sistem yang memerlukan keberadaan pengukuran kinerja, dan bukan sebaliknya. Saya lihat banyak organisasi terjebak dalam menggunakan Balanced Scorecard sebagai alat untuk pengukuran kinerja. Akibatnya, organisasi-organisasi ini gagal melakukan proses penyelarasan strategi karena terlalu sibuk membuat sistim pengukuran kinerja.

Perkembangan terkini yang dicoba diaplikasikan oleh banyak organisasi adalah membawa Balanced Scorecard ke tatanan pengukuran kinerja individu. Sesuatu yang menurut pandangan saya juga berlebihan dan kebablasan. Benar bahwa pelaku organisasi di level individu juga harus mempunyai “nilai rapor” yang dapat dipresentasikan dalam bentuk Scorecard seperti raport sekolah. Tetapi itu tetap saja sebuah Scorecard (baca: rapor), dan tidak perlu dipaksakan untuk masuk ke dalam konsepsi Balanced Scorecard (baca: “scorecard” yang “balanced”), dengan empat perspektifnya.

Balanced Scorecard hendaknya tetap berada di tatanan strategi organisasi di level atas. Tidak perlu dielaborasi sedemikian rupa hingga level terendah di organisasi. Elaborasi ke kompleksitas yang melebar saya kira hanya didasari kepentingan konsultan-konsultan manajemen yang sengaja membawa konsepsi Balanced Scorecard ke arena kompleksitas demi kelangsungan proyek-proyek implementasi Balanced Scorecard.

Barangkali saya memang harus tunduk untuk memaklumi hukum manajemen yang mengatakan: “dalam manajemen, tidak ada yang salah …”

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. S. H. N. Naibaho said, on October 25, 2007 at 4:01 am

    Sebetulnya tidak masalah sepanjang hal tersebut dapat dilaksanakan dengan proportional, setiap individu dalam organisasi dapat dengan mudah melakukannya dengan mudah, artinya semua parameter2 yang dijadikan tolok ukur disepakati dan dapat diukur berdasarkan dimensinya. Memang untuk kegiatan dengan produk standar relatif jauh lebih mudah kegiatan non-standar.
    07.10.25. 11:00 WIB

  2. Yodhia - Blog Strategi + Manajemen said, on June 4, 2008 at 2:15 am

    [……..Saya lihat banyak organisasi terjebak dalam menggunakan Balanced Scorecard sebagai alat untuk pengukuran kinerja. Akibatnya, organisasi-organisasi ini gagal melakukan proses penyelarasan strategi karena terlalu sibuk membuat sistim pengukuran kinerja…..]

    Saya rasa kalimat diatas perlu juga dieksplorasi lebih jauh….saya kok masih belum bisa menangkap esensi dari gagasan kalimat itu.

    Saya sendiri melihat balanced scorecard secara lebih sederhana : bagaimana pengukuran kinerja sebaiknya dipetakan dalam empat perspektif (finansial, customer, prosess dan learning); dan kemudian diidentifikasikan KPI untuk tiap sasaran yang disusun.

    Saya rasa itu saja sumbangan paling penting dari Bsc – yakni memetakan kinerja dalam empat dimensi. Sebab pengukuran berdasar KPI sendiri telah ada sejak jaman Frederick Taylor dan Revolusi Ford tahun 20-an.

    Ulasan saya mengenai Bsc ini bisa Anda baca disini :
    http://strategimanajemen.net/2007/11/01/strategy-maps-peta-untuk-mengelola-kinerja-perusahaan/

    Anyway, thanks banget buat kritikannya. Sebagai konsultan yang telah mengimplementasikan sejumlah projek Bsc di banyak perusahaan, saya merasa tersentil dengan tulisan Anda ini…..hehehehehe.

  3. triagung said, on January 3, 2009 at 3:08 pm

    Artikel mengenai kritik praktisi terhadap BSC juga terdapat di link berikut:

    http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1094308

    Sekedar berpendapat, dalam manajemen memang tidak ada yang salah. Semuanya benar dengan pre kondisi / asumsinya masing-masing. Salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: