Strategika!

Analisa Ekonomi Minyak Sawit: Sisi Penawaran Malindo dan Sisi Permintaan Chindia

Posted in Ekonomi, Kelapa Sawit by efendi arianto on July 6, 2007

proses-sawit.jpg

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Jul 6, 2007. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

Note: Malindo = Malaysia dan Indonesia, Chindia = China dan India

PENDAHULUAN

Sektor industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor unggulan bagi negara Malaysia dan Indonesia. Hal ini dikarenakan kondisi geografis wilayah Malaysia dan Indonesia memang sangat cocok untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Malaysia dan Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Hingga tahun 2005, lebih dari 85% produksi minyak dunia dihasilkan oleh dua negara produsen utama minyak sawit, yaitu Malaysia dan Indonesia.

Pengembangan perkebunan kelapa sawit di Malaysia dan Indonesia menjadi sangat berkembang pesat dikarenakan:

1. Kebutuhan minyak nabati dunia cukup besar dan akan terus meningkat, sebagai akibat jumlah penduduk maupun tingkat konsumsi per kapita yang masih rendah.

2. Di antara berbagai jenis tanaman penghasil minyak nabati, kelapa sawit tanaman dengan potensi produksi minyak tertinggi.

3. Semakin berkembangnya jenis-jenis industri hulu pabrik kelapa sawit maupun industri hilir oleokimia dan oleomakanan (oleochemical dan oleofoods), hingga industri konversi minyak sawit sebagai bahan bakar biodiesel.

Tulisan ini bermaksud untuk melihat perkembangan industri kelapa sawit di Malaysia dan Indonesia dari sisi produksi, dengan melihat sisi permintaan dari potensi pasar di China dan India yang merupakan pasar potensial bagi produk minyak sawit Malaysia dan Indonesia.

ANALISA INDUSTRI

Pada bagian berikut dilakukan analisa industri dengan mengacu pada kerangka Five Forces sebagaimana terlihat dalam Gambar 1.

Gambar 1. Five Forces Framework

g1-competitive-forces.jpg

Power of Buyer dan Power of Input Supplier

Sebagai produk komoditas, maka perdagangan minyak kelapa sawit diatur oleh pasar komoditas, baik nasional maupun internasional. Oleh karenanya kekuatan dari pembeli untuk mempengaruhi pasar tidak cukup dapat mempengaruhi harga. Demikian pula supplier tidak terlalu dapat bertindak secara nyata dalam mempengaruhi pasar.

Industry Rivalry

Persaingan dalam industri minyak sawit tidak terjadi secara nyata di tingkat upstream (minyak sawit/crude palm oil). Yang terjadi justru produsen besar minyak sawit, yaitu Malaysia dan Indonesia mengarah kepada kolusi industri untuk mengatur pasar minyak sawit dunia. Persaingan dalam memperebutkan pasar secara intensif baru terjadi di tingkat downstream pada produk-produk turunan lanjutan seperti minyak goreng, margarin, dan sebagainya.

Barrier to Entry

Dengan tuntutan skala usaha yang besar serta padat karya, sektor perkebunan kelapa sawit memberikan barrier to entry yang besar. Efisiensi produksi perkebunan kelapa sawit akan optimal jika dilakukan di daerah tropis. Disamping itu ketersediaan lahan dan kebutuhan tenaga kerja yang banyak merupakan faktor penentu utama pengembangan perkebunan kelapa sawit. Oleh karenanya tidak banyak wilayah yang dapat mengembangkan perkebunan kelapa sawit dengan skala yang sangat besar sebagaimana dilakukan di Malaysia dan Indonesia.

Substitutes and Complements

Minyak kelapa sawit selama ini merupakan bahan dasar untuk minyak pangan maupun minyak non pangan yang bersaing langsung dengan minyak kedelai, kanola, minyak jagung dan minyak bunga matahari.

Potensi Pasar Minyak Sawit

Kebutuhan minyak nabati dan lemak dunia terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Jumlah penduduk di daerah asia dan timur jauh telah mencapai 3,2 milyar atau meliputi 50% penduduk dunia (Pahan, Iyung. 2006). Dari sisi konsumsi minyak makan, kawasan asia masih memiliki tingkat konsumsi di bawah rata-rata konsumsi dunia, dan sejalan dengan tingkat kemakmuran yang akan terus meningkat di wilayah ini, maka konsumsi minyak makan juga akan terus tumbuh. Hal ini menunjukkan potensi pasar yang besar untuk minyak sawit.

Dari sisi geo strategis, terlihat bahwa pasar China dan India dengan jumlah penduduk yang besar merupakan pasar yang harus dimaksimalkan oleh produksi minyak sawit Malaysia dan Indonesia. Kedekatan jarak merupakan nilai tambah bagi Malaysia dan Indonesia. Oleh sebab itu, memaksimalkan pasar China dan India jelas lebih menguntungkan ketimbang menjual produksi ke wilayah Eropa atau Amerika yang mempunyai jangkauan jarak yang lebih jauh sehingga akan memerlukan biaya angkut yang lebih tinggi.

Gambar 2. Keunggulan Geo Strategis

g2-geo-strategi.jpg

Struktur Biaya Produksi

Biaya produksi minyak sawit terdiri atas (Pahan, Iyung. 2006): biaya pemeliharaan (47%), biaya panen (30%), biaya tidak langsung pabrik (8%), biaya pengolahan (11%) dan biaya kantor pusat/perwakilan (3%). Dari presentase biaya produksi minyak sawit, maka biaya perawatan merupakan faktor biaya utama.

Economies of scope bisa diperoleh oleh perkebunan-perkebunan besar yang terintegrasi, sehingga dapat mengoptimalkan biaya produksi. Pada tingkat yang efisien, biaya produksi minyak sawit per ton adalah sekitar US$200, jauh lebih efisien dibandingkan biaya produksi minyak nabati jenis lainnya, sebagaimana terlihat dalam Gambar 3.

Gambar 3. Biaya Produksi Minyak Nabati

g3-cost-sawit.jpg

ANALISA SISI PENAWARAN

Penawaran Minyak Sawit

Pasar minyak sawit dunia hingga pada tahun 2005 mencapai total produksi lebih dari 33 juta ton, lebih dari 85% diantaranya diproduksi oleh Malaysia dan Indonesia. Pertumbuhan produksi minyak sawit oleh Malaysia dan Indonesia terus tumbuh secara signifikan dalam sepuluh tahun terakhir sejalan dengan ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit yang meningkat dengan tingkat pertumbuhan di atas 7% per tahun (BPS. 2005).

Dari tabel produksi minyak sawit dunia selama kurun waktu 1995-2005 (lihat Lampiran 1) dapat diketahui bahwa empat besar produsen di tahun 2005 adalah Malaysia, Indonesia, Nigeria dan Thailand. Namun demikian, Thailand baru masuk ke dalam jajaran 4 besar sejak tahun 1998 setelah sebelumnya berada di bawah Kolombia.

Gambar 4. Produksi Minyak Sawit Dunia 2005

g4-prod-sawit.jpg

Empat produsen utama minyak sawit dunia pada tahun 2005 adalah Malaysia, Indonesia, Nigeria dan Thailand. Masing-masing dengan jumlah produksi minyak sawit sebesar 14,96 juta ton, 13,60 juta ton, 0,8 juta ton dan 0,685 juta ton. Total produksi minyak sawit dari keempat produsen tersebut adalah sejumlah 30,05 juta ton, sedangkan total produksi minyak sawit dunia pada tahun 2005 adalah sebesar 33,33 juta ton.

Gambar 5. Produksi Minyak Sawit oleh Empat Produsen Terbesar (000, Ton)

g5-4-produsen.jpg

Berdasarkan data produksi dari seluruh produsen minyak sawit dunia tahun 2005 dapat dihitung konsentrasi industri dalam formulasi Four Firm Concentration Ratio (C4) yang mengacu kepada empat produsen terbesar dan Herfindahl-Hirschman Index (HHI) yang dihitung dari seluruh produsen.

Four Firm Concentration Ratio (C4)

Pangsa pasar dari keempat produsen utama minyak sawit dunia dapat dihitung: Four firm concentration ratio (C4) = 30.05/33.33 = 0.90. Dengan demikian pasar minyak sawit merupakan pasar oligopoly.

Herfindahl-Hirschman Index (HHI)

Herfindahl-Hirschman Index (HHI) dapat dihitung dengan formulasi sebagai berikut: HHI = [ 10000 * Sigma-w]
Dengan menggunakan data produksi minyak sawit dunia tahun 2005, maka diperoleh hasil HHI = 3708. Dengan demikian dapat disimpulkan industri minyak sawit adalah concentrated.

Aliansi Strategis Produsen Minyak Sawit Malaysia dan Indonesia

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, penawaran minyak sawit dunia 85% diantaranya diproduksi oleh Malaysia dan Indonesia. Penguasaan pasar yang signifikan ini telah menyebabkan strategi kolusi secara indikatif telah dilakukan oleh Malaysia dan Indonesia. Hal ini perlu dilakukan dalam upaya untuk mengamankan pasar industri yang bagi kedua negara tersebut sangat strategis.

Untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antara Malaysia dan Indonesia, pemerintah kedua negara telah sepakat melakukan kerjasama strategis. Bentuknya melakukan ekspansi dalam produksi dan pamasaran hasil produksi perkebunan kelapa sawit di kedua negara. Kesepakatan itu dihasilkan dari pertemuan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla dengan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato’ Sri Mohammad Najib bin Tuan Abdul Razak di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 29 Maret 2006 (Harian Kompas, 31 Maret 2006, dalam artikel: Industri Sektor Sawit Dipacu Malaysia-Indonesia Lakukan Aliansi Strategis).

Model Penawaran Minyak Sawit Malaysia dan Indonesia

Penawaran minyak sawit dunia oleh Malaysia dan Indonesia dimodelkan sebagai:

QS = a + CPS(t-1) + CPP(t-1) + SOP(t-1)

Dimana:
QS = jumlah produksi minyak sawit (CPO) pada tahun t dalam Juta Ton
CPS(t-1) = jumlah produksi minyak sawit (CPO) pada tahun (t-1)
CPP(t-1) = harga minyak sawit pada tahun (t-1)
SOP(t-1) = harga minyak kedelai pada tahun (t-1)

Hasil analisa produksi minyak sawit selama periode tahun 1995-2005 yang dihasilkan oleh Malaysia dan Indonesia terlihat dalam Tabel 1.

Tabel 1. Regresi Penawaran Minyak Sawit Malaysia dan Indonesia 1995-2005

tabel1-regresi-penawaran.jpg

Dari hasil regresi penawaran minyak sawit oleh Malaysia dan Indonesia dapat diambil kesimpulan:

1. Untuk total Malaysia dan Indonesia, hanya variabel jumlah produksi minyak sawit tahun sebelumnya yang terbukti secara statistik berpengaruh terhadap produksi minyak sawit.

2. Untuk Malaysia, ketiga variabel dipilih tidak secara nyata memberikan pengaruh kepada model yang dibentuk.

3. Untuk Indonesia, harga minyak sawit tahun sebelumnya terbukti signifikan berpengaruh terhadap produksi minyak sawit.

ANALISA SISI PERMINTAAN

Permintaan Komoditas Minyak Sawit oleh China dan India

Konsumsi minyak sawit sebagai bahan pangan tentunya berbanding lurus dengan jumlah penduduk suatu wilayah. Total jumlah penduduk China dan India mencapai sekitar 2,38 milyar orang di tahun 2005. Oleh karena itu, sangat relevan jika pasar minyak sawit China dan India diteliti guna memahami perilaku permintaan minyak sawit di kedua negara tersebut.

Tabel 2. Permintaan Minyak Sawit oleh China dan India, 1995-2005 (000 Ton).

tabel2-permintaan-sawit.jpg

Model Permintaan Minyak Sawit China dan India

Permintaan minyak sawit oleh China dan India dimodelkan sebagai:
QD = a + b.CPP + c.SOP + d.PUP + e. GDP

Dimana:
QD = jumlah minyak sawit (CPO) yang diimpor
CPP = harga minyak sawit, CIF Rotterdam dalam US$ per Ton
SOP = harga minyak kedelai, CIF Rotterdam, dalam US$ per Ton
POP = jumlah penduduk dalam Juta
GDP = GDP per capita, dalam US$

Hasil analisa dengan mengamati data permintaan minyak sawit oleh China dan India selama periode tahun 1995 – 2005 dengan mempertimbangkan variabel-variabel yang mempengaruhinya, terlihat dalam Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Regresi Permintaan Minyak Sawit oleh China dan India 1995-2005

tabel3-regresi-permintaan.jpg

Dari Tabel 3 di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Fungsi permintaan minyak sawit untuk China dapat dituliskan sebagai:
Q = 29,793.97 – 2.48*CPP + 4.37* SOP – 27.06*POP + 5.05*GDP
Namun demikian, karena variabel CPP tidak signifikan, fungsi permintaan dapat diteliti lebih lanjut dengan mengeluarkan variabel CPP.

2. Fungsi permintaan minyak sawit untuk India dapat dituliskan sebagai:
Q = – 32,649.00 – 7.46*CPP + 3.98* SOP + 45.81*POP – 18.19*GDP
Dari tabel dapat dilihat bahwa variabel GDP tidak signifikan. Fungsi yang lebih tepat untuk India dapat diteliti lebih lanjut dengan mengeluarkan variabel GDP dari fungsi regresi.

3. Fungsi permintaan minyak sawit untuk China dan India secara bersama-sama dapat dituliskan sebagai:
Q = – 34,651.50 – 11.46*CPP + 10.89* SOP + 17.58*POP – 0.22*GDP
Permintaan minyak sawit oleh China dan India secara bersama-sama dipengaruhi oleh Harga Minyak Sawit, Harga Minyak Kedelai dan Jumlah Penduduk. Sedangkan untuk variabel GDP per capita, tidak terbukti secara statistik berpengaruh.

Elastisitas Permintaan

Dengan diketahuinya fungsi permintaan minyak sawit, maka elastisitas permintaan dapat dihitung untuk tahun 2005 sebagai berikut:
China, Ep_C = (dQ/dCPP)*(CPP/Q) = -2.48*(433.76/4,350) = -0.247
India, Ep_I = (dQ/dCPP)*(CPP/Q) = -7.46*(433.76/3,326) = -0.972
China+India, Ep_CI = (dQ/dCPP)*(CPP/Q) = -11.46*(433.76/7,676) = -0.647

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa minyak sawit adalah produk inelastis, hal ini dapat dijelaskan karena minyak sawit selama ini merupakan barang komoditas yang sebagian besar diolah lebih lanjut sebagai bahan pangan.

PENUTUP

Kajian ini telah memperlihatkan mekanisme ekonomi dari pasar minyak sawit, yaitu dari sisi penawaran oleh dua produsen utama minyak sawit dunia, Malaysia dan Indonesia, dan dari sisi permintaan oleh pasar China dan India. Pemahaman mengenai mekanisme ekonomi ini seyogyanya dapat dijadikan acuan untuk pengkajian lebih lanjut yang terkait dengan strategi pengembangan industri kelapa sawit Indonesia, baik dari sisi geo-strategis maupun sisi aliansi strategis.

Pada saat ini, masa depan pengembangan industri minyak sawit mengarah pada konversi minyak sawit sebagai bahan bakar. Hal ini telah menyebabkan peta industri minyak sawit bergeser dari industri minyak makan menjadi industri energi. Oleh karenanya strategi pengembangan industri dan mekanisme ekonomi minyak sawit harus dilihat kembali dengan memasukkan faktor bahan bakar fosil sebagai salah satu variabel penentu dalam kajian ekonomi minyak sawit.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2005. Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2004. BPS. Jakarta.

Baye, Michael R. 2006. Managerial Economics and Business Strategy. McGraw-Hill International. New York.

Food and Agricultural Policy Research Institute. 2006. Commodity Databases. Diunduh dari www.fapri.org pada tgl. 20 Desember 2006.

Hartono, Tony. 2006. Mekanisme Ekonomi. PT Remaja Rosdakarya Offset. Bandung

Malaysia Palm Oil Board. 2007. Data Produksi Minyak dan Lemak. Diunduh dari www.mpob.gov.my pada tgl. 20 Desember 2006.

Mankiw, N. Gregory. 2006. Principle of Economics — Pengantar Ekonomi Mikro. Penerbit Salemba. Jakarta

________. 2006. Principle of Economics — Pengantar Ekonomi Makro. Penerbit Salemba. Jakarta

Pahan, Iyung. 2007. Panduan Lengkap Kelapa Sawit, Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Depok

PT SMART Tbk. 2006. Company Presentation. Laporan internal PT SMART Tbk. Diunduh dari www.smart-tbk.com pada tgl. 20 Desember 2006.

Salvatore, Dominick. 2005. Ekonomi Manajerial. Edisi Kelima. Jilid 1 dan 2. Salemba Empat. Jakarta.

U.S. Bureau of the Census. 1999. Report WP/98, World Population Profile: 1998, U.S. Government Printing Office, Washington, DC. Diunduh dari www.worldbank.org pada tgl. 6 Mei 2006.

14 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. misda taufik said, on August 23, 2007 at 6:48 am

    analisa nya bagus sekali dan terima kasih atas informasinya .

  2. Iyung Pahan said, on August 25, 2007 at 5:25 pm

    Pak Efendi,
    Alliance between Indonesia and Malaysia palm oil industry can roughly be grouped into two categories: transactional and strategic alliances. Our study reviewed the argument in two streams of alliance that are identified with three main criteria: mutual economic benefit, trust, and governance. The study recounts Indonesia motives to engage in alliance and formulate the fitting strategy: starting with strategic positioning at bilateral cooperation stage (transactional alliance), and transforming it into added value strategy when the cooperation stage down into business association and/or firms level (strategic alliance). Integration of bilateral palm oil industry cooperation into Indonesia palm oil industry cluster is transformation of transactional alliance become strategic alliance through value chain partnering formation. The ideal cluster of Indonesia palm oil industry are Riau and North Sumatra provinces that integrating upstream, intermediate, and downstream industries with domestic market as base load of export market. The semi ideal clusters are integration of upstream industry at Central Kalimantan, West Kalimantan and East Kalimantan provinces with intermediate and downstream industries at Banten and West Java provinces as strengthening of production base and products diversification from upstream to downstream.

  3. EKA VAULINA said, on September 14, 2007 at 5:39 am

    AQ LG MENELITI MENGENAI PERAMALAN AGROINDUSTRI KELAPA SAWIT KHUSUSNYA DIBIDANG PERMINTAAN DAN PENAWARAN.TOLONG BERIKAN IDE ATAU INFORMASI KE EMAILKU Y. THANKS

  4. david said, on September 17, 2007 at 3:10 am

    kalau misalkan saya memiliki perkebunan kelapa sawit, lalu setelah saya panen,biasanya industri akan membeli dalam per kilogram atau tidak?kalau tidak, industri biasanya membeli dalam satuan apa?trimakasih

  5. syaiful b ibrahim said, on September 25, 2007 at 7:06 am

    Dear Author

    PLN merencanakan untuk mensubsitusi Solar dengan Biodiesel 80 % Refine CPO : 20 % HSD. Konsumsi HSD PLN pertahun 2007 sebesar 14 Juta Kl. Kalau kita ingin pada tahun 2008, 10 % HSD subsitute oleh Refine CPO. Jadi diperlukan kurang lebih 1.4 juta Kl CPO. Tolong saya diberi bekal reference atau info untuk mempelajari kemungkinan hal tersebut.

  6. ragimun said, on November 21, 2007 at 3:09 am

    bagus nih bisa buat referensi, ada ngga mengenai forcast cpo untuk th depan. trim’s

  7. sartono said, on November 29, 2007 at 2:08 pm

    perkembangan ekonomi chindia cukup menarik untuk diamati, setidaknya ada 2 hal, pertama, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil memberi dua kemungkinan yang nyata berupa peluang ataupun ancaman, kedua, jumlah penduduk yang besar menjadi peluang tersendiri bagi perluasan pasar untuk berbagai komoditas, yang salah satunya adalah minyak kelapa sawit. saat ini saya sedang menyusun thesis yang coba melihat pengaruh pertumbuhan chindia terhadap industri pertanian di indonesia secara luas. di komoditas mana dampak pertumbuhan chindia berpengaruh positif dan di komoditas mana yang tidak. masukan atau saran sangat saya harapkan dengan mengirimnya ke email anton_pscif@yahoo.com

  8. susi said, on December 5, 2007 at 2:50 am

    bagaimana cara untuk mempelajari trend harga minyak klapa sawit yang turun naik itu?

  9. Zeffry said, on December 14, 2007 at 11:07 am

    Ok juga pak Effendie sudah bisa mengaplikasikan teori-teori di DMB-2 ke masalah nyata. Tulisannya bisa jadi referensi jawaban ujian LEB no B1.

  10. Triyanto said, on March 26, 2008 at 3:21 am

    Kenapa India dan China? Ada satu alasan strategis terutama dari aspek manajemen pemasaran, yang sebenarnya malu-malu untuk disampaikan, yaitu bahwa di kedua negara tersebut tidak terlalu rewel dengan permasalahan-permasalahan lingkungan. Di Eropa dan beberapa negara lainnya saat ini mulai “rewel” dengan produk minyak sawit dari Indonesia/malaysia, dengan alasan kelapa sawit merusak hutan tropis, mencaplok hak-hak adat, dll.

    Dalam kaitan dengan bahan bakar nabati, sektor hulu (perkebunan kelapa sawit dg produk CPO) memiliki nilai tambah yg paling tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya seperti pabrik biodiesel, transportasi maupun retailer BBN. Saat ini menurut saya konsentrasi kita tidak perlu terfokus ikut2an mengembangkan produk hilir, karena nilai lebih negara kita adalah ketersediaan lahan dan iklim yg cocok, jadi lebih baik mengembangkan sektor hulu dengan memanfaatkan potensi lahan yg kita punya.

    Pengembangan sektor hulu yang belum tergarap adalah pemanfaatan lahan yg luasnya kecil dan terfragmentasi tetapi secara keseluruhan total luas areal tersebut sangat besar. Di beberapa desa di Sumatra dan Malaysia, banyak masyarakat menanam kelapa sawit di pekarangan rumahnya (meski hanya 4-5 pohon), tapi hasilnya cukup lumayan untuk dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pengembangan perkebunan kelapa sawit rakyat mutlak dilakukan, baik melalui program pemerintah (revitalisasi), swadaya masyarakat, maupun pola inti-plasma. Permasalahan untuk perkebunan rakyat ini umumnya adalah masalah permodalan, akses pemasaran, akses informasi dan teknologi dan kesulitan akses “bibit asli” kelapa sawit yg selama ini di”kuasai” oleh perkebunan besar. Beberapa “oknum” perusahaan besar juga masih beranggapan bahwa perkebunan rakyat akan menjadi pesaing dan memunculkan kasus-kasus pencurian TBS, pupuk dsb. Beberapa pihak pun sering memberikan informasi yg keliru mengenai kelapa sawit sehingga banyak petani yg enggan dan bahkan menolak tanaman kelapa sawit. Di sinilah peran kita semua bagaimana menyelesaikannya.

  11. Ndaru N Sigit said, on July 20, 2008 at 2:08 pm

    Dear Pak Efendi
    Saya ingin meneliti adanya pergeseran investor saham dari perusahaan energi fosil ke pembelian saham perusahaan pertanian, khususnya kelapa sawit. Apa bapak bisa memberi masukan buat saya ? Faktor2 apa saja yang perlu saya teliti ??

  12. allen said, on September 7, 2008 at 7:34 pm

    Saya mahasiswa semester akhir yang sedang menulis skripsi. Skripsi saya tentang perdagangan ekspor kelapa sawit indonesia.

    Yang akan saya tanyakan adalah :
    1. Mengapa pasar new york menjadi patokan harga, bukan pasar amsterdam atau pasar lainnya?
    2. Bagaimana jalur perdagangan ekspor kelapa sawit ke negara-negara pengimpor?

    Terima kasih atas perhatian yang diberikan.

  13. suryo said, on April 27, 2011 at 6:40 am

    Siang

    Analisanya menarik sekali Pak…Mohon maaf mohon bantuannya apakah Bapak memiliki informasi mengenai analisa industri kimia dan ritel diindonesia Pak. Mohon bila ada dikirimkan ke e-mail Pak

    Terima Kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: