Strategika!

Dampak Berita Kesehatan Presiden Terhadap Tingkat Keuntungan Saham

Posted in Manajemen by efendi arianto on July 5, 2007

soeharto-sakit.jpg

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Jul 5, 2007. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

[Tulisan ini pernah dimuat di majalah Manajemen, ISSN: 0216-1400, edisi Januari-Februari 1997; ditulis bersama dengan Rachmat Hidayat, Alumni MM STM PPM]

PENDAHULUAN

Pada hari Kamis tanggal 4 Juli 1996, kantor berita Reuters menyiarkan berita tentang kondisi kesehatan Presiden Soeharto yang diikuti dengan melemahnya mata uang Rupiah di pasar Singapura. Pelemahan Rupiah ini kemudian diikuti dengan berjatuhannya harga saham di Bursa Efek Jakarta sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot turun 5,5 poin dari indeks pembukaan 594. Indeks sempat terangkat kembali ketika Menteri Sekretaris Negara Moerdiono menyatakan bahwa Presiden Soeharto tetap sehat. Tetapi pada hari Jumat tanggal 5 Juli 1996, harga saham kembali jatuh setelah terdapat konfirmasi bahwa Presiden Soeharto akan berangkat ke Eropa guna melakukan pemeriksaan kesehatan. IHSG kemudian turun ke tingkat 575.

Apa yang terjadi di Bursa Efek Jakarta pada minggu pertama bulan Juli tahun 1996 tersebut serupa dengan yang terjadi di Singapura ketika Menteri Senior Lee Kuan Yew diberitakan akan menjalani operasi medis. Karena kekhawatiran adanya keguncangan terhadap pasar saham, maka diusulkan agar jadwal operasi medis yang dilakukan oleh Lee Kuan Yew agar disesuaikan waktunya sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap bursa saham.

Memang terdapat keterkaitan antara spekulasi yang terjadi di bursa saham dengan isu yang menimpa seorang kepala pemerintahan. Hal ini mudah dimengerti, karena jika terjadi sesuatu pada seorang kepala pemerintahan, maka akan muncul prediksi dan spekulasi tentang masa depan negara dan pemerintahannya. Oleh karenanya wajar jika pasar saham (dan juga pasar uang) bereaksi. Apabila muncul spekulasi positif, maka pasar akan bereaksi positif, dan sebailknya jika terdapat isu ketidakpastian, maka tentunya pasar juga akan bereaksi negatif.

PENGARUH BERITA TERHADAP KEUNTUNGAN SAHAM

Ada dua faktor penting yang harus diperhatikan dalam melihat naik turunnya harga suatu saham, yaitu systematic risk dan unsystematic risk. Dua faktor ini menjadi acuan manajer investasi dalam mengelola portfolionya, karena melakukan analisa saham sebenarnya adlah melakukan analisa resiko yang ada, yaitu untung ruginya. Systematic Risk adalah resiko yang terkandung dalam internal perusahaan yang mengeluarkan saham. Sedangkan unsystematic risk adalah resiko yang disebabkan oleh keadaan yang terjadi di luar perusahaan, misalnya kebijakan makro dan situasi politik suatu negara.

Berita tentang kesehatan Presiden Soeharto pada awal Juli 1996 telah menyebabkan pasar bereaksi negatif, dan ini adalah kejadian yang diakibatkan oleh unsystematic risk.

Apakah informasi tentang kesehatan Presiden memberikan dampak yang lebih dari keadaan normal pada saham-saham (atau portfolio) yang “dekat“ dengan Presiden, baik sebagai pribadi maupun sebagai kepala negara?

Untuk dapat menjawa pertanyaan di atas, dapat dilakukan suatu teknik pengujian yang dikenal sebagai Studi Peristiwa (event study). Kebanyakan studi peristiwa mengkaji peristiwa yang berkaitan dengan perusahaan (corporate event) seperti pembagian dividen, pemogokan, penarikan produk dari pasar, perubahan kepemilikan, penggantian manajemen dan sebagainya.

Dampak corporate event pada harga saham dapat diambil sebagai contoh sederhana sebagai berikut. Pada suatu ketika manajemen sebuah perusahaan X mengumumkan rencana peningkatan penjualan tahun depan. Beberapa saat setelah munculnya pengumuman tersebut harga saham perusahaan X segera naik. Tetapi sesungguhnya kenaikan harga saham yang terjadi tidak serta merta menunjukkan bahwa rencana peingkatan penjualan telah menyebabkan kenaikan harga saham. Apabila pasar memang sedang bergerak naik, katakanlah dengan tingkat keuntungan 20 persen, sementara harga saham perusahaan X hanya naik 10 persen, maka boleh jadi informasi mengenai peningkatan angka penjualan justru mengakibatkan pukulan pada saham perusahaan X tersebut.

Karenanya untuk melihat apakah corporate events tentang rencana kenaikan penjualan ini berpengaruh terhadap harga saham perusahaan X, perlu dibandingkan antara harga saham apabila tidak ada pengumuman tentang rencana kenaikan angka penjualan denga harga sebenarnya, yaitu setelah ada pengumuman kenaikan angka penjualan.

DATA YANG DIAMATI

Dalam kasus menyangkut berita kesehatan Presiden, pasar secara keseluruhan mengalami pukulan dengan turunnya indeks pasar. Tulisan ini membahas, apakah saham-saham dari perusahaan yang diteliti mengalami penurunan harga lebih besar dari keadaan normal. Saham PT Bimantara Citra (BMTR), PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP), PT Tripolyta Indonesia (TPIA) dan PT Plaza Indonesia Realty (PLIN), dipilih karena menurut pertimbangan panulis memiliki keterkaitan dengan Presiden Soeharto sebagai pribadi. Kemudian diamati juga saham-saham PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT Indosat (ISAT), PT Tambang Timah (TINS) dan PT Semen Gresik (SMGR), yang merupakan saham-saham BUMN dan terkait langsung dengan Presiden Soeharto sebagai kepala negara.

Dengan melakukan uji statistik, saham PLIN dan TPIA tidak disertakan dalam analisa. Hali ini dikarenakan untuk saham PLIN, hasil regresi tidak menunjukkan relevansi uantuk dipergunakan dalam analisa. Sedangkan untuk TPIA, tidak memiliki data harga saham yang masa lalu yang cukup untuk dapat dilakukan analisa statistik.

Data harga saham BMTR, CMNP, TLKM, ISAT, TINS dan SMGR adalah harga saham harian dari tanggal 1 April hingga 10 Juli 1996. Data harian harga saham pada periode 1 April hingga 30 Juni 1996 dipergunakan untuk membuat persamaan regresi dari masing-masing return harga saham harian terhadap return IHSG harian. Data harga saham harian pada periode 1 Juli hingga 10 Juli 1996 digunakan sebagai acuan untuk mebandingkan return saham yang diprediksikan dengan return saham sesungguhnya.

Return saham dihitunga dengan rumus sebagai berikut:

Rj = (Rjt – Rjt-1) / Rjt-1

Rj adalah return saham j
Rjt adalah return saham j pada waktu t
Rjt-1 adalah return saham j pada waktu t-1

Return pasar, yang merupakan return indeks harga saham gabungan dihitung dengan rumus:

Rm = (IHSGt – IHSGt-1) / IHSGt-1

Rm adalah return pasar
IHSGt adalah indeks harga saham gabungan pada waktu t
IHSGt-1 adalah indeks harga saham gabungan pada waktu t-1

METODOLOGI

Langkah pertama yang perlu diambil dalam melakukan studi peristiwa adalah identifikasi tanggal terjadinya peristiwa tersebut. Pada tanggal 4 Juli 1996 Reuters mengeluarkan laporan bahwa Presiden Soeharto akan berobat ke Jerman sehubungan dengan penyakit jantung dan pembengkakan hati. Tanggal 5 Juli 1996 Menteri Sekretaris Negara Moerdiono memberikan pernyataan bahwa Presiden Soeharto akan melakukan pemeriksaan kesehatan di salah satu negara Eropa. Pernyataan resmi Menteri Moerdiono pada tanggal 5 Juli 1996 ini dipilih sebagai tanggal acuan (hari 0) untuk studi peristiwa ini.

Urutan penelitian dilakukan sebagai berikut:

1). Mendapatkan data harian harga saham dan IHSG periode 1 April 1996 hingga 15 Juli 1996
2). Menghitung tingkat keuntungan harian dari masing-masing saham dan IHSG
3). Mendapatkan fungsi regresi dari masing-masing saham dengan single index market model untuk periode pengamatan 1 April 1996 hingga 30 Juni 1996
4). Menghitung prediksi tingkat keuntungan (estimated return) masig-masing saham untuk periode 1 Juli hingga 10 Juli 1996 dengan fungsi regresi yang telah dibentuk.
5). Menghitung residual return (actual return-estimated return) masing-masing saham untuk periode event date (yaitu 1 Juli hingga 10 Juli 1996).
6). Mengitung average residual (AR) dan cummulative average residual (CAR) saham-saham untuk periode event date.

Fungsi regresi dari masing-masing saham yang diamti dan disusun dengan menggunakan single index market model adalah sebagai berikut:

Rjt = aj + bjt*Rmt

Rjt adalah tingkat keuntungan pasar, dalam hal ini diwakili oleh IHSG, a dan b masing-masing adalah intercept dan slope dari persamaan market model.

Average residual adalah rata-rata residual return dari seluruh saham yang diamati, dirumuskan:

Art = 1/N untuk j=1 hingga N; Sigma Ejt

N adalah jumlah perusahaan
T adalah event time relatif terhadap event date 0 (event time 0 adalah tanggal pada saat informasi diterima pasar)

Dalam keadaan normal, maka average residual ini tidak berbeda secara nyata dari Nol. Untuk itu akan dilakukan pengujian apakah AR pada setiap event time berbeda secara nyata dari Nol.

Alat statistik yang lain adalah cummulative average residual (CAR), yang merupakan akumulasi dari AR sepanjang waktu dan menunjukkan total kerugian yang dialami pemodal untuk setiap event time, dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

CAR = Sigma ARt, untuk t=1 hingga T

T = jumlah periode hari yang diakumulasi

HASIL PENGAMATAN

Dari hasil perhitungan diperoleh informasi bahwa AR untuk T = -1 dan T = 0 secara signifikan berbeda secara nyata dari Nol pada selang kepercayaan 90%. Pada waktu-waktu pengamatan lainnya AR tidak berbeda secara nyata dari Nol. Hasil ini mengindikasikan bahwa pemegang saham mengalami tambahan kerugian lebih dari keadaan normal secara signifikan pada selang dua hari dari T = -1 hingga T = 0. Hal ini sesuai dengan munculnya berita tentang kesehatan Presiden Soeharto yang dikeluarkan pada tanggal 4 Juli 1996 atau T = -1 dan konfirmasi Menteri Sekretaris Negara Moerdiono pada tanggal 5 uli 1996 atau T = 0.

tabel-1.jpg

Akumulasi kerugian yang dialami pemodal berturut-turut mulai dari -0,98% pada T = -2 meningkat menjadi -2,24% pada T = -1 dan menjadi -4,48% pada T = 0. CAR sebesar -4,48% pada T = 0 menunjukkan akumulasi kerugian yang dipikul oleh pemodal jika dia mempertahankan portofolionya hingga pada saat munculnya informasi.

average-residual.jpg
cumulative-average-residual.jpg

KESIMPULAN

Hasil yang muncul menunjukkan bahwa saham-saham yang diamati mempunyai perilaku bereaksi lebih dari kondisi normal terhadap isu kesehatan Presiden Soeharto. Dengan adanya kesimpulan ini, maka seandainya kita membentuk suatu portfolio saham yang terdiri dari keenam saham yang telah dibahas, secara rata-rata akan mengalami kerugian di atas normal pada saat terjadi isu negatif terhadap Presiden.

Kesimpulan ini dapat dijadikan sebagai acuan bagi penelitian lebih lanjut, apakah sentimen-sentimen psikologis lain yang berkaitan dengan keberadaan Presiden Soeharto, baik sebagai pribadi maupun sebagai kepala negara, akan menyebabkan dampak yang juga signifikan terhadap portofolio saham ini.

RUJUKAN

Brealey, R., and Myers, S., 1991, Principles of Corporate Finance, McGraw Hill, New York.

Foster, George, 1986, Financial Statement Analysis, Prentice Hall, New Jersey.

Husnan, S., Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisa Sekuritas di Pasar Modal, UPP-AMP YKPN, Yogyakarta.

Sarnat, M., and Levy, H., 1994, Capital Investment & Financial Decisions, Prentice Hall, New Jersey.

Tagged with: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: