<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Strategika!</title>
	<atom:link href="http://strategika.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://strategika.wordpress.com</link>
	<description>konsepsi dan pemikiran untuk pencerahan dan pembelajaran ...</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Jan 2009 03:50:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='strategika.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/ed5f8725b264bd083ef975d77e7336d8?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Strategika!</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pertumbuhan Produksi Minyak Sawit Indonesia 1964-2007</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/12/05/pertumbuhan-sawit-indonesia/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/12/05/pertumbuhan-sawit-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 10:37:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Kelapa Sawit]]></category>
		<category><![CDATA[Pertumbuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[
Sumber gambar: www.pu.go.id
Industri kelapa sawit Indonesia telah tumbuh secara signifikan dalam empat puluh tahun terakhir. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Bersama dengan Malaysia, Indonesia menguasai hampir 90% produksi minyak sawit dunia. 
Konsumen terbesar dunia adalah China, India dan Uni Eropa. Pada perkembangan mendatang, peningkatan konsumsi per kapita minyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=257&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/12/kereta_sawit.jpg?w=300&#038;h=196" alt="kereta_sawit" title="kereta_sawit" width="300" height="196" class="alignnone size-full wp-image-258" /><br />
Sumber gambar: www.pu.go.id</p>
<p>Industri kelapa sawit Indonesia telah tumbuh secara signifikan dalam empat puluh tahun terakhir. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Bersama dengan Malaysia, Indonesia menguasai hampir 90% produksi minyak sawit dunia. </p>
<p>Konsumen terbesar dunia adalah China, India dan Uni Eropa. Pada perkembangan mendatang, peningkatan konsumsi per kapita minyak makan di China dan India yang disertai dengan peningkatan jumlah penduduknya akan merupakan pasar utama minyak makan dunia. Kebijakan biofuel dan bioenergi juga akan membuat industri minyak sawit akan terus tumbuh secara signifikan. Sebagai produsen utama di tengah konstelasi industri minyak sawit dunia, maka sudah seharusnya industri minyak sawit Indonesia ditata agar dapat secara optimal dimanfaatkan berbasiskan sumber daya yang tersedia.</p>
<p>Indonesia, walaupun bukan tempat asal mula tanaman kelapa sawit, memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perkelapasawitan. Dimulai dengan penanaman empat pokok tanaman kelapa sawit di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848, tanaman kelapa sawit unggul menyebar ke seluruh dunia dan menjadi tanaman komersial sejak tahun 1911 (Mangoensoekarjo, et.al. 2005).<br />
<span id="more-257"></span></p>
<p>Perkembangan industri minyak sawit Indonesia memang luar biasa. Dengan mengacu pada data produksi dan ekspor CPO (crude palm oil) Indonesia dari tahun 1964 hingga tahun 2007, pertumbuhan produksi CPO Indonesia telah tumbuh secara eksponensial dan dapat dirumuskan sebagai:</p>
<p>Y = 110 * e ^ (0.1158 * X)<br />
[R-sq = 0.9963]</p>
<p>Dimana:<br />
Y = Jumlah produksi CPO dalam ribuan Metrik Ton<br />
X = Selang waktu sejak tahun 1964 dalam tahun (untuk tahun 2007 maka selang waktu = 2007-1964 = 43)</p>
<p>Sementara itu, pertumbuhan ekspor CPO dapat dituliskan dalam persamaan berikut:</p>
<p>Y = 40 * e ^ (0.1306 * X)<br />
[R-sq = 0.8703]</p>
<p>Dimana:<br />
Y = Jumlah ekspor CPO dalam ribuan Metrik Ton<br />
X = Selang waktu sejak tahun 1964 dalam tahun</p>
<p><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/12/cpo_ino1.jpg?w=719&#038;h=338" alt="cpo_ino1" title="cpo_ino1" width="719" height="338" class="alignnone size-full wp-image-261" /><br />
Grafik Pertumbuhan Produksi dan Ekspor CPO Indonesia 1964-2007<br />
Sumber: diolah dari data IMF</p>
<p>Tak pelak, industri minyak sawit telah menjadi salah satu industri primadona bagi Indonesia. Dengan jumlah ekspor tahunan yang saat ini mencapai lebih dari 14 juta ton CPO pertahun, maka dalam setahun ekspor CPO telah menghasilkan devisa lebih dari US$10 Milyar (rata-rata harga CPO US$750 per MT di tahun 2008).</p>
<p>Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak kelapa sawit (CPO &#8211; crude palm oil) dan inti kelapa sawit (PK &#8211; palm kernel) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non-migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.</p>
<p>Berkembangnya sub-sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif. Terutama kemudahan dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan rakyat dengan pola PIR-Bun dan dalam perijinan pembukaan wilayah baru untuk areal perkebunan besar swasta. </p>
<p>Pada tahun 1996, pemerintahan Suharto merencanakan untuk mengalahkan Malaysia sebagai eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan cara memberikan berbagai kebijakan guna menambah luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Separuh dari luasan perkebunan kelapa sawit ini dialokasikan untuk perusahaan perkebunan swasta asing. Pengembangan perkebunan kelapa sawit terutama dibangun di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Irian Jaya. Pada tahun 2006, Indonesia telah mengungguli Malaysia sebagai produsen CPO terbesar di dunia. </p>
<p><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/12/cpo_producer_2007.jpg?w=720&#038;h=299" alt="cpo_producer_2007" title="cpo_producer_2007" width="720" height="299" class="alignnone size-full wp-image-263" /><br />
Tabel Produsen CPO Dunia</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/257/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=257&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/12/05/pertumbuhan-sawit-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/12/kereta_sawit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kereta_sawit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/12/cpo_ino1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cpo_ino1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/12/cpo_producer_2007.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cpo_producer_2007</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengelolaan Organisasi Menggunakan Blackberry</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/09/21/organisasi-blackberry/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/09/21/organisasi-blackberry/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 04:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[blackberry]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[
Sumber gbr: www.uk.gizmodo.com
Perusahaan selalu mencoba untuk mengikuti perkembangan cepat dari teknologi dan menyesuaikan dengan lingkungan bisnis yang selalu berubah. Perusahan harus mampu untuk selalu melakukan inovasi secara menerus. Itu sebabnya penerapan dari proses bisnis yang lebih efisien dan efektif menjadi sama pentingnya dengan penciptaan produk baru yang diinginkan pasar.
Teknologi informasi telah memegang peran dalam mendorong [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=228&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/09/bb.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/09/bb.jpg?w=300&#038;h=189" alt="" title="bb" width="300" height="189" class="alignnone size-full wp-image-229" /></a><br />
<em>Sumber gbr: www.uk.gizmodo.com</em></p>
<p>Perusahaan selalu mencoba untuk mengikuti perkembangan cepat dari teknologi dan menyesuaikan dengan lingkungan bisnis yang selalu berubah. Perusahan harus mampu untuk selalu melakukan inovasi secara menerus. Itu sebabnya penerapan dari proses bisnis yang lebih efisien dan efektif menjadi sama pentingnya dengan penciptaan produk baru yang diinginkan pasar.</p>
<p>Teknologi informasi telah memegang peran dalam mendorong perusahaan-perusahaan untuk berusaha menjadi  pemimpin dalam industri. Kecepatan dan keandalan informasi telah menjadi faktor penting yang melatarbelakangi penerapan teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Teknologi internet terbukti dapat membantu organisasi di seluruh dunia bekerja dengan lebih efisien dengan jaringan tak terbatas di seluruh penjuru dunia. Kendala jarak dan waktu menjadi tidak lagi relevan dalam proses bisnis.</p>
<p>Namun itu saja tidak cukup. Bagi para profesional di jaman ini yang dituntut untuk selalu mobile, menenteng personal computer terbaik sekalipun agar selalu terkoneksi ke jaringan internet masih dirasakan membebani. untuk itulah sebuah perusahaan dari Kanada, Research In Motion (RIM), menciptakan layanan Blackberry. <span id="more-228"></span></p>
<p>Melalui aplikasi Blackberry ini, penggunanya dapat mengakses e-mail, telepon, personal information management (PIM), dan aplikasi data perusahaan secara langsung, tepat, dan cepat. Kalangan profesional yang tidak duduk di depan komputer, masih tetap dapat memantau bisnis dan mengelola pesan yang dikirimkan melalui e-mail dengan menggunakan perangkat dan fasilitas Blackberry. Hal itu dapat dilakukan karena pada perangkat Blackberry dilengkapi aplikasi yang mampu mengakses data dari suatu bank informasi tertentu. Kegiatan mengakses e-mail dari handset ketika sedang dalam perjalanan atau di luar kantor dapat dilakukan dengan mudah melalui perangkat Blackberry. </p>
<p>Ketika e-mail sampai ke alamat e-mail kita, e-mail akan tiba di Personal Computer. BlackBerry Enterprise Server mengompresi, mengacaknya (enkripsi), dan kemudian mem-forward e-mail tersebut. E-mail di-forward melalui internet dan jaringan wireless hingga sampai ke perangkat BlackBerry. Untuk dapat dibaca, e-mail tersebut harus melalui proses dekripsi dan dekompresi. Membalas e-mail dapat dilangsungkan di handset dan pengiriman e-mail balasan melalui proses yang sama.</p>
<p>Selain kemampuan e-mail, BlackBerry juga menyertakan aplikasi-aplikasi, seperti telepon, SMS, browser, dan organizer secara terintegrasi. File pada attachment padat ditampilkan dalam berbagai format seperti Microsoft Word, Excel, PowerPoint, Corel WordPerfect, Adobe PDF, ASCII document, attachment HTML. Demikian pula dengan attachment dari berbagai format gambar seperti JPG, BMP, GIF, PNG dan TIFF. </p>
<p>Informasi yang ada di database korporat juga dapat diakses dari handset berkemampuan BlackBerry. Diperlukan software server khusus yang tersedia dalam BlackBerry Enterprise Server for Microsoft Exchange dan BlackBerry Enterprise Server for IBM Lotus Domino.</p>
<p>Software lain yang juga dibutuhkan adalah BlackBerry Desktop Software yang di-install dan dijalankan pada desktop. Software ini akan mengelola link antara handset BlackBerry ke account e-mail. Untuk pengguna personal, diperlukan BlackBerry Web Client guna mengakses account e-mail melalui PC yang dilengkapi internet.</p>
<p>Dengan perangkat Blackberry pengguna selalu akan menerima e-mail karena &#8220;always on-always connected&#8221;. Banyak perusahaan maupun individu yang memerlukan komunikasi internet dengan cepat telah memanfaatkan Blackberry. Blackberry mampu mengatasi persoalan pengelolaan bisnis dan organisasi saat ini, dengan para pekerja  profesional yang tidak selalu berada di kantor. </p>
<p>Menurut Brown (1998), biaya komputasi semakin lama akan semakin menurun yang akan menyebabkan semakin banyak teknologi elektronik akan dipergunakan dalam operasional proses bisnis sehari-hari. Kemampuan komputasi juga akan menyesuaikan dengan kebutuhan yang spesifik dari setiap proses bisnis. Hal inilah yang membuat aplikasi Blackberry dapat mendukung produktivitas, efisiensi dan mobilitas yang menjadi tuntutan organisasi di berbagai belahan dunia saat ini.</p>
<p>Tuntutan untuk menggunakan perangkat semacam Blackberry menyebabkan organisasi juga harus beradaptasi. Keunggulan kompetitif dari perusahaan salah satunya dapat dijaga dan ditingkatkan dengan penerapan learning organization. Masalahnya, penerapan teknologi seringkali terbentur pada ketidaksiapan organisasi untuk berubah, terutama ketidaksiapan para petinggi organisasi untuk mau belajar mengadopsi teknologi baru. Para petinggi organisasi yang diasumsikan sebagai pembelajar organisasi yang terbaik, justru menjadi faktor hambatan dalam mengadopsi teknologi baru semacam Blackberry. Tentunya ini adalah persoalan internal organisasi yang harus diatasi.</p>
<p>Referensi:</p>
<p>Argyris, C. 1998. Teaching Smart people How To Learn. Harvard Business Review on Knowledge Management.</p>
<p>Brown, J.S. 1998. Research That Reinvents the Corporation. Harvard Business Review on Knowledge Management.</p>
<p>http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0502/03/telkom/1538623.htm</p>
<p>http://en.wikipedia.org/wiki/BlackBerry</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=228&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/09/21/organisasi-blackberry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/09/bb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bb</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekonomika Medali Olimpiade Beijing</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/08/28/ekonomika-olimpiade/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/08/28/ekonomika-olimpiade/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 12:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomika]]></category>
		<category><![CDATA[Olimpiade]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[
Sumber gambar: www.olympic.org
Data:  Ekonomika_Medali_Olimpiade_Beijing.pdf   [~ 90Kb]
Olimpiade Beijing yang disebut-sebut sebagai Olimpiade terbesar dan termegah yang pernah dilakukan di muka bumi telah usai. Di ajang Olimpiade, setiap empat tahun sekali negara-negara berkompetisi untuk memperebutkan medali. Ketika ajang selesai, jumlah medali yang dikumpulkan menjadi indikator keberhasilan suatu negara dalam mengikuti kegiatan Olimpiade. Tentunya menarik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=199&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/2008-olympic.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/2008-olympic.jpg?w=300&#038;h=193" alt="" width="300" height="193" class="alignnone size-full wp-image-200" /></a><br />
<em>Sumber gambar: www.olympic.org</em></p>
<p>Data: <a href='http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/ekonomika_medali_olimpiade_beijing.pdf'> Ekonomika_Medali_Olimpiade_Beijing.pdf </a>  [~ 90Kb]</p>
<p>Olimpiade Beijing yang disebut-sebut sebagai Olimpiade terbesar dan termegah yang pernah dilakukan di muka bumi telah usai. Di ajang Olimpiade, setiap empat tahun sekali negara-negara berkompetisi untuk memperebutkan medali. Ketika ajang selesai, jumlah medali yang dikumpulkan menjadi indikator keberhasilan suatu negara dalam mengikuti kegiatan Olimpiade. Tentunya menarik untuk mengetahui mengapa satu negara demikian konsisten selalu memperoleh medali di Olimpiade, sementara banyak negara lain sama sekali tidak pernah memperolehnya.</p>
<p>Ekonom Andrew Bernard (Tuck School of Business at Dartmouth) dan Meghan Busse (The University of California – Berkeley), telah meneliti penentu keberhasilan suatu negara memperoleh medali di Olimpiade (Mankiw 2004). Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bernard dan Busse, <strong>total perolehan medali Olimpiade oleh suatu negara</strong><em></em> terutama dipengaruhi oleh: populasi penduduk, produk domestik bruto (PDB) dan pendapatan per kapita, perolehan medali di Olimpiade sebelumnya, serta pengaruh sebagai tuan rumah. <span id="more-199"></span></p>
<p>Penentu paling jelas adalah populasi. Dalam keadaan di mana hal-hal lain tetap, negara-negara yang penduduknya lebih banyak mempunyai kesempatan memiliki lebih banyak atlet yang berprestasi dan memperoleh medali di Olimpiade. AS, China, Rusia dan Jepang adalah wakil dari negara dengan populasi di atas 100 juta orang yang menduduki peringkat atas perolehan medali di Olimpiade Beijing.</p>
<p>Tetapi tentu persoalannya tidak sesederhana itu. China, India, Indonesia, dan Brazil yang memberikan kontribusi lebih dari 56 % populasi negara-negara yang mendapatkan medali di Olimpiade Beijing, secara total hanya memenangkan 13 % dari seluruh medali yang diperebutkan. Jika China dikeluarkan dari data tersebut, maka India, Indonesia dan Brazil mempunyai populasi sebanyak 31% dari total populasi penduduk negara-negara yang memperoleh medali di Olimpiade Beijing, namun hanya mampu memperoleh 3% dari seluruh medali yang diperebutkan. Alasannya adalah, sekalipun negara-negara tersebut mempunyai populasi tinggi, negara-negara dengan populasi besar tersebut pada umumnya memiliki pendapatan per kapita yang relatif rendah. Walaupun memiliki populasi besar, India, Indonesia, Brazil, dan Nigeria hanya menyumbang 6% dari total PDB dunia. Tingkat kemakmuran yang rendah menjadi kendala bagi banyak atlet berbakat untuk mengembangkan potensi mereka.</p>
<p>Bernard dan Busse menemukan bahwa ukuran terbaik lainnya dari kemampuan bangsa untuk menghasilkan atlet kelas dunia adalah nilai PDB total. PDB total yang lebih besar berarti medali yang lebih banyak tanpa mempedulikan apakah jumlah tersebut  berasal dari PDB per kapita yang tinggi atau jumlah orang yang banyak. Total PDB dari sepuluh negara teratas yang memperoleh medali di Olimpiade Beijing menyumbang 60 % total PDB dunia.</p>
<p>Dengan kata lain, jika dua negara memiliki PDB total yang setingkat, dapat diperkirakan mereka memenangkan jumlah medali yang sama, misalnya prestasi Spanyol (PDB 2007 US$1.429 milyar) dan Kanada (PDB 2007 US$1.326 milyar) di Olimpiade Beijing yang sama-sama secara total memperoleh 18 medali. Spanyol memiliki populasi lebih tinggi (46 juta orang) dengan pendapatan per kapita yang lebih rendah dibandingkan Kanada yang memiliki lebih sedikit populasi (33 juta orang).</p>
<p>Sementara itu, faktor populasi dan pendapatan per kapita bisa saling melengkapi kemampuan negara untuk memperoleh medali di Olimpiade. Di Olimpiade Beijing, perolehan medali Belanda lebih rendah dari Jepang sekalipun Belanda mempunyai tingkat pendapatan per kapita yang lebih tinggi (US$45.800 dibanding US$34.200). Hal ini dikarenakan Jepang mempunyai jumlah penduduk yang lebih banyak (127 juta orang dibanding 16,5 juta) sehingga mengkompensir tingkat pendapatan per kapita yang lebih rendah. Sementara itu Indonesia dan Swedia memperoleh total jumlah medali yang sama di Beijing (sejumlah total 5 medali) karena Indonesia memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak (231 juta dibanding 9 juta), sedangkan Swedia memiliki tingkat pendapatan per kapita yang lebih tinggi (US$48.200 dibanding US$1.800). Pendapatan per kapita berpengaruh karena negara yang lebih makmur akan mempunyai kemampuan keuangan yang lebih tinggi untuk melatih dan menyediakan fasilitas bagi atlet-atletnya. </p>
<p>Negara-negara yang berprestasi di Olimpiade cenderung mempertahankan prestasi tersebut, termasuk Indonesia yang selalu memperoleh medali sejak Olimpiade Seoul (perak) dan Olimpiade Barcelona (emas). Demikian pula negara-negara langganan medali Olimpiade lainnya seperti AS, Rusia, Australia, Jerman, dan Perancis.</p>
<p>Faktor berikutnya adalah peran sebagai tuan rumah. Negara tuan rumah Olimpiade biasanya memperoleh medali lebih banyak dibanding ketika negara tersebut mengikuti Olimpiade sebagai tamu. Hal ini mencerminkan manfaat yang diperoleh para atlet yang bertanding di rumah sendiri. Merupakan hal yang telah diketahui luas dalam cabang olahraga apapun, dengan dukungan penonton di negeri mereka sendiri, tuan rumah selalu memiliki kesempatan menang yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang datang bertanding sebagai tamu. Keberhasilan China di Olimpiade Beijing, selain karena faktor populasi dan PDB, juga diuntungkan karena menjadi tuan rumah. </p>
<p>Selain keempat faktor di atas, negara-negara eks Uni Soviet dan Eropa Timur seperti Rusia, Belarus, Ukrainia, Republik Czech, Slovakia dan sebagainya, dapat  memperoleh lebih banyak medali dari pada negara lain yang mempunyai PDB yang sama. Hal ini dapat dijelaskan karena negara yang mengatur perekonomian dari pusat mencurahkan lebih banyak sumber daya dalam melatih atlet Olimpiade daripada negara yang menganut perekonomian pasar bebas. Pada negara-negara dengan ekonomi pasar bebas, penduduk memiliki lebih banyak kendali atas hidup mereka. Faktor inilah yang dapat menjelaskan mengapa Kuba yang hanya berpenduduk kurang dari 12 juta jiwa berhasil memperoleh total 24 medali di Olimpiade Beijing, serta mengapa Korea Utara, di Olimpiade Beijing, dapat berprestasi lebih baik dari Indonesia.</p>
<p><em>Referensi: </em></p>
<p>Andrew B. Bernard and Meghan R. Busse. 2004. “Who Wins the Olympic Games: Economic Resources and Medal Totals”, Review of Economics and Statistics, Vol. 86, no.1. [<a href="http://mba.tuck.dartmouth.edu/pages/faculty/andrew.bernard/bernardrestatjournalversion.pdf">pdf ~137Kb</a>]</p>
<p>Mankiw, N.G. 2004. Principles of Economics. 3rd ed. South-Western of Thomson Learning. Mason. Ohio. </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/strategika.wordpress.com/199/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/strategika.wordpress.com/199/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=199&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/08/28/ekonomika-olimpiade/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/2008-olympic.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Daya Saing Negara dan Perusahaan</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/daya-saing/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/daya-saing/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 12:27:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[Daya Saing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[
Sumber gambar: http://www.bax.fi
Definisi Daya Saing bangsa/negara:
1. Himpunan faktor, kebijakan dan kelembagaan yang menentukan tingkat produktivitas suatu negara (World Economic Forum 2006)
2. Kapasitas bangsa untuk menghadapi tantangan persaingan pasar internasional dan tetap menjaga atau meningkatkan pendapatan riil-nya (Council of Competitiveness, Washington, DC, 2006)
Faktor-faktor yang perlu diperbaiki guna peningkatan daya saing Indonesia.
Sesuai dengan kerangka yang dibuat oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=193&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/competitiveness.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/competitiveness.jpg?w=300&#038;h=202" alt="" width="300" height="202" class="alignnone size-full wp-image-194" /></a><br />
<em>Sumber gambar: http://www.bax.fi</em></p>
<p>Definisi Daya Saing bangsa/negara:</p>
<p>1. Himpunan faktor, kebijakan dan kelembagaan yang menentukan tingkat produktivitas suatu negara (World Economic Forum 2006)</p>
<p>2. Kapasitas bangsa untuk menghadapi tantangan persaingan pasar internasional dan tetap menjaga atau meningkatkan pendapatan riil-nya (Council of Competitiveness, Washington, DC, 2006)</p>
<p><strong>Faktor-faktor yang perlu diperbaiki guna peningkatan daya saing Indonesia.</strong></p>
<p>Sesuai dengan kerangka yang dibuat oleh IMD, faktor-faktor yang berperan dalam competitiveness adalah sebagaimana terdapat dalam Gambar berikut. <span id="more-193"></span></p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/imd.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/imd.jpg?w=500&#038;h=233" alt="" width="500" height="233" class="alignnone size-full wp-image-195" /></a><br />
<em>Sumber: www.imd.ch</em><br />
Gambar 1. IMD Competitiveness Factors</p>
<p>ECONOMIC PERFORMANCE</p>
<p>Pemerintah harus mampu memperbaiki sinkronisasi dalam kebijakan perdagangan. Kebijakan saat ini cenderung memberikan tekanan pada jangka pendek dan kurang melihat ke dalam lingkup yang lebih luas. Kurangnya koordinasi dalam kebijakan tarif dan non-tarif berakibat pada ketidakjelasan posisi pemerintah dalam perdagangan internasional. </p>
<p>Dari sisi perdagangan internasional, sasaran kebijakan perdagangan internasional seyogyanya diarahkan untuk mempertahankan daya saing produk Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif dan melakukan spesialisasi pengembangan niche di sektor manufaktur serta mengembangkan keunggulan komparatif baru (termasuk di jasa-jasa seperti pariwisata dan ekspor tenaga kerja). Struktur produksi Indonesia perlu diarahkan ke industri yang bernilai lebih tinggi, seperti industri elektronika dan industri pengolahan lainnya; termasuk di antaranya adalah industri perkebunan seperti minyak sawit, karet, dan lainnya yang mengandalkan pada kekuatan sumber daya alam Indonesia. </p>
<p>GOVERNMENT EFFICIENCY</p>
<p>Berikut, beberapa langkah dan ranah yang dapat dilakukan dalam rangka efisiensi di level pemerintahan, peraturan, dan perundangan:</p>
<p>1. Mempercepat pengembalian PPN. Pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pajak yang dikenakan pada barang-barang ekspor dapat menempuh waktu hingga satu tahun di Indonesia. </p>
<p>2. Menghilangkan inefisiensi pelabuhan. Waktu yang dihabiskan kapal-kapal di pelabuhan dapat jauh dikurangi. Tinjauan menyeluruh terhadap kendala birokrasi di pelabuhan dapatb dilakukan guna pembuatan rekomendasi bagi reformasi regulasi. </p>
<p>3. Menghilangkan korupsi di bea cukai. Meski Indonesia telah memulai langkah efisiensi dalam prosedur administrasi bea cukai, praktik korupsi telah mengurangi dampak yang dihasilkan. Korupsi juga dapat merupakan indikator kegagalan pemberantasan kegiatan penyelundupan. </p>
<p>4. Stabilisasi Rupiah. Nilai tukar yang stabil memberikan ‘kejelasan’ bagi pengusaha dalam perhitungan biaya dan penjualan. </p>
<p>5. Menghilangkan hambatan non-tariff pada impor. Meningkatnya hambatan non-tariff akan menaikkan biaya domestik, sehingga meningkatkan biaya untuk memproduksi barang ekspor yang tidak akan kompetitif di pasar global.</p>
<p>BUSINESS EFFICIENCY</p>
<p>Indonesia memerlukan kebijakan perdagangan yang sinkron dan konsisten, agar memperoleh manfaat dari pertumbuhan perdagangan dunia dalam rangka penciptaan lapangan kerja. Selama ini, kebijakan yang ditempuh terlalu terfokus pada pengaruh subsidi pertanian oleh negara-negara maju. Meski penghapusan subsidi ini sangat diharapkan, mereka bukanlah kendala utama bagi ekspor Indonesia. Sebaliknya, kebijakan yang diambil harus memfokuskan diri pada peningkatan akses pasar. Baik pasar negara maju maupun negara berkembang sama pentingnya sebagai negara tujuan ekspor Indonesia. </p>
<p>Praktek-praktek bisnis yang baik dan sesuai aturan perlu terus diupayakan agar produk barang dan jasa Indonesia tidak terhambat oleh berbagai aturan yang disepakati di tingkat global. Merupakan bagian dari tataran ini adalah penerapan Good Corporate Governance (GCG), pemberantasan praktek bisnis yang menyimpang, seperti korupsi, pungutan, dan sebagainya, yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi.</p>
<p>INFRASTRUCTURE </p>
<p>Lemahnya iklim investasi Indonesia disebabkan oleh serangkaian faktor. Akan tetapi, ketidakpastian kebijakan dan peraturan, korupsi, dan kualitas prasarana dinilai merupakan hal paling relevan bagi penanam modal. Meski Indonesia memiliki tarif pelabuhan yang relatif rendah, efisiensi sistem pelabuhannya buruk. Hampir seluruh lalu lintas barang dialihkan melalui Singapura dan Malaysia. </p>
<p>Di samping itu, perlu kebijakan untuk menunjang perkembangan prasarana, kebijakan pendidikan dan program riset dan pengembangan (R&amp;D). Pemerintah harus mendorong peningkatan keterampilan tenaga kerja. Rendahnya keahlian tenaga kerja Indonesia dinilai sebagai salah satu hambatan bagi penanaman modal asing. </p>
<p><strong>Daya Saing Perusahaan</strong></p>
<p>Sementara itu, daya saing perusahaan berbeda dengan daya saing bangsa. Suatu perusahaan memiliki daya saing atau keunggulan kompetitif (competitive advantage) ketika perusahaan tersebut mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki pesaing, melakukan sesuatu lebih baik dari perusahaan lain, atau mampu melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh perusahaan lain.</p>
<p>Menurut Michael Porter terdapat dua tipe dasar dari keunggulan kompetitif, yaitu: cost advantage dan differentiation advantage. Suatu keunggulan kompetitif muncul ketika sebuah perusahaan dapat menghasilkan produk yang sama dengan yang dihasilkan pesaingnya dengan biaya yang lebih rendah (cost advantage), atau menghasilkan produk/jasa yang berbeda dan lebih baik dari yang dihasilkan pesaingnya (differentiation advantage). Keunggulan kompetitif akan memungkinkan perusahaan untuk menciptakan nilai lebih untuk pelanggannya dan perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi. </p>
<p>Cost advantage dan Differentiation advantage dikenal sebagai positional advantage karena dapat menjelaskan posisi perusahaan dalam industri sebagai pemimpin dalam hal biaya (cost) ataupun dalam keunikannya (differentiation). Selain itu, ada pandangan yang melihat keunggulan kompetitif dari sudut pandang Kapabilitas (Capabilities) dan Sumberdaya (Resources) yang dimilikinya. Pandangan ini dikenal sebagai Resource-based View. </p>
<p>Gabungan dari pengelolaan yang baik atas Resources dan Capabilities, serta pemilihan untuk menjalankan Cost atau Differentiation advantage akan menghasilkan keunggulan kompetitif bagi perusahaan dalam menghadapi para pesaingnya. Gambar berikut menggabungkan pandangan resource-based dan positioning dalam menggambarkan keunggulan kompetitif perusahaan:</p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/modelcomp.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/modelcomp.jpg?w=500&#038;h=228" alt="" width="500" height="228" class="alignnone size-full wp-image-196" /></a><br />
<em>Sumber: diadopsi dari www.quickmba.com</em><br />
Gambar 2. A Model of Competitive Advantage</p>
<p>Referensi:<br />
http://en.wikipedia.org/wiki/Competitiveness<br />
http://www.imd.ch/<br />
http://www.worldcompetitiveness.com/online<br />
http://www.quickmba.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/strategika.wordpress.com/193/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/strategika.wordpress.com/193/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=193&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/daya-saing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/competitiveness.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/imd.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/modelcomp.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Produk Global Konten Lokal</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/global-lokal/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/global-lokal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 11:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[
Sumber gambar: http://terresacree.org
Globalisasi merujuk pada tatanan sistem yang mendunia, yang melibatkan setiap negara di berbagai belahan bumi. Globalisasi menyangkut sistem ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dengan adanya globalisasi maka suatu barang dan jasa dapat bebas masuk ke setiap negara. Setiap produsen global, tentunya akan mengupayakan produknya untuk masuk ke setiap negara, dan salah satu cara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=186&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/glob.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/glob.jpg?w=300&#038;h=211" alt="" width="300" height="211" class="alignnone size-full wp-image-187" /></a><br />
<em>Sumber gambar: http://terresacree.org</em></p>
<p>Globalisasi merujuk pada tatanan sistem yang mendunia, yang melibatkan setiap negara di berbagai belahan bumi. Globalisasi menyangkut sistem ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dengan adanya globalisasi maka suatu barang dan jasa dapat bebas masuk ke setiap negara. Setiap produsen global, tentunya akan mengupayakan produknya untuk masuk ke setiap negara, dan salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan konteks dan konten lokal. </p>
<p>Pada bagian berikut dicontohkan berbagai produk global yang berhasil dilokalisasi di Indonesia dengan konten dan konteks yang disesuaikan dengan selera lokal. <span id="more-186"></span></p>
<p><strong>McDonald’s Indonesia</strong><br />
<a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/mcd.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/mcd.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" class="alignnone size-full wp-image-188" /></a><br />
McDonald’s Indonesia telah banyak menawarkan paket-paket makanan yang “sangat Indonesia”. Eksperimen  McDonald&#8217;s  Indonesia dengan  menu  lokal bukan terbatas pada paket  nasi.  Pernah  pula ditawarkan menu McSate, McRendang, McChilli, dan lain-lain.  Di berbagai gerai McDonald di Indonesia, nasi telah menjadi menu yang selalu disediakan selain berbagai menu standar seperti Big Mac ataupun French Fries. Paket “Rice Eggs” yang dalam bahasa lokal adalah “Nasi telor dadar” menjadi menu yang disukai konsumen pada saat Indonesia dilanda krisis ekonomi pada beberapa waktu yang lalu. Paket  nasi  tergolong  “paket top” di jaringan restoran  waralaba  McDonald&#8217;s  Indonesia.  Angka  penjualan  paket tersebut  berimbang dengan cheese burger (hamburger dengan keju) dan di atas  paket-paket  yang  lain  seperti  McBurger  (hamburger dengan daging sapi) &#8212; Sumber: ”Paket Nasi dan Sinkretisme Kebudayaan”, Kompas, 9 April 2000.</p>
<p><strong>MTV Indonesia</strong><br />
<a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/mtv_logo.png"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/mtv_logo.png?w=300&#038;h=230" alt="" width="300" height="230" class="alignnone size-full wp-image-189" /></a><br />
MTV Indonesia adalah sebuah cabang stasiun televisi musik MTV. Pertama kali ditayangkan sebagai bagian dari acara-acara TV di ANTV pada awal 1990-an, MTV Indonesia kemudian pindah siaran ke Global TV pada tahun 2003 dan mengudara selama 24 jam. Sekalipun merupakan jaringan penyiaran global, MTV menerapkan kandungan lokal dalam acara-acaranya. Di MTV Indonesia dapat dinikmati tayangan musik pop lokal dan bahkan musik lokal Dangdut. Musik Dangdut yang tadinya identik dengan kalangan kelas bawah di Indonesia telah berhasil dipopulerkan oleh MTV Indonesia menjadi musik populer di berbagai kalangan, terutama kalangan anak muda perkotaan. </p>
<p><strong>Indonesian Idol</strong><br />
<a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/indoidol.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/indoidol.jpg?w=300&#038;h=230" alt="" width="300" height="230" class="alignnone size-full wp-image-190" /></a><br />
Indonesian Idol adalah suatu ajang pencarian bakat yang diadopsi dari American Idol, dengan sponsor dari FremantleMedia yang bekerjasama dengan RCTI. Ajang ini merupakan pencarian idola di bidang tarik suara. Indonesian Idol telah menjadi Reality Show yang populer di Indonesia. Setelah kemunculan Indonesian Idol, banyak Reality Show lain yang ditayangkan. Indonesian Idol bertujuan mencari idola baru penyanyi Indonesia, lagu yang dinyanyikan kebanyakan adalah lagu-lagu populer yang dibuat dan sebelumnya dinyanyikan oleh para penyanyi lokal Indonesia. Mekanisme pemilihan idola ini dilakukan dengan konsep yang sama seperti yang dilakukan di Amerika, tetapi dengan konteks dan kandungan lokal Indonesia.</p>
<p><strong>Majalah Asing Edisi Indonesia</strong><br />
<a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/majalah.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/majalah.jpg?w=700&#038;h=232" alt="" width="700" height="232" class="alignnone size-full wp-image-191" /></a><br />
Sejalan dengan perkembangan dan globalisasi media, berbagai media berbentuk majalah yang berasal dari luar negeri diadopsi untuk dicetak dan diedarkan di Indonesia dengan format lokal. Berbagai majalah dalam format global seperti majalah untuk pria dewasa (misalnya FHM dan Playboy), majalah otomotif seperti AutoBild, hingga majalah berita mingguan BusinessWeek juga masuk ke Indonesia dengan context dan content lokal. Majalah pria dewasa seperti FHM dan Playboy mengeksploitasi obyek perempuan lokal Indonesia (untuk para pembaca yang juga orang Indonesia) seperti artis Sandra Dewi dan Andara Early. Sementara itu majalah mingguan bisnis BusinessWeek menyisipkan berbagai artikel terkait dengan aktivitas bisnis di Indonesia. Demikian pula majalah AutoBild Indonesia membahas berbagai merk mobil yang beredar di Indonesia.</p>
<p>Referensi:<br />
http://id.wikipedia.org/wiki/McDonald%27s<br />
http://id.wikipedia.org/wiki/MTV_Indonesia<br />
http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesian_Idol<br />
http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/strategika.wordpress.com/186/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/strategika.wordpress.com/186/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=186&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/global-lokal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/glob.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/mcd.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/mtv_logo.png" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/indoidol.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/majalah.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kerangka Hofstede untuk Pengelolaan Organisasi Global</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/kerangka-hofstede/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/kerangka-hofstede/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 07:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[Hofstede]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[
sumber gambar: http://www.fig.net

Konsep budaya telah menjadi arus utama dalam bidang antropologi sejak awal mula dan memperoleh perhatian dalam perkembangan awal studi perilaku organisasi. Geert Hofstede telah mengajukan konsep budaya dalam teori organisasi, dalam hal ini sebagai salah satu dimensi dalam memahami perilaku organisasi. Konsep ini menjadi penting dalam teori ekonomi dan manajemen saat ini, dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=178&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/hofstede.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/hofstede.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" class="alignnone size-full wp-image-179" /></a><br />
<em>sumber gambar: http://www.fig.net<br />
</em></p>
<p>Konsep budaya telah menjadi arus utama dalam bidang antropologi sejak awal mula dan memperoleh perhatian dalam perkembangan awal studi perilaku organisasi. Geert Hofstede telah mengajukan konsep budaya dalam teori organisasi, dalam hal ini sebagai salah satu dimensi dalam memahami perilaku organisasi. Konsep ini menjadi penting dalam teori ekonomi dan manajemen saat ini, dalam era globalisasi, ketika banyak perusahaan mutinasional beroperasi di berbagai negara dengan berbagai ragam budaya yang berbeda.</p>
<p><strong>Power Distance</strong><br />
Menurut Hofstede, “power distance” adalah suatu tingkat kepercayaan atau penerimaan dari suatu power yang tidak seimbang di antara orang. Budaya di mana beberapa orang dianggap lebih superior dibandingkan dengan yang lain karena status sosial, gender, ras, umur, pendidikan, kelahiran, pencapaian, latar belakang atau faktor lainnya merupakan bentuk power distance yang tinggi. Pada negara yang memiliki power distance yang tinggi, masyarakat menerima hubungan kekuasaan yang lebih autokratik dan patrenalistik. Sementara itu budaya dengan power distance yang rendah cenderung untuk melihat persamaan di antara orang dan lebih fokus kepada status yang dicapai daripada yang disandang oleh seseorang. <span id="more-178"></span></p>
<p><strong>Individualisme vs. Kolektivisme</strong><br />
Individualisme adalah lawan dari kolektivisme, yaitu tingkat di mana individu terintegrasi ke dalam kelompok. Dari sisi individualis kita melihat bahwa terdapat ikatan yang longgar di antara individu. Setiap orang diharapkan untuk mengurus dirinya masing-masing dan keluarga terdekatnya. Sementara itu dari sisi kolektivis, kita melihat bahwa sejak lahir orang sudah terintegrasi ke dalam suatu kelompok. Bahkan seringkali keluarga jauh juga turut terlibat dalam merawat sanak saudara dan kerabatnya.</p>
<p><strong>Uncertainty Avoidance</strong><br />
Salah satu dimensi dari Hofstede adalah mengenai bagaimana budaya nasional berkaitan dengan ketidakpastian dan ambiguitas, kemudian bagaimana mereka beradaptasi terhadap perubahan. Pada negara-negara yang mempunyai uncertainty avoidance yang besar, cenderung menjunjung tinggi konformitas dan keamanan, menghindari risiko dan mengandalkan peraturan formal dan juga ritual. Kepercayaan hanyalah diberikan kepada keluarga dan teman yang terdekat. Akan sulit bagi seorang negotiator dari luar untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan dari mereka. Pada negara dengan uncertainty avoidance yang rendah, atau memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk ketidakpastian, mereka cenderung lebih bisa menerima risiko, dapat memecahkan masalah, memiliki struktur organisasi yang flat, dan memilki toleransi terhadap ambiguitas. Bagi orang dari masyarakat luar, akan lebih mudah untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan. </p>
<p><strong>Contoh kasus: Mutasi GM dari AS ke Korea</strong></p>
<p>John Denver, seorang GM berasal dari Amerika  Serikat, baru saja dipindahtugaskan ke Korea Selatan. Guna mempelajari perbedaan budaya kerja di Korea Selatan, John Denver dapat menggunakan hasil studi Hofstede yang membandingkan berbagai negara pada dimensi Power Distance, Uncertainty Avoidance dan Individualism. </p>
<p>Kajian Hofstede yang secara ringkas membandingan Amerika Serikat dan Korea Selatan (dan Thailand) adalah sebagaimana terlihat pada Gambar di bawah. Dengan mengacu pada Hofstede Framework tersebut, maka dapat dilihat bahwa Korea Selatan (dan Thailand) relatif terhadap Amerika Serikat adalah:<br />
1. Lebih tidak dapat menerima ketidakpastian<br />
2. Power distance tinggi dan<br />
3. Tingkat individualisme rendah.</p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/hofstedeframe.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/hofstedeframe.jpg?w=500&#038;h=191" alt="" width="500" height="191" class="alignnone size-full wp-image-180" /></a><br />
<em>Diolah dari sumber: Han, et. Al. (2006) International Business, 3rd Ed. Pp. 76-77<br />
</em>Gambar Hofstede Framework</p>
<p>Dengan demikian, sebagaimana disampaikan oleh Hofstede, seorang John Denver  yang berasal dari Amerika Serikat, ketika ditugaskan di Korea Selatan haruslah dapat:</p>
<p>1. Memahami perilaku masyarakat/komunitas Korea Selatan yang menganggap beberapa orang lebih superior dibandingkan dengan yang lain karena status sosial, gender, ras, umur, pendidikan, kelahiran, pencapaian, latar belakang dan lainnya.</p>
<p>2. Menyesuaikan dengan budaya Korea Selatan yang cenderung menjunjung tinggi konformitas dan keamanan</p>
<p>3. Memahami bahwa kebanyakan orang Korea Selatan lebih suka menghindari risiko </p>
<p>4. Memiliki kemampuan untuk mengikuti peraturan formal dan juga ritual yang berlaku di Korea Selatan</p>
<p>5. Memahami bahwa di Korea Selatan, kepercayaan hanyalah diberikan kepada keluarga dan teman yang terdekat</p>
<p>6. Memahami bahwa masyarakat Korea Selatan menerima hubungan kekuasaan yang lebih autokratik dan patrenalistik. Bawahan mengenal kekuasaan orang lain melalui formalitas, misalnya posisi hierarki.</p>
<p>Referensi:<br />
1. Han, et. Al. (2006) International Business, 3rd Ed.<br />
2. The “Et cetera, et cetera, et cetera King” dan Hofstede; analisa film “The King and I (1956)” &#8211; http://yolagani.wordpress.com<br />
3. Wikipedia &#8211; http://en.wikipedia.org/wiki/Geert_Hofstede</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/strategika.wordpress.com/178/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/strategika.wordpress.com/178/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=178&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/08/19/kerangka-hofstede/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/hofstede.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/hofstedeframe.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mengukur Struktur Industri (Pasar)</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/08/04/mengukur-struktur-industri/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/08/04/mengukur-struktur-industri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 12:43:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi industri]]></category>
		<category><![CDATA[struktur industri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[
sumber gambar: www.proficioconsulting.com
Struktur industri menggambarkan bagaimana industri diorganisasikan. Hal ini terkait dengan hubungan dari (a) sesama produsen (b) sesama konsumen (c) produsen dan konsumen, dan (d) produsen yang telah ada terhadap produsen baru yang masuk ke pasar (Bain 1968). Menurut teori ekonomi industri, struktur industri menentukan tingkat kompetisi dan merupakan faktor yang berpengaruh pada perilaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=165&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/market_strat.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/market_strat.jpg?w=300&#038;h=292" alt="" width="300" height="292" class="alignnone size-full wp-image-166" /></a></p>
<p><em>sumber gambar: www.proficioconsulting.com</em></p>
<p>Struktur industri menggambarkan bagaimana industri diorganisasikan. Hal ini terkait dengan hubungan dari (a) sesama produsen (b) sesama konsumen (c) produsen dan konsumen, dan (d) produsen yang telah ada terhadap produsen baru yang masuk ke pasar (Bain 1968). Menurut teori ekonomi industri, struktur industri menentukan tingkat kompetisi dan merupakan faktor yang berpengaruh pada perilaku dan kinerja dari suatu industri (perusahaan-perusahaan yang ada dalam industri). Oleh karenanya, analisa struktur industri merupakan pijakan awal untuk mengkaji suatu industri. </p>
<p>Struktur industri didefinisikan dalam terminologi distribusi jumlah dan ukuran dari perusahaan-perusahaan yang ada dalam industri (Bain 1968). Struktur industri merupakan cerminan dari struktur pasar suatu industri (Kuncoro 2007). Dalam studi empiris mengenai struktur industri, digunakan pengukuran konsentrasi untuk mengukur intensitas dari persaingan dalam industri. Konsentrasi industri ini menginformasikan ukuran relatif dari perusahaan-perusahaan yang ada pada pasar (Jacobson 1996). Terdapat beberapa alat pengukuran konsentrasi yang umum dipergunakan untuk menggambarkan distribusi dari pangsa pasar di antara perusahaan-perusahaan yang ada dalam industri, yaitu: Rasio Konsentrasi, Indeks Herfindhal, dan Koefisien Gini.<span id="more-165"></span></p>
<p><strong>Rasio Konsentrasi</strong></p>
<p>Rasio Konsentrasi (concentration ratio, CR) secara luas dipergunakan untuk mengukur pangsa dari output, turnover, value added, jumlah pegawai atau nilai asset dari total industri. Biasanya jumlah perusahaan N yang dihitung proporsi pangsa pasarnya adalah 4, sehingga dikenal sebagai CR4. Jika Pi mewakili pangsa pasar, dan jika proporsi dari output, turnover, value added, jumlah pegawai atau nilai asset dari total industri yang diwakili oleh perusahaan i = 1,2, &#8230;, dengan P1 &gt;= P2 &gt;= P3 &gt;= &#8230;, maka Concentration Ratio, CRN, untuk N perusahaan dihitung sebagai:</p>
<p>CRN = P1 + P2 + P3 + &#8230; + PN</p>
<p>Rasio konsentrasi berkisar antara nol hingga satu dan biasanya dinyatakan dalam persentase. Nilai konsentrasi yang mendekati angka nol mengindikasikan bahwa sejumlah n perusahaan memiliki pangsa pasar yang relatif kecil.  Sebaliknya, angka rasio konsentrasi yang mendekati satu mengindikasikan tingkat konsentrasi yang relatif tinggi.  CRN sangatlah tergantung pada jumlah keseluruhan perusahaan yang ada dalam industri. CRN akan menurun jika jumlah perusahaan dalam industri meningkat. CRN dapat memberikan gambaran tentang peran n perusahaan yang ada dalam industri, namun demikian CRN tidak cukup dapat memberikan informasi mengenai keterkaitan antar perusahaan di dalam industri.</p>
<p>Sebagaimana dikemukakan di atas, CR4 yang mewakili empat perusahaan dengan pangsa pasar paling besar, adalah rasio konsentrasi yang banyak dipergunakan. Beberapa kategori pasar dapat didefinisikan dengan menggunakan CR4 untuk menggambarkan tingkat kompetisi sebagaimana ditampilkan dalam gambar di bawah. </p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/struktur-pasar.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/struktur-pasar.jpg?w=500&#038;h=310" alt="" width="500" height="310" class="alignnone size-full wp-image-167" /></a><br />
<em>Sumber: Buzzelli (2001); Ma (1993)<br />
</em>Gambar: Tipe dari Struktur Pasar</p>
<p>Yang paling ekstrem adalah perfect competition dalam hal mana banyak perusahaan dengan pangsa pasar masing-masing yang relatif kecil, dan monopoly dalam hal mana satu perusahaan memiliki 100 persen pangsa pasar. Kompetisi dan jumlah perusahaan adalah besar pada perfect competition dan sedikit pada monopoly. </p>
<p>Pada perfect competition, terdapat banyak perusahaan, sehingga individu perusahaan tidak dapat mengendalikan harga. Perusahaan-perusahaan menghasilkan produk yang homogen, dan pembeli mengetahui harga dan dan memiliki informasi. Tidak ada entry dan exit barriers pada perfect competition. Sebaliknya, pada monopoly, hanya ada satu perusahaan yang menjual produk kepada banyak pembeli dan tidak ada produsen baru yang dapat memasuki pasar, dengan demikian perusahaan ini memiliki kekuatan monopoly.</p>
<p>Angka CR4 yang tinggi akan menunjukkan bahwa pasar didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan, yang berarti bentuk struktur oligopoly. Pada struktur oligopoly, produsen besar dapat mempengaruhi harga dengan cara mengendalikan output produksi. Terdapat tingkatan oligopoly, mulai dari moderately concentrated oligopolistic markets hingga highly concentrated oligopolies, yang mengindikasikan tingkat rendah hingga tinggi dari pengaruh pasar. </p>
<p>Semakin rendah CR4, semakin dekat pasar pada kondisi perfectly competitive.</p>
<p><strong>Indeks Herfindhal (H)</strong></p>
<p>Indeks Herfindhal adalah jenis ukuran konsentrasi lain yang cukup penting. Indeks Herfindhal dedefinisikan sebagai jumlah pangkat dua pangsa pasar dari seluruh perusahaan yang ada dalam industri, dan diformulasikan:</p>
<p>H = P1^2 + P2^2 + P3^2 + &#8230; + PN^2</p>
<p>Nilai H akan berkisar dari nol hingga satu. Nilai H akan sama dengan 1/n jika terdapat n perusahaan yang mempunyai ukuran yang sama. Jika H mendekati nol, maka akan berarti terdapat sejumlah besar perusahaan dengan ukuran usaha  yang hampir sama dalam industri, dan konsentrasi pasar adalah rendah. Sebaliknya, industri bersifat monopoly jika H sama dengan satu. Semakin tinggi H, semakin tinggi disribusi ukuran dari perusahaan. The Federal Trade and Commission in the US menetapkan bahwa pasar terkategori highly concentrated jika nilai H lebih besar dari 0.18 (Chiang 2001).  </p>
<p><strong>Kurva Lorenz dan Koefisien Gini</strong></p>
<p>Pendekatan lain untuk melihat konsentrasi industri adalah dengan menggunakan pemetaan Kurva Lorenz dan penghitungan Koefisien Gini (Adelaja, dkk. 1998,  Wang 2004).  Kurva Lorenz dan Koefisien Gini dipergunakan untuk mengukur dan membandingkan inequality dari perusahaan-perusahaan di dalam industri. Kurva Lorenz dan Koefisien Gini mengindikasikan tingkat kompetisi dalam suatu pasar dengan mengukur inequality dalam distribusi ukuran dari perusahaan-perusahaan (Hart and Prais 1956). </p>
<p>Koefisien Gini adalah ukuran statistik yang diperoleh dari Kurva Lorenz, yang terkait dengan pangsa kumulatif dari total nilai suatu variabel (output, revenue, jumlah pekerja, dsb.) terhadap angka  atau persentase dari perusahaan-perusahaan yang ada dalam suatu industri yang diurutkan meningkat sesuai ukurannya. Jika kurva berbentuk lurus, seluruh perusahaan memiliki ukuran yang sama, dan industri dapat dipandang sebagai completely unconcentrated, mengindikasikan tingkat kompetisi yang tinggi di pasar. Secara umum, perusahaan-perusahaan tidak mempunyai ukuran yang sama dalam suatu industri, dan semakin besar deviasi dari garis diagonal terhadap Kurva Lorenz, semakin besar inequality dari ukuran perusahaan dan semakin besar konsentrasi pasar. Sebaliknya, semakin dekat kepada garis diagonal, semakin terdistribusi dan perusahaan-perusahaan semakin tidak terkonsentrasi.</p>
<p> <a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/kurvalorenz.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/kurvalorenz.jpg?w=300&#038;h=293" alt="" width="300" height="293" class="alignnone size-full wp-image-168" /></a><br />
<em>Sumber: Wikipedia</em><br />
Gambar: Kurva Lorenz </p>
<p>Koefisien Gini didefinisikan sebagai sebagai rasio dari luasan yang terletak di antara garis diagonal dan Kurva Lorenz dibagi dengan luasan segitiga di bawah garis diagonal. Nilai maksimum dan minimum adalah satu dan nol, berturut-turut mewakili total inequality dan total equality.</p>
<p>Jika luasan di antara garis diagonal (perfect equality) dan Kurva Lorenz adalah A, dan luasan di bawah Kurva Lorenz adalah B, maka Koefisien Gini adalah A / (A+B). Karena A+B = 0.5, maka Koefisien Gini, G = A/(0.5) = 2A = 1-2B. Jika Kurva Lorenz merupakan fungsi Y = L(X), nilai dari B dapat dicari dengan fungsi integral, sehingga:</p>
<p>G = 1 &#8211; 2*(integral 0-1 dari L(X)dX)</p>
<p>Kurva Lorenz dapat dituliskan sebagai fungsi L(F), dalam hal mana F adalah sumbu horizontal, dan L adalah sumbu vertikal. Untuk populasi berukuran n, dengan urutan nilai yi i=1 hingga n yang diurutkan meningkat (yi &lt;= yi+1), maka Kurva Lorenz adalah fungsi linier yang menghubungkan titik-titik (Fi, Li), i = 0 hingga n, dalam hal mana F0 = 0, L0 = 0, dan untuk i = 0 hingga n:</p>
<p>Fi = i/n<br />
Si = Yj1 + Yj2 + &#8230; + Yji<br />
Li = Si/Sn</p>
<p>REFERENSI</p>
<p>Adelaja, A.,  Menzo, J., and McCay, B. 1998. Market Power, Industrial Organization and Tradeable Quotas. Review of Industrial  Organization, 13, 1998, 589-601</p>
<p>Church, J. and Ware, R. 2000. Industrial Organization: A Strategic Approach, McGraw Hill, Boston.</p>
<p>Kuncoro, M. 2007. Ekonomika Industri Indonesia – Menuju Negara Industri baru 2030?. Yogyakarta: Penerbit ANDI.</p>
<p>Wang, D. 2004. The Chinese Construction Industry from the Perspective of Industrial Organization, PhD Dissertation, Northwertern University, Evanston, Illinois. </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/strategika.wordpress.com/165/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/strategika.wordpress.com/165/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=165&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/08/04/mengukur-struktur-industri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/market_strat.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/struktur-pasar.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/08/kurvalorenz.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Membuat Kurva Lorenz dan Menghitung Koefisien Gini dengan MS Excel</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/07/20/membuat-kurva-lorenz/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/07/20/membuat-kurva-lorenz/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 03:17:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Pencerahan]]></category>
		<category><![CDATA[koefisien gini]]></category>
		<category><![CDATA[kurva lorenz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[
sumber gambar: www.sparknotes.com
Koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Koefisien Gini dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada. Dalam ilmu Ekonomi Industri, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=154&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/lorenz.gif"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/lorenz.gif?w=300&#038;h=262" alt="" width="300" height="262" class="alignnone size-full wp-image-155" /></a><br />
<em>sumber gambar: www.sparknotes.com</em></p>
<p>Koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Koefisien Gini dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada. Dalam ilmu Ekonomi Industri, Koefisien Gini juga dapat dipergunakan untuk melihat konsentrasi pasar.</p>
<p>Berikut adalah petunjuk ringkas untuk menghitung Koefisien Gini dan membuat Kurva Lorenz. Formulasi perhitungan dan pembuatan kurva dapat dilakukan dengan menggunakan software Microsoft Excel.<span id="more-154"></span></p>
<p>Formulasi pada CELL utama:</p>
<p>Total CAP,<br />
C1 = SUM(C7:C200)</p>
<p>Total DIFF,<br />
C2 = SUM(I7:I200)</p>
<p>Jumlah entitas N,<br />
C3 = MAX(D:D)</p>
<p>Gini Coefficient,<br />
C4 = 2*C2/(C3-1)</p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/gini.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/gini.jpg?w=700&#038;h=378" alt="" width="700" height="378" class="alignnone size-full wp-image-156" /></a></p>
<p>KOLOM:</p>
<p>COMP, input nama entitas/organisasi &#8212; lakukan input langsung nama entitas/organisasi, misalnya pada Cell B7 = &#8220;Comp 1&#8243;, dan seterusnya. </p>
<p>CAP, adalah kapasitas atau share pada pasar dari setiap entitas/organisasi. Input langsung data, misalnya Cell B7 = &#8220;10&#8243;, dan seterusnya.</p>
<p>ID, adalah identitas nomor urut entitas/organisasi, dari yang paling kecil ke yang paling besar berdasarkan share pada pasar. Pada Cell D7 input angka &#8220;1&#8243;, kemudian pada Cell di bawahnya, misalnya Cell D8 masukkan formulas [=1+D7], dan seterusnya.</p>
<p>CUM, adalah kumulatif dari pangsa pasar dari entitas/organisasi dengan pangsa paling kecil ke yang paling besar. Formula pada cell E7 = SUM($C$7:C7), copy formula ini untuk setiap cell di bawahnya.</p>
<p>NORM ID adalah normalisasi dari ID, pada Cell F7 masukkan angka Nol (&#8220;0&#8243;), kemudian pada cell F8 masukkan formula F8 = F7+1/($C$3-1), copy formula ini untuk setiap cell di bawahnya.</p>
<p>LORENZ adalah titik-titik yang diperlukan untuk membentuk Kurva Lorenz, pada cell G7 masukkan formula =(E7-$E$7)/($C$1-$E$7) dan copy formula ini untuk setiap cell di bawahnya.</p>
<p>EQUALITY adalah titik-titik yang diperlukan untuk membentuk garis Equality, nilainya sama dengan NORM ID, pada cell H7 masukkan formula = F7 dan copy formula ini untuk setiap cell di bawahnya.</p>
<p>DIFF adalah selisih antara EQUALITY dengan LORENZ, pada cell I7 formulasinya adalah = H7-G7, copy formula ini untuk setiap cell di bawahnya.</p>
<p>Agar urutan entitas dapat urut dari pangsa pasar terendah hingga tertinggi, lakukan SORT pada area [B6..C26] sehingga cell [C7..C26] terurut dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi.</p>
<p>Kurva Lorenz kemudian dapat dibuat dengan memplotkan area [G6..H26] ke dalam fungsi chart.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/strategika.wordpress.com/154/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/strategika.wordpress.com/154/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=154&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/07/20/membuat-kurva-lorenz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/lorenz.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/gini.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Perilaku Harga Minyak Sawit</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/07/06/perilaku-pcpo/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/07/06/perilaku-pcpo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 08:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Kelapa Sawit]]></category>
		<category><![CDATA[Harga]]></category>
		<category><![CDATA[minyak sawit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[
Sumber gambar: www.comesatradehub.com
PENDAHULUAN
Dekade ini ditandai oleh fenomena melejitnya harga bahan bakar fosil yang memaksa berbagai negara mencari sumber-sumber energi alternatif terbarukan, yaitu bioenergi. Jika pada tahun 2000 harga minyak bumi (CO, crude  oil) adalah US$ 21 per barrel, maka pada tahun 2008 (28 Juni) harga minyak bumi telah mencapai US$ 140-an per barrel. 
Meroketnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=145&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr0.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr0.jpg?w=300&#038;h=176" alt="" width="300" height="176" class="alignnone size-full wp-image-151" /></a><br />
<em>Sumber gambar: www.comesatradehub.com</em></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Dekade ini ditandai oleh fenomena melejitnya harga bahan bakar fosil yang memaksa berbagai negara mencari sumber-sumber energi alternatif terbarukan, yaitu bioenergi. Jika pada tahun 2000 harga minyak bumi (CO, crude  oil) adalah US$ 21 per barrel, maka pada tahun 2008 (28 Juni) harga minyak bumi telah mencapai US$ 140-an per barrel. </p>
<p>Meroketnya harga energi berdampak langsung pada harga produk pertanian melalui kenaikan biaya input semisal pupuk, dan biaya transportasi  (Nainggolan. 2007). Dilihat dari faktor ekonomi, kenaikan harga minyak ini disebabkan oleh adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi India yang mencapai 8% dan juga pertumbuhan ekonomi Cina yang mencapai besaran 10%. Hal ini pada gilirannya mempengaruhi besaran konsumsi energi kedua negara tersebut secara signifikan.</p>
<p>Pencarian bahan bakar alternatif bersumber bioenergi memang telah memberikan persaingan terhadap sumber daya pangan. Hal ini dapat terjadi jika lahan dan sumber daya produktif pertanian berubah menjadi sumber daya untuk pasokan energi.  Secara makro ekonomi, alasan peningkatan harga bahan pangan dapat dijelaskan pada dua sisi, yaitu demand side dan supply side.<span id="more-145"></span></p>
<p><strong>Pada Supply Side:</strong><br />
Perubahan iklim (climate changes) telah mendorong berkurangnya produksi bahan makanan. Telah terjadi penurunan dari produksi bahan pangan di seluruh dunia, terutama pada negara-negara besar produsen bahan pangan seperti Amerika Serikat dan Australia. Peningkatan harga minyak bumi telah menyebabkan peningkatan biaya produksi pertanian, dan juga menyebabkan lahan pertanian diubah dari keperluan produksi bahan pangan menjadi keperluan produksi bahan untuk biofuel.</p>
<p><strong>Pada Demand Side:</strong><br />
Telah terjadi peningkatan konsumsi makanan, terutama di negara-negara yang secara ekonomi sedang tumbuh cepat seperti China dan India. Di China, peningkatan konsumsi daging berarti pengurangan ketersediaan kacang-kacangan karena perlu beberapa lipat bahan kacang-kacangan sebagai makanan ternak untuk penyediaan daging ternak.  Perubahan pola konsumsi ini telah mengakibatkan peningkatan permintaan pada bahan pangan. </p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_tabel1.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_tabel1.jpg?w=300&#038;h=157" alt="" width="300" height="157" class="alignnone size-full wp-image-152" /></a><br />
Sumber: Von Braun (2007)</p>
<p>Tabel 1. Change in Food Consumption Quantity, Ratios 2005/1990</p>
<p>Sebagaimana terlihat pada Tabel 1 di atas, perubahan pola konsumsi pangan di China misalnya telah mengakibatkan peningkatan konsumsi minyak makan, daging, unggas, ikan dan buah-buahan beberapa kali lipat di tahun 2005 dibandingkan pada tahun 1990. Hal yang sama juga terjadi di India dan negara-negara berkembang lainnya.</p>
<p>Permintaan akan minyak nabati terutama diakibatkan oleh kebutuhan akan minyak makan dan panganan protein. Menurut Schnepf (2006) perkembangan utama terjadi pada sisi permintaan karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi di China dan India yang mendorong konsumsi domestik akan makanan. China saat ini merupakan importir utama kacang kedelai, dan berdua dengan India merupakan importir utama untuk minyak nabati dunia. </p>
<p>Produk minyak sawit yang merupakan salah satu andalan ekspor Indonesia juga mengalami peningkatan harga yang signifikan di tahun 2007. Harga minyak sawit secara historis terus meningkat sejak mengalami titik terendah pada tahun 2001 pada kisaran harga US$200 per ton. Peningkatan harga yang tajam terjadi sejak tahun 2006, dari tingkat US$400 per ton menjadi US$900 per ton di akhir tahun 2007. Peningkatan harga minyak sawit (CPO, crude palm oil) ini juga mendongkrak harga buah sawit (TBS, tandan buah segar). Para petani kelapa sawit memperoleh manfaat dari hasil menjual buah sawit kepada pabrik-pabrik pengolah buah sawit menjadi CPO. Oleh karenanya, harga TBS merupakan salah satu indikator penting yang dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan petani kelapa sawit.</p>
<p>Sebagai salah satu komoditas utama pada pasar minyak nabati dunia, CPO juga tidak terlepas dari sasaran untuk tujuan konversi ke produk biodiesel. Terlepas dari keekonomian konversi minyak sawit menjadi biodiesel, sentimen ini ditengarai telah berperan pada peningkatan harga minyak sawit di dunia, sebagaimana yang terjadi pada berbagai komoditas yang menjadi sasaran untuk digunakan sebagai bahan baku untuk biofuel/biodiesel. </p>
<p>Tulisan ini berusaha untuk memahami perilaku harga minyak sawit (crude palm oil) di Indonesia dalam kaitannya dengan peningkatan harga minyak bumi (crude oil). Selain harga minyak sawit, juga diamati harga buah sawit (tandan buah segar).</p>
<p><strong>KAJIAN PUSTAKA</strong></p>
<p><strong>Struktur Pasar dan Harga</strong></p>
<p>Harga (P) merupakan titik keseimbangan ketika para pembeli (dalam hal ini mewakili permintaan) dan para penjual (dalam hal ini mewakili penawaran) bertemu di pasar.</p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr1.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr1.jpg?w=300&#038;h=198" alt="" width="300" height="198" class="alignnone size-full wp-image-146" /></a><br />
Gambar 1. Harga Mewakili Keseimbangan Penawaran dan Permintaan</p>
<p>Informasi baru yang masuk ke dalam pasar, misalnya tentang kegagalan panen, dapat merubah harapan dari pelaku pasar dan mendorong terbentuknya titik keseimbangan baru. Hal ini terjadi karena para penjual akan merevisi harga tawaran mereka dan para pembeli akan merevisi tawaran pembelian mereka berdasarkan informasi baru yang diterima.</p>
<p>Pergeseran permintaan dari keseimbangan pasar (misalnya karena berita kegagalan panen di suatu daerah produksi) akan meningkatkan harga P sejalan dengan bergesernya kurva Permintaan ke arah kanan sepanjang kurva Penawaran. Hal yang sama juga dapat terjadi seandainya terjadi pergesaran penawaran pada keseimbangan pasar akan dapat menurunkan tingkat harga P sebagaimana digambarkan Penawaran bergeser ke arah kanan sepanjang kurva Permintaan. Kedua hipotesa harga ini hanya berlaku pada jangka pendek. Dalam jangka panjang, para produsen akan membuat keputusan untuk menanam (berproduksi) berdasarkan harapan akan harga yang baru. </p>
<p>Kecepatan dan efisiensi dari penyesuaian harga yang terjadi akan tergantung dari struktur pasar di mana suatu komoditas diperdagangkan. Karakteristik dari struktur pasar antara lain adalah:</p>
<p>1. Jumlah pembeli dan penjual – semakin besar pelaku pasar, semakin meningkat price competitiveness.</p>
<p>2. Homogenitas dari komoditas dalam hal varietas, tipe, kualitas, dan karakteristik yang diinginkan pengguna akhir – semakin bervariasi suatu produk, maka semakin bervariasi tingkat harga di antara produk dan pasar.</p>
<p>3. Jumlah dari produk substitusi – semakin banyak subsitusi, maka pembeli akan semakin memiliki alternatif pilihan, dan semakin price sensitif.</p>
<p>4. Kemampusimpanan dari komoditas – semakin mampu disimpan, maka penjual akan semakin memiliki pilihan kapan dan pada kondisi apa komoditas akan dijual.</p>
<p>5. Transparansi dari formasi harga, misalnya pelelangan terbuka dibanding kontrak privat – semakin transparan akan menjaga terjadinya manipulasi harga.</p>
<p>6. Kemudahan memindahtangankan komoditas di antara pembeli dan penjual dan antar pasar – semakin memiliki mobilitas tinggi maka akan semakin memiliki kesamaan tingkat harga.</p>
<p>7. Restriksi artifisial pada proses di pasar, misalnnya kebijakan pemerintah atau kolusi pasar dari para pelaku utama – semakin banyak restriksi akan semakin membuat harga jauh dari posisi keseimbangan natural. </p>
<p>Menurut Baffes (2007), harga minyak bumi mempengaruhi harga komoditas lainnya dengan berbagai cara. Komoditas seperti minyak sayur, gula dan jagung dapat diolah menjadi ethanol dan biodiesel, karenanya komoditas ini dapat berperan sebagai produk substitusi bagi minyak bumi.</p>
<p>Terminologi analisis harga biasanya mengacu pada analisis kuantitatif dari keterkaitan antara aspek permintaan-penawaran-harga. Dalam hal demikian umumnya penggunaan alat analisis ekonometrik merupakan metode analisis yang sering digunakan. Namun demikian, penggunaan tabel-tabel sederhana dan atau grafik dengan pembahasan secara deskriptif juga menjadi alternatif metode yang sering dipergunakan dalam analisis harga (Rachman, 2005). Terdapat dua alasan mengapa analisis harga komoditas menjadi penting untuk dilakukan, yaitu:  (1) Untuk mengestimasi koefisien (parameter) ekonomi tertentu seperti elastisitas permintaan dari harga komoditas dan (2) Untuk meramalkan harga pada masa mendatang dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat harga komoditas tertentu.</p>
<p><strong>HIPOTESA RISET</strong></p>
<p>Terkait dengan sentimen untuk memanfaatkan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, maka perlu dilakukan pengujian korelasi harga antara harga CPO dengan harga minyak bumi. Pengujian yang sama juga perlu dilakukan terhadap harga buah sawit (TBS), baik terhadap harga CPO maupun terhadap harga minyak bumi (CO). Untuk itu perlu dijawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah pergerakan harga minyak sawit (CPO),  harga buah sawit (TBS) dan harga minyak bumi (CO) saling berkorelasi? </p>
<p><strong>METODE</strong></p>
<p><strong>Kerangka Pemikiran<br />
</strong><br />
Permintaan minyak bumi dipengaruhi jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Demikian pula permintaan akan minyak makan.</p>
<p><em>Permintaan = f (harga, harga produk lain, jumlah penduduk, pendapatan, selera, &#8230;)<br />
</em><br />
Sentimen bioenergi telah menjadikan berbagai produk pertanian makanan dikonversi menjadi bahan baku untuk ethanol dan biofuel. Produk-produk ini antara lain adalah jagung, kedelai, rapeseed, sunflower, dan minyak sawit. Sentimen ini telah menyebabkan harga produk-produk pertanian tersebut dicurigai meningkat sejalan dengan peningkatan harga minyak bumi.</p>
<p>Minyak sawit yang merupakan komoditas potensial untuk dijadikan sebagai bahan baku biodiesel juga mengalami peningkatan harga yang signifikan. Untuk itu perlu dilihat keterkaitan harga minyak sawit dengan harga minyak bumi. Keterkaitan harga minyak sawit dan minyak bumi ini dapat terjadi baik karena komoditas minyak sawit telah menjadi produk substitusi dari minyak bumi, maupun karena kesamaan faktor-faktor pendorong permintaan terhadap minyak sawit dan minyak bumi, yakni pertumbuhan penduduk dan peningkatan kemakmuran dunia, terutama yang terjadi di China dan India.</p>
<p><strong>Data dan Sumber Data<br />
</strong><br />
Data harga bulanan CPO (dalam US$ per Ton) dan TBS (dalam Rp/Kg) didapatkan dari publikasi harga minyak sawit yang disediakan oleh PT SMART Tbk pada alamat website  http://www.smart-tbk.com. Harga minyak sawit (CPO) tersebut adalah harga port Belawan, sedangkan harga buah sawit (TBS) adalah harga pasar Medan.</p>
<p>Harga minyak bumi (CO) diperoleh dan diolah dari data historis minyak bumi yang disediakan oleh Energy Information Administration, official energy statistics from the U.S. Government pada alamat http://www.eia.doe.gov/. Harga minyak bumi tersebut adalah harga rata-rata mingguan pada harga dunia yang merupakan rerata tertimbang terhadap porsi ekspor tiap negara.</p>
<p><strong>Analisa<br />
</strong><br />
Sentimen tentang pemanfaatan minyak sawit menjadi bahan bakar nabati muncul ketika harga minyak bumi (crude oil) naik secara tajam di tahun 2007, dari sekitar US$50 menjadi US$90 per barrel. Pada saat yang sama harga CPO naik dari US$600 menjadi US$900 per ton. Pergerakan harga CPO dan harga minyak bumi pada periode 1999-2007 nampak pada Gambar di bawah.</p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr2.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr2.jpg?w=501&#038;h=265" alt="" width="501" height="265" class="alignnone size-full wp-image-147" /></a><br />
Gambar 2. Pergerakan Harga CPO, TBS dan CO 1999-2007</p>
<p><strong>Pengujian Hipotesa<br />
</strong><br />
Hasil pengujian korelasi dan regresi harga minyak sawit dan minyak bumi pada berbagai periode (1999-2007, 1999-2005, 2006-2007 dan 2007) terdapat pada Tabel 1. Pengujian statistik korelasi harga minyak sawit dengan harga minyak bumi pada periode 1999-2007 menunjukkan bahwa minyak sawit dan minyak bumi memang berkorelasi positif sebesar 0,66. Pada periode 1999-2005 korelasinya hanyalah 0,12. Sementara jika dilihat pergerakan pada periode 2006-2007, korelasi pergerakan harga minyak sawit dan minyak bumi adalah 0.73. Korelasi sangat positif sebesar 0,97 terjadi di tahun 2007.</p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_tabel2.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_tabel2.jpg?w=500&#038;h=113" alt="" width="500" height="113" class="alignnone size-full wp-image-149" /></a><br />
Tabel 2. Hasil Uji Regresi Harga Minyak Sawit (CPO) dan Minyak Bumi (CO)</p>
<p>Model yang dibangun pada Tabel 2 di atas diformulasikan sebagai:</p>
<p><em>PCPO = a + b*PCO + c<br />
</em><br />
di mana PCPO adalah harga CPO dan PCO adalah harga minyak bumi (CO). </p>
<p>Sebagaimana terlihat pada Tabel 2, model yang dibangun signifikan pada periode 2006-2007 (F-sig  0.05). Dengan demikian, sejak tahun 2006 harga crude oil dapat dijadikan sebagai patokan untuk peramalan harga CPO. Pengujian korelasi per tahun dari tahun 1999 hingga 2007 menunjukkan konsistensi korelasi antara harga TBS dengan harga CPO, namun demikian untuk CPO dengan CO (dan TBS dengan CO) tidak terjadi konsistensi korelasi pada periode tersebut (lihat Gambar 3).</p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr3.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr3.jpg?w=500&#038;h=251" alt="" width="500" height="251" class="alignnone size-full wp-image-148" /></a><br />
Gambar 3. Korelasi TBS-CPO-CO 1999-2007</p>
<p>Dengan memperhatikan pola kenaikan harga TBS dan CPO relatif terhadap harga Januari 1999 (harga TBS dikonversikan ke dalam satuan US$) pada Gambar 4 di bawah, dapat dikatakan bahwa harga TBS mengalami kenaikan yang relatif lebih tinggi (lebih dari 2,5 kali) dibandingkan kenaikan harga CPO (yang hanya 1,5 kali). Dengan demikian nilai harga yang diterima oleh petani sawit (proses panen TBS) dapat dikatakan lebih tinggi dibandingkan nilai harga yang didapat para produsen CPO (pengolahan TBS menjadi CPO).</p>
<p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr4.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr4.jpg?w=500&#038;h=227" alt="" width="500" height="227" class="alignnone size-full wp-image-150" /></a><br />
Gambar 4. Kenaikan Harga TBS dan CPO 1999-2007 (Jan 1999 = 100)</p>
<p><strong>KESIMPULAN<br />
</strong><br />
Sentimen pemanfaatan minyak sawit (CPO, crude palm oil) sebagai bahan baku biodiesel telah menyebabkan permintaan terhadap CPO semakin meningkat. Hal ini terkait dengan sentimen pengunaan bahan bakar nabati sebagai dampak dari meningkatnya harga minyak bumi (CO, crude oil), terutama di tahun 2007. </p>
<p>Harga CPO akan terus meningkat karena selain sentimen tentang pencarian bahan bakar alternatif termasuk biofuel berbahan baku CPO, juga karena peningkatan permintaan dari dua konsumen terbesar dunia, yakni India dan China, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di kedua negara tersebut yang saat ini mencapai 8-10 persen per tahun.</p>
<p>Harga buah sawit (TBS) secara konsisten berkorelasi dengan harga CPO, hal ini dapat terjadi karena penetapan harga TBS memang mengacu pada harga CPO. Namun demikian korelasi ini meningkat mendekati satu pada tahun 2007. Sementara itu korelasi antara harga minyak sawit dan minyak bumi tidak konsisten berkorelasi positif setiap tahun. Pada periode amatan, korelasi positif antara harga minyak sawit dengan minyak bumi memang terjadi pada periode 2006-2007. Sementara pada periode 1999-2007, peningkatan harga CPO dan TBS menunjukkan bahwa nilai harga yang diterima oleh petani sawit (harga TBS) dapat dikatakan lebih tinggi dibandingkan nilai harga yang didapat para produsen CPO (harga CPO).</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Baffes, J. 2007. Oil Spills on Other Commodities. Policy Research Working Paper,  4333. The World Bank, Development Prospects Group, Global Trends Team (August 2007).</p>
<p>Blankmeyer, E. 1990. Best Log-Linear Index Numbers of Prices and Quantities. Atlantic Economic Journal; Jun 1990; 18, 2; ABI/INFORM Global pg. 17</p>
<p>Cashin, P., and  McDermott, C.J.. 2002. The long-run behavior of commodity prices: Small trends and big variability. IMF Staff Papers; 2002; 49, 2; ABI/INFORM Global pg. 175</p>
<p>Deb, P., Trivedi, P.K., and Varangis, P. 1996. The Excess Co-Movement Of Commodity Prices Reconsidered. Journal of Applied Econometrics (1986-1998); May/Jun 1996; 11, 3; ABI/INFORM Global pg. 275</p>
<p>Hea, X.Z., and Westerhoffb, F.H. 2005. Commodity Markets, Price Limiters and Speculative Price Dynamics. Journal of Economic Dynamics &amp; Control 29 (2005) 1577–1596</p>
<p>Jones, Ronald W. 1989. Co-Movements In Relative Commodity Prices And International Economic Inquiry; Jan 1989; 27, 1; ABI/INFORM Global pg. 131</p>
<p>Liew, K.Y. and Brooks, R.D. 1998. Returns and Volatility in The Kuala Lumpur Crude Palm Oil Futures Market. The Journal of Futures Markets (1986-1998); Dec 1998; 18, 18; ABI/INFORM Global pg. 985</p>
<p>Moutos, T. and Vines, D. 1992. Output, Inflation and Commodity Prices. Oxford Economic Papers; Jul 1992; 44, 3; ABI/INFORM Global pg. 355</p>
<p>Nainggolan, K. 2007. Bioenergi Vs Ketahanan Pangan. Diunduh dari: http://database.deptan.go.id:8081/bkp/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=84&amp;Itemid=9 pada tanggal 28 April 2008</p>
<p>Peterson, H.H. and Tomek, W.G. 2005. How Much of Commodity Price Behavior Can A Rational Expectations Storage Model Explain?. Agricultural Economics 33 (2005) 289-303.</p>
<p>Pindyck, R.S. 1994. Inventories and the short-run dynamics of commodity prices. The Rand Journal of Economics; Spring 1994; 25, 1; ABI/INFORM Global pg. 141</p>
<p>Rachman, H.P.S. 2005. Metode Analisis Harga Pangan. Makalah pada apresiasi “Sistem Distribusi Pangan dan Harga Pangan”, Departemen Pertanian, Ciawi-Bogor, 3-5 Juli 2005.</p>
<p>Reinhart, Carmen M; Wickham, Peter. 1994. Commodity prices: Cyclical weakness or secular decline? International Monetary Fund. Staff Papers &#8211; International Monetary Fund; Jun 1994; 41, 2; ABI/INFORM Global pg. 175</p>
<p>Richard L Peterson; Christopher K Ma; Robert J Ritchey. Dependence in Commodity Prices. 1992. The Journal of Futures Markets (1986-1998); Aug 1992; 12, 4; ABI/INFORM Global pg. 429</p>
<p>Schnepf, R. 2006. Price Determination in Agricultural Commodity Markets: A Primer. CRS Report for Conggress. Updated 6 Januari 2006. Conggressional Research Service. The Library of Conggress. U.S.</p>
<p>Sephton, P.S. 1991. Commodity Prices: Policy Target or Information Variable. Journal of Money, Credit, and Banking; May 1991; 23, 2; ABI/INFORM Global pg. 260</p>
<p>Osborne, T. 2004. Market News in Commodity Price Theory: Application to the Ethiopian Grain Market. The Review of Economic Studies; Jan 2004; 71, 246; ABI/INFORM Global pg. 133</p>
<p>Von Braun, J. 2007. The World Food Situation &#8211; New Driving Forces and Required Actions. International Food Policy Research Institute Washington, D.C.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/strategika.wordpress.com/145/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/strategika.wordpress.com/145/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=145&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/07/06/perilaku-pcpo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr0.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_tabel1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_tabel2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr3.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/07/pcpo_gbr4.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hipotesa Schumpeterian tentang Inovasi</title>
		<link>http://strategika.wordpress.com/2008/05/17/hipotesa-schumpeterian-tentang-inovasi/</link>
		<comments>http://strategika.wordpress.com/2008/05/17/hipotesa-schumpeterian-tentang-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 May 2008 16:34:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efendi Arianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[schumpeterian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://strategika.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[
Hipotesa Schumpeterian mengacu pada pemikiran Joseph Alois Schumpeter, yang  dikenal kepakarannya untuk bidang: Business cycles, Economic development, Entrepreneurship dan Evolutionary economics. Dia adalah salah satu ekonom yang berpengaruh pada abad ke 20. 
Sekalipun analisa Joseph Schumpeter tentang innovation–market power dynamic muncul karena terjadinya evolusi tahun 20-an pada struktur industri di Amerika, kajian ini kurang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=140&subd=strategika&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://strategika.files.wordpress.com/2008/05/inovasi1.jpg"><img src="http://strategika.files.wordpress.com/2008/05/inovasi1.jpg?w=300&#038;h=194" alt="" width="300" height="194" class="alignnone size-full wp-image-142" /></a></p>
<p>Hipotesa Schumpeterian mengacu pada pemikiran Joseph Alois Schumpeter, yang  dikenal kepakarannya untuk bidang: Business cycles, Economic development, Entrepreneurship dan Evolutionary economics. Dia adalah salah satu ekonom yang berpengaruh pada abad ke 20. </p>
<p>Sekalipun analisa Joseph Schumpeter tentang innovation–market power dynamic muncul karena terjadinya evolusi tahun 20-an pada struktur industri di Amerika, kajian ini kurang begitu memperoleh perhatian pada berbagai literatur. Hal ini dapat dimaklumi karena peneliti baru dapat melakukan kajian empiris dari hipotesa ini pada tahun-tahun belakangan karena alasan ketersediaan data. Kebanyakan kajian empiris menekankan pada kompetisi, dan bukan pada kekuatan pasar, yang berperan pada tumbuhnya inovasi di perusahaan.<span id="more-140"></span></p>
<p>Joseph Alois Schumpeter, lahir pada tanggal 8 Februari 8, 1883 di Triesch, Moravia, Austria-Hungary; Meninggal pada tanggal 8 Januari 8, 1950 (pada umur 66), di Taconic, Connecticut, U.S. </p>
<p>Selama hidupnya, Joseph Schumpeter mengajar di berbagai universitas dengan bidang ekonomi, yaitu:<br />
1. Harvard University 1932-50<br />
2. University of Bonn 1925-32<br />
3. Biedermann Bank 1921-24<br />
4. University of Graz 1912-14<br />
5. University of Czernowitz 1909-11</p>
<p>Joseph Schumpeter lulus pendidikan doktoral dari University of Vienna di bawah bimbingan Prof. Eugen von Böhm-Bawerk. Beberapa anak didik Joseph Schumpeter yang terkenal antara lain adalah: Abram Bergson, Nicholas Georgescu-Roegen dan Robert Heilbroner.</p>
<p>Ketertarikan Schumpeter pada inovasi dapat tergambar pada Neo-Schumpeterian economics, yang dikembangkan oleh peneliti seperti Christopher Freeman dan Giovanni Dosi (source: Wikipedia). </p>
<p>Dalam buku berjudul <em>“Theory of Economics”</em>, Schumpeter (1934) memandang penting peran dari entrepenur yang memainkan peran utama dalam analisa evolusi kapital. Joseph Schumpeter mendefinisikan ekonomi inovasi sebagai:</p>
<p><em>1. The introduction of a new good —that is one with which consumers are not yet familiar—or of a new quality of a good.</p>
<p>2. The introduction of a new method of production, which need by no means be founded upon a discovery scientifically new, and can also exist in a new way of handling a commodity commercially.</p>
<p>3. The opening of a new market, that is a market into which the particular branch of manufacture of the country in question has not previously entered, whether or not this market has existed before.</p>
<p>4. The conquest of a new source of supply of raw materials or half-manufactured goods, again irrespective of whether this source already exists or whether it has first to be created.</p>
<p>5. The carrying out of the new organization of any industry, like the creation of a monopoly position (for example through trustification) or the breaking up of a monopoly position</em></p>
<p>Dalam buku <em>“Capitalism, Socialism and Democracy”</em>, Schumpeter (1942) menekankan pentingnya perusahaan besar (monopoli) sebagai faktor penting pada perkembangan ekonomi: <em>“The monopolist firm will generate a larger supply of innovation because there are advantages which, though not strictly unattainable on the competitive level of enterprise, are as a matter of fact secured only on the monopoly level”</em>.  Dalam kasus ini, inovasi bukanlah hasil dari hal-hal di luar perusahaan, tapi merupakan faktor endogen (Acs dan Audretsch. 1988).</p>
<p>Pengukuran inovasi selama ini mengalami keterbatasan data. Biasanya pengukuran inovasi dikaitkan dengan ukuran lain, misalnya ukuran input terhadap aktivitas inovasi (Scherer, 1965), atau menggunakan proxy dari output inovasi seperti jumlah temuan yang dipatenkan (Mansfield, 1968). Pengukuran lain dengan menggunakan ukuran R&amp;D hanya mengindikasikan budget yang dialokasikan untuk melakukan aktivitas inovasi, tetapi bukan aktual dari aktivitas inovasi itu sendiri.</p>
<p>Acs dan Audretsch (1987) mencoba mengatasi kelemahan pengukuran inovasi ini dengan mengadopsi data jumlah inovasi yang dihasilkan yang ada pada setiap four-digit SIC industry yang dicatat pada tahun 1982, oleh U.S. Small Business Administration. Data SIC ini mengacu pada lebih dari 100 jurnal teknologi, engineering, perdagangan, yang membahas setiap industri manufaktur. Jurnal-jurnal ini disumbangkan oleh Acs dan Audretsch sendiri. </p>
<p>Argumen Schumpeterian yang secara umum dipahami adalah bahwa perusahaan besar lebih inovatif dibandingkan perusahaan yang lebih kecil. Namun hal ini belum pernah divalidasi, terutama terhadap industri manufaktur.</p>
<p>Oleh karena itu Acs dan Audretsch  mengajukan hipotesis Schumpeterian yang dimodifikasi, yaitu perusahaan besar memiliki keunggulan relatif dalam inovasi pada pasar yang terkonsentrasi dengan entry barrier yang signifikan, sementara perusahaan kecil memiliki keunggulan relatif dalam inovasi pada pasar yang kompetitif.</p>
<p>Literatur menyebutkan ada tiga aspek pada struktur pasar yang mempengaruhi inovasi pada perusahaan besar dan kecil:<br />
1. Distribusi ukuran dari perusahaan<br />
2. Keberadaan barrier to entry<br />
3. Tahapan industry pada product life cycle </p>
<p>Acs dan Audretsch (1987) menyimpulkan bahwa keunggulan inovasi relatif dari perusahaan besar dan kecil ditentukan oleh karakteristik dari imperfect competition.</p>
<p>Industri dengan capital intensive, terkonsentrasi dan advertising-intensive cenderung mendorong terjadinya aktivitas inovasi di perusahaan-perusahaan besar. Sementara itu keunggulan inovasi dari perusahaan kecil cenderung muncul pada tahapan awal dari life cycle, dimana total innovation dan penggunaan skilled labor berperan penting, dan dimana perusahaan-perusahaan besar memiliki pangsa pasar yang tinggi. </p>
<p>Acs dan Audretsch memberikan masukan agar debat tentang teori Schumpeterian diarahkan lebih tepat. Ketimbang menanyakan “Which firm size is most conducive to innovation?”, pertanyaan yang lebih tepat barangkali adalah “Under which circumstances do large firms have the relative innovative advantages?” </p>
<p>Hubungan antara inovasi dengan konsentrasi pasar memang tidak dapat ditampilkan dalam suatu hubungan sederhana; Hal ini dikarenakan konsentrasi pasar dan aktivitas inovasi keduanya dipengaruhi oleh berbagai hubungan ekonomi yang berbeda-beda pada berbagai lingkungan pasar.</p>
<p>Pengujian peran inovasi perusahaan dan pengaruhnya pada industri telah menjadi perhatian sejak mulai bergesernya  paradigma ekonomi industri “structure-conduct-performance” kepada peran kekuatan sumber daya internal perusahaan, yang dikenal sebagai teori Resource Based View (RBV). Kemampuan melakukan dan mengimplementasikan inovasi dapat dipandang sebagai kekuatan internal perusahaan untuk bersaing dalam industrinya.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Acs, Z.J. and Audretsch, D.B. 1987. Innovation, Market Structure, and Firm Size. The Review of Economics and Statistics, Volume 69, Issue 4 (Nov., 1987).</p>
<p>___________.1988. Testing the Schumpeterian Hypothesis. Eastern Economic Journal, Vol. XIV, No. 2, April-June 1988.</p>
<p>Nicholas, T. 2003. Why Schumpeter was Right: Innovation, Market Power, and Creative Destruction in 1920s America. The Journal of Economic History, Vol. 63, No. 4 (December 2003).</p>
<p>O Hara, Phillip Anthony. 1994. An Institutionalist Review of Long Wave Theories: Schumpeterian Innovation, Modes of Regulation, and Social Structures of Accumulation. Journal of Economic Issues; Jun 1994; 28, 2; ABI/INFORM Global pg. 489</p>
<p>www.wikipedia.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/strategika.wordpress.com/140/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/strategika.wordpress.com/140/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/strategika.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/strategika.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/strategika.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/strategika.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/strategika.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/strategika.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/strategika.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/strategika.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/strategika.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/strategika.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=strategika.wordpress.com&blog=1211681&post=140&subd=strategika&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://strategika.wordpress.com/2008/05/17/hipotesa-schumpeterian-tentang-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/753de3fa7e0b1b7ed5900662620f85c2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Efendi Arianto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://strategika.files.wordpress.com/2008/05/inovasi1.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>