Strategika!

Membuat Kurva Lorenz dan Menghitung Koefisien Gini dengan MS Excel

Posted in Ekonomi, Pencerahan by Efendi Arianto on July 20, 2008


sumber gambar: www.sparknotes.com

Koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna). Koefisien Gini dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada. Dalam ilmu Ekonomi Industri, Koefisien Gini juga dapat dipergunakan untuk melihat konsentrasi pasar.

Berikut adalah petunjuk ringkas untuk menghitung Koefisien Gini dan membuat Kurva Lorenz. Formulasi perhitungan dan pembuatan kurva dapat dilakukan dengan menggunakan software Microsoft Excel. (more…)

Sains dan Agama, Peranannya Dalam Kehidupan Manusia dan Dalam Hakekat “Kebenaran”

Posted in Pencerahan by Efendi Arianto on July 5, 2007

sains.jpg

I. PENDAHULUAN

F. Budi Hardiman menyampaikan melalui tulisannya di harian Kompas, Jumat, 02 Februari 2007, dalam “Sains dan Pencarian Makna: Menyiasati Konflik Tua antara Sains dan Agama”, secara garis besar, ada tiga posisi untuk memahami hubungan antara sains dan agama dalam pencarian makna. Dengan makna di sini dimaksudkan terutama ’kebenaran’. Pertama, sains dan agama memiliki teritorium yang berbeda dalam pencarian makna. Kedua, agama dan sains dapat dibawa ke dalam arena yang sama dalam pencarian makna. Dan ketiga, agama dan sains menerangi realitas yang sama, namun dengan perspektif yang berbeda.

Diskusi mengenai keterkaitan antara sains dan agama memang sejak mula sangat menarik karena setiap pendapat akan ditanya mengenai hakekat keterkaitan tersebut. Apakah alam dan iman, iptek dan agama, harus menjadi tesis-antitesis? Masing-masing memiliki prinsip dan pembenaran sendiri. Yang pasti adalah, perbedaan pendapat, tesis-antitesis ini, menuntut penengahan debat. Diperlukan satu pemahaman untuk hakekat kemanusiaan yang lebih tinggai dalam kehidupan ini. Juga menyangkut harkat dan martabat dan integritas manusia sebagai khalifah di bumi ini.
(more…)

Tagged with: ,

Insights

Posted in Pencerahan by Efendi Arianto on July 5, 2007

Pekerjaan Tuhan, kita tidak akan pernah bisa. Pekerjaan kita, Tuhan tidak akan melakukannya.

Usaha yang setengah-setengah bukan sebuah kegagalan, tapi sebuah dosa.

Jangan membuang waktu menunggu inspirasi. Pemenang tidak bekerja karena terinspirasi, tetapi menjadi terinspirasi karena bekerja.

Berdoa tanpa bekerja adalah mengemis.

Jangan percaya penghasilan besar dan rumah yang besar akan membawa kedamaian. Itu tidak akan pernah. Tidak ada yang bisa memberikan kedamaian kecuali diri sendiri.

Tugas membuat kita melakukan lebih baik, tetapi cinta membuat kita melakukannya dengan indah.

Berhentilah mencari persahabatan, dan mulailah bersikap bersahabat.

Kritikan hanyalah sebuah opini orang lain.

Untuk menghibur, bagi beberapa orang, yang anda perlu lakukan hanya mendengar.

Orang hebat tidak pernah merasa hebat. Orang bodoh tidak pernah merasa bodoh.

Aku Bekerja, Maka Aku Ada

Posted in Pencerahan by Efendi Arianto on July 5, 2007

Sumber: Majalah Manajemen – “Aku Bekerja, Maka Aku Ada” oleh Andrias Harefa.*

Kajian mengenai “mengapa orang bekerja” atau “motivasi kerja”, telah banyak dilakukan oleh para pakar berbagai disiplin ilmu, terutama psikologi. Frederick Taylor bicara soal carrot and stick (wortel dan cambuk). David McClelland dan John W. Atkinson bicara soal need for achievement-power-affiliation. Douglas McGregor bicara soal teori X dan Y. Abraham Maslow bicara soal hierarchi of needs. Frederick Herzberg bicara soal hygiene-motivational factors. Dan sebagainya. Argumen-argumen mereka menarik karena didasarkan pada penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan secara akademis-ilmiah. Satu-satunya soal yang mengganjal adalah fakta bahwa studi-studi tersebut umumnya dilakukan sebelum “dunia yang dilipat” (internet) hadir seperti kita lihat hari-hari ini. Jadi manusia-manusia yang diteliti itu bukan Cohort 80-an yang nampak “aneh” bagi sebagian kita yang lahir lebih dulu. Apakah akan ada bedanya motivasi kerja generasi baru ini dengan yang sebelumnya? (more…)

Guidance for Effective Listening

Posted in Pencerahan by Efendi Arianto on July 5, 2007

Quoted from “Organizational Behavior, Human Behavior at Work”, by John W. Newstrom and Keith Davis

Stop talking!
- You cannot listen if you are talking.
- Polonius (Hamlet): “Give every man thine ear, but few thy voice”

Put the talker at ease.
- Help a person feel free to talk by making him or her comfortable.
- Create a permissive atmosphere by establishing rapport.

Show a talker that you want to listen.
- Look interested. Establish eye contact and give nonverbal responses.
- Act interested. Do not read your mail while someone talks.
- Listen to understand rather than to oppose.

Remove distractions.
- Don’t doodle, tap, or shuffle papers.
- Offer to shut the door.

Empathize with a talker.
- Try to see the other person’s point of view.
- “Connect” with the person by sharing a similar experience.

Be patient.
- Allow plenty of time. Do not interrupt a talker.
- Don’t start a door or walk away.

Hold your temper.
- Pause before you speak or response.
- An angry person takes the wrong meaning from words.

Go easy on argument and criticism.
- These approaches put a talker on a defensive, and she or he may “clam up” or become angry.
- Do not argue. Even if you win, you lose.

Ask relevant questions.
- Asking questions encourages a talker and shows that you are listening.
- It helps develop points further.

Stop talking!
- This guideline is both first and last, because all others depend on it.
- You cannot be an effective listener while you are talking.
- Nature gave people two ears but only one tongue, which is a gentle hint that they should listen more than they talk.
- Listening requires two ears, one for meaning and one for feeling.
- Decision makers who do not listen have less information for making sound decisions.

Dari “The McKinsey Way”: Make Your Boss Look Good!

Posted in Pencerahan by Efendi Arianto on June 24, 2007

If you make your boss look good, your boss will make you look good. That’s the quid pro quo of hierarchy.

In any hierarchical organization, the most important person in your world, day in day out, is your boss. When you work in teams, away from the main office, in a distant city or foreign country, that importance increases by an order of magnitude. Your boss may be the only person in your organization who can see you. You’d better make her happy. The best way to do that is to make her look good. (more…)

Comments Off

Dari “Mafia Manager”

Posted in Pencerahan by Efendi Arianto on June 8, 2007

Lebih baik seekor keledai yang mengangkut beban daripada seekor kuda yang melemparkan tuannya.

Sesekali dengarkan badut-badut; mungkin kita bisa menarik pelajaran berharga. Tetapi jangan sekali-kali mendebat mereka.

Jangan menghakimi orang lain berdasarkan apa yang kita dengar tentang mereka.

Rajawali tidak berburu lalat.

Jika anak panah lepas dari busurnya, dia tidak akan pernah kembali.

Yang membayar banyak dilayani dengan baik.

Percayailah orangnya, bukan sumpahnya.

Comments Off