Pertumbuhan Produksi Minyak Sawit Indonesia 1964-2007

Sumber gambar: www.pu.go.id
Industri kelapa sawit Indonesia telah tumbuh secara signifikan dalam empat puluh tahun terakhir. Sejak tahun 2006 Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Bersama dengan Malaysia, Indonesia menguasai hampir 90% produksi minyak sawit dunia.
Konsumen terbesar dunia adalah China, India dan Uni Eropa. Pada perkembangan mendatang, peningkatan konsumsi per kapita minyak makan di China dan India yang disertai dengan peningkatan jumlah penduduknya akan merupakan pasar utama minyak makan dunia. Kebijakan biofuel dan bioenergi juga akan membuat industri minyak sawit akan terus tumbuh secara signifikan. Sebagai produsen utama di tengah konstelasi industri minyak sawit dunia, maka sudah seharusnya industri minyak sawit Indonesia ditata agar dapat secara optimal dimanfaatkan berbasiskan sumber daya yang tersedia.
Indonesia, walaupun bukan tempat asal mula tanaman kelapa sawit, memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perkelapasawitan. Dimulai dengan penanaman empat pokok tanaman kelapa sawit di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848, tanaman kelapa sawit unggul menyebar ke seluruh dunia dan menjadi tanaman komersial sejak tahun 1911 (Mangoensoekarjo, et.al. 2005).
Perkembangan industri minyak sawit Indonesia memang luar biasa. Dengan mengacu pada data produksi dan ekspor CPO (crude palm oil) Indonesia dari tahun 1964 hingga tahun 2007, pertumbuhan produksi CPO Indonesia telah tumbuh secara eksponensial dan dapat dirumuskan sebagai:
Y = 110 * e ^ (0.1158 * X)
[R-sq = 0.9963]
Dimana:
Y = Jumlah produksi CPO dalam ribuan Metrik Ton
X = Selang waktu sejak tahun 1964 dalam tahun (untuk tahun 2007 maka selang waktu = 2007-1964 = 43)
Sementara itu, pertumbuhan ekspor CPO dapat dituliskan dalam persamaan berikut:
Y = 40 * e ^ (0.1306 * X)
[R-sq = 0.8703]
Dimana:
Y = Jumlah ekspor CPO dalam ribuan Metrik Ton
X = Selang waktu sejak tahun 1964 dalam tahun

Grafik Pertumbuhan Produksi dan Ekspor CPO Indonesia 1964-2007
Sumber: diolah dari data IMF
Tak pelak, industri minyak sawit telah menjadi salah satu industri primadona bagi Indonesia. Dengan jumlah ekspor tahunan yang saat ini mencapai lebih dari 14 juta ton CPO pertahun, maka dalam setahun ekspor CPO telah menghasilkan devisa lebih dari US$10 Milyar (rata-rata harga CPO US$750 per MT di tahun 2008).
Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak kelapa sawit (CPO – crude palm oil) dan inti kelapa sawit (PK – palm kernel) merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non-migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.
Berkembangnya sub-sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif. Terutama kemudahan dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan rakyat dengan pola PIR-Bun dan dalam perijinan pembukaan wilayah baru untuk areal perkebunan besar swasta.
Pada tahun 1996, pemerintahan Suharto merencanakan untuk mengalahkan Malaysia sebagai eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan cara memberikan berbagai kebijakan guna menambah luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Separuh dari luasan perkebunan kelapa sawit ini dialokasikan untuk perusahaan perkebunan swasta asing. Pengembangan perkebunan kelapa sawit terutama dibangun di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Irian Jaya. Pada tahun 2006, Indonesia telah mengungguli Malaysia sebagai produsen CPO terbesar di dunia.

Tabel Produsen CPO Dunia
leave a comment