Strategika!

Daya Saing Negara dan Perusahaan

Posted in Ekonomi, Strategi by efendi arianto on August 19, 2008


Sumber gambar: http://www.bax.fi

Ditulis oleh Efendi Arianto pada Aug 19, 2008. Silahkan mengutip dengan menyebutkan sumbernya.

Definisi Daya Saing bangsa/negara:

1. Himpunan faktor, kebijakan dan kelembagaan yang menentukan tingkat produktivitas suatu negara (World Economic Forum 2006)

2. Kapasitas bangsa untuk menghadapi tantangan persaingan pasar internasional dan tetap menjaga atau meningkatkan pendapatan riil-nya (Council of Competitiveness, Washington, DC, 2006)

Faktor-faktor yang perlu diperbaiki guna peningkatan daya saing Indonesia.

Sesuai dengan kerangka yang dibuat oleh IMD, faktor-faktor yang berperan dalam competitiveness adalah sebagaimana terdapat dalam Gambar berikut.


Sumber: http://www.imd.ch
Gambar 1. IMD Competitiveness Factors

ECONOMIC PERFORMANCE

Pemerintah harus mampu memperbaiki sinkronisasi dalam kebijakan perdagangan. Kebijakan saat ini cenderung memberikan tekanan pada jangka pendek dan kurang melihat ke dalam lingkup yang lebih luas. Kurangnya koordinasi dalam kebijakan tarif dan non-tarif berakibat pada ketidakjelasan posisi pemerintah dalam perdagangan internasional.

Dari sisi perdagangan internasional, sasaran kebijakan perdagangan internasional seyogyanya diarahkan untuk mempertahankan daya saing produk Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif dan melakukan spesialisasi pengembangan niche di sektor manufaktur serta mengembangkan keunggulan komparatif baru (termasuk di jasa-jasa seperti pariwisata dan ekspor tenaga kerja). Struktur produksi Indonesia perlu diarahkan ke industri yang bernilai lebih tinggi, seperti industri elektronika dan industri pengolahan lainnya; termasuk di antaranya adalah industri perkebunan seperti minyak sawit, karet, dan lainnya yang mengandalkan pada kekuatan sumber daya alam Indonesia.

GOVERNMENT EFFICIENCY

Berikut, beberapa langkah dan ranah yang dapat dilakukan dalam rangka efisiensi di level pemerintahan, peraturan, dan perundangan:

1. Mempercepat pengembalian PPN. Pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan pajak yang dikenakan pada barang-barang ekspor dapat menempuh waktu hingga satu tahun di Indonesia.

2. Menghilangkan inefisiensi pelabuhan. Waktu yang dihabiskan kapal-kapal di pelabuhan dapat jauh dikurangi. Tinjauan menyeluruh terhadap kendala birokrasi di pelabuhan dapatb dilakukan guna pembuatan rekomendasi bagi reformasi regulasi.

3. Menghilangkan korupsi di bea cukai. Meski Indonesia telah memulai langkah efisiensi dalam prosedur administrasi bea cukai, praktik korupsi telah mengurangi dampak yang dihasilkan. Korupsi juga dapat merupakan indikator kegagalan pemberantasan kegiatan penyelundupan.

4. Stabilisasi Rupiah. Nilai tukar yang stabil memberikan ‘kejelasan’ bagi pengusaha dalam perhitungan biaya dan penjualan.

5. Menghilangkan hambatan non-tariff pada impor. Meningkatnya hambatan non-tariff akan menaikkan biaya domestik, sehingga meningkatkan biaya untuk memproduksi barang ekspor yang tidak akan kompetitif di pasar global.

BUSINESS EFFICIENCY

Indonesia memerlukan kebijakan perdagangan yang sinkron dan konsisten, agar memperoleh manfaat dari pertumbuhan perdagangan dunia dalam rangka penciptaan lapangan kerja. Selama ini, kebijakan yang ditempuh terlalu terfokus pada pengaruh subsidi pertanian oleh negara-negara maju. Meski penghapusan subsidi ini sangat diharapkan, mereka bukanlah kendala utama bagi ekspor Indonesia. Sebaliknya, kebijakan yang diambil harus memfokuskan diri pada peningkatan akses pasar. Baik pasar negara maju maupun negara berkembang sama pentingnya sebagai negara tujuan ekspor Indonesia.

Praktek-praktek bisnis yang baik dan sesuai aturan perlu terus diupayakan agar produk barang dan jasa Indonesia tidak terhambat oleh berbagai aturan yang disepakati di tingkat global. Merupakan bagian dari tataran ini adalah penerapan Good Corporate Governance (GCG), pemberantasan praktek bisnis yang menyimpang, seperti korupsi, pungutan, dan sebagainya, yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi.

INFRASTRUCTURE

Lemahnya iklim investasi Indonesia disebabkan oleh serangkaian faktor. Akan tetapi, ketidakpastian kebijakan dan peraturan, korupsi, dan kualitas prasarana dinilai merupakan hal paling relevan bagi penanam modal. Meski Indonesia memiliki tarif pelabuhan yang relatif rendah, efisiensi sistem pelabuhannya buruk. Hampir seluruh lalu lintas barang dialihkan melalui Singapura dan Malaysia.

Di samping itu, perlu kebijakan untuk menunjang perkembangan prasarana, kebijakan pendidikan dan program riset dan pengembangan (R&D). Pemerintah harus mendorong peningkatan keterampilan tenaga kerja. Rendahnya keahlian tenaga kerja Indonesia dinilai sebagai salah satu hambatan bagi penanaman modal asing.

Daya Saing Perusahaan

Sementara itu, daya saing perusahaan berbeda dengan daya saing bangsa. Suatu perusahaan memiliki daya saing atau keunggulan kompetitif (competitive advantage) ketika perusahaan tersebut mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki pesaing, melakukan sesuatu lebih baik dari perusahaan lain, atau mampu melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh perusahaan lain.

Menurut Michael Porter terdapat dua tipe dasar dari keunggulan kompetitif, yaitu: cost advantage dan differentiation advantage. Suatu keunggulan kompetitif muncul ketika sebuah perusahaan dapat menghasilkan produk yang sama dengan yang dihasilkan pesaingnya dengan biaya yang lebih rendah (cost advantage), atau menghasilkan produk/jasa yang berbeda dan lebih baik dari yang dihasilkan pesaingnya (differentiation advantage). Keunggulan kompetitif akan memungkinkan perusahaan untuk menciptakan nilai lebih untuk pelanggannya dan perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.

Cost advantage dan Differentiation advantage dikenal sebagai positional advantage karena dapat menjelaskan posisi perusahaan dalam industri sebagai pemimpin dalam hal biaya (cost) ataupun dalam keunikannya (differentiation). Selain itu, ada pandangan yang melihat keunggulan kompetitif dari sudut pandang Kapabilitas (Capabilities) dan Sumberdaya (Resources) yang dimilikinya. Pandangan ini dikenal sebagai Resource-based View.

Gabungan dari pengelolaan yang baik atas Resources dan Capabilities, serta pemilihan untuk menjalankan Cost atau Differentiation advantage akan menghasilkan keunggulan kompetitif bagi perusahaan dalam menghadapi para pesaingnya. Gambar berikut menggabungkan pandangan resource-based dan positioning dalam menggambarkan keunggulan kompetitif perusahaan:


Sumber: diadopsi dari http://www.quickmba.com
Gambar 2. A Model of Competitive Advantage

Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Competitiveness

http://www.imd.ch/

http://www.worldcompetitiveness.com/online

http://www.quickmba.com

About these ads
Tagged with:

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. fahri said, on March 13, 2012 at 2:45 pm

    klo boleh tau apa nama judul buku dari Michael Porter ?
    berikan beserta daftar pustaka ?
    terima kasih =)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers

%d bloggers like this: